Sekolah Rakyat Kulonprogo Rampung 100 Persen Siap Sambut Siswa
Pembangunan prasarana fisik Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 1 Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dipastikan rampung 100 persen. Seluruh infrastruktur
Ilustrasi kekeringan - Foto dibuat oleh AI/StockCake
Harianjogja.com, KULONPROGO— Kekeringan kembali melanda Padukuhan Tirto, Kalurahan Hargotirto, Kapanewon Kokap, Kulonprogo. Penurunan debit sumber air setiap musim kemarau membuat warga harus menghadapi persoalan akses air bersih yang berulang. Tahun ini, kondisi tersebut mulai dirasakan sejak sekitar satu bulan terakhir dan membuat puluhan keluarga pengguna jaringan Pamsimas terdampak langsung.
Warga berharap penanganan kekeringan tidak hanya mengandalkan bantuan dropping air bersih selama musim kemarau. Mereka menginginkan solusi jangka panjang agar persoalan penurunan debit air yang selalu terjadi ketika kemarau dapat ditangani secara permanen.
Dukuh Tirto, Sarwandi, mengatakan Padukuhan Tirto dihuni sekitar 192 kepala keluarga (KK). Dari jumlah tersebut, sekitar 50 KK yang menggunakan jaringan Pamsimas mengalami dampak langsung akibat penurunan debit air.
Menurut Sarwandi, penurunan debit sumber air terjadi cukup drastis. Kondisi tersebut membuat kapasitas penampungan air atau ground tank Pamsimas tidak lagi terisi seperti kondisi normal.
"Di Padukuhan Tirto ada sekitar 192 KK. Khusus pengguna Pamsimas ada sekitar 50 KK yang terdampak langsung karena debit airnya turun tipis sekali. Dari kapasitas ground tank sekitar 20–22 kubik, sekarang dua hari sekali hanya bisa terisi kurang dari setengahnya atau sekitar 10.000 liter," terang Sarwandi.
Mengandalkan Empat Mata Air
Persoalan kekeringan di Padukuhan Tirto bukan kali pertama terjadi. Setiap musim kemarau panjang, debit sumber air di wilayah tersebut cenderung menurun sehingga warga mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih.
Selama ini, kebutuhan air warga Tirto bergantung pada empat titik mata air alami. Wilayah tersebut belum mengandalkan sumur bor sebagai sumber utama pasokan air bersih.
Kondisi itu membuat masyarakat cukup rentan ketika musim kemarau berlangsung panjang. Ketika debit mata air turun, kapasitas air yang masuk ke jaringan Pamsimas ikut berkurang.
Bantuan air bersih dari Pemerintah Kabupaten Kulonprogo pun dinantikan masyarakat untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari selama pasokan dari sumber mata air belum mencukupi.
Sarwandi berharap bantuan tersebut dapat dilakukan secara rutin selama kemarau. Namun, menurutnya, dropping air hanya menjadi solusi sementara dan belum menyelesaikan persoalan utama yang terus berulang setiap tahun.
Karena itu, dia mengusulkan pembangunan sumur bor sebagai salah satu alternatif sumber air permanen. Sumur tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk mengisi ground tank Pamsimas sehingga air dapat disalurkan melalui jaringan yang sudah tersedia.
"Harapan kami ada dua solusi. Solusi jangka pendek adalah pengiriman dropping air secara rutin selama kemarau. Untuk jangka panjang, kami sangat berharap adanya bantuan pembuatan sumur bor dari pemerintah. Nanti airnya bisa dimasukkan ke ground tank Pamsimas agar bisa dialirkan melalui jaringan yang sudah ada," jelasnya.
Pemkab Salurkan Bantuan Air
Untuk membantu masyarakat menghadapi kekeringan, jajaran Pemerintah Kabupaten Kulonprogo bersama paguyuban lurah se-Kulonprogo menyalurkan bantuan air bersih ke Padukuhan Tirto.
Penyaluran bantuan tersebut dikemas bersamaan dengan kegiatan touring menggunakan sepeda motor. Kegiatan tersebut disebut menjadi bagian dari upaya membangun sinergi dan kekompakan antara jajaran Pemkab Kulonprogo dengan para lurah.
Di sela kegiatan, bantuan sosial berupa air bersih diberikan kepada masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air selama musim kemarau.
Wakil Bupati Kulonprogo Ambar Purwoko mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk respons pemerintah terhadap keluhan masyarakat. Menurutnya, pejabat pemerintah harus mampu hadir dan berinteraksi langsung dengan warga tanpa sekat.
"Pejabat itu harus tidak ada sekat dan harus merakyat. Touring kebersamaan ini menjadi bukti kekompakan kita semua dalam merespons cepat keluhan masyarakat," tegas Ambar.
Bagi warga Padukuhan Tirto, bantuan air bersih tersebut menjadi penanganan penting di tengah menurunnya debit mata air. Namun, masyarakat berharap pemerintah dapat menindaklanjuti persoalan tersebut dengan pembangunan infrastruktur sumber air yang lebih permanen.
Dengan adanya sumber air tambahan seperti sumur bor, warga berharap ketergantungan terhadap dropping air setiap musim kemarau dapat dikurangi. Jaringan Pamsimas yang sudah tersedia juga dapat dimanfaatkan secara lebih optimal untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Kondisi kekeringan yang kembali terjadi menjadi pengingat bahwa penanganan krisis air bersih di wilayah rawan kekeringan membutuhkan langkah jangka pendek sekaligus perencanaan jangka panjang agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pembangunan prasarana fisik Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 1 Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dipastikan rampung 100 persen. Seluruh infrastruktur
Jelang HUT ke-81 RI, DPRD Bantul mengajak warga mengibarkan Merah Putih dan menjaga kondisi serta pemasangannya.
Pagar SDN Minomartani 2 di Ngaglik, Sleman, roboh saat jalan santai. Sebanyak 10 warga tertimpa dan dilarikan ke tiga rumah sakit.
Seskab Teddy mendorong anak putus sekolah kembali belajar melalui Sekolah Rakyat. Program ini disebut telah memberi akses pendidikan bagi 43.000 anak.
BGN mewajibkan ompreng MBG mencantumkan batas waktu konsumsi mulai pekan depan untuk memperkuat keamanan pangan dan mencegah keracunan.
Kekeringan kembali melanda Padukuhan Tirto, Kulonprogo. Warga berharap dropping air dan pembangunan sumur bor menjadi solusi jangka panjang.