Tatu Bawa Kisah Luka dan Cinta dari Perjanjian Giyanti

Anisatul Umah
Anisatul Umah Rabu, 12 Agustus 2026 14:57 WIB
Tatu Bawa Kisah Luka dan Cinta dari Perjanjian Giyanti

Kisah cinta, kesetiaan, dan luka pasca-Perjanjian Giyanti dihadirkan Kontingen Kabupaten Sleman melalui lakon Tatu dalam Festival Kethoprak DIY 2026. Pertunjukan yang digelar di Alun-Alun Sewandanan, Pura Pakualaman, pada 7-8 Agustus 2026 tersebut mengantarkan Sleman meraih Penyaji Terbaik I./Harian Jogja-Desi Suryanto

Kisah cinta yang kandas, kesetiaan yang diuji, hingga luka akibat konflik politik masa lalu menjadi cerita utama lakon Tatu yang dibawakan Kontingen Kabupaten Sleman dalam Festival Kethoprak DIY 2026. Pertunjukan di Alun-Alun Sewandanan, Pura Pakualaman, pada 7-8 Agustus 2026 tersebut mengantarkan Sleman meraih Penyaji Terbaik I.

Naskah Tatu ditulis Dicky Dwi Nurseta dan disutradarai Giang Bayu Tetuko. Lakon tersebut mengambil latar pasca-Perjanjian Giyanti dan menghadirkan kisah prajurit Pangeran Sambernyawa, Wintarsa, yang kembali setelah bertahun-tahun berperang demi menemui kekasihnya, Sekar.

Namun, kepulangan Wintarsa tidak serta-merta mengembalikan kisah cinta mereka seperti sebelumnya. Sekar yang terluka karena bertahun-tahun menanti kabar memilih menjalani hidup bersama Nurseta, sementara Wening diam-diam menyimpan cinta dan kesetiaan kepada Wintarsa.

Kepulangan Wintarsa Membuka Luka Lama

Pertentangan antara Pangeran Sambernyawa dan Pangeran Mangkubumi menjadi latar yang membawa luka bagi orang-orang yang berada di sekitar mereka. Kepulangan Wintarsa kemudian mempertemukannya kembali dengan Sekar setelah bertahun-tahun berpisah.

"Sekar, Sekar aku bali," [Sekar, Sekar aku pulang] ucap Wintarsa dengan suara gemetar.

Sekar terkaget-kaget melihat Wintarsa. "Kakang Wintarsa? Iki kowe tenan pa Kang [Ini benar-benar kamu, Kang]?”

Pertemuan itu menjadi salah satu adegan penting dalam Tatu. Wintarsa akhirnya kembali setelah bertahun-tahun membawa senjata bersama Kanjeng Pangeran Sambernyawa, sekaligus bertemu kembali dengan perempuan yang selama ini menantinya.

Wintarsa kemudian bertanya apakah Sekar masih mengingat dan menunggunya. Sekar menjawab dengan senyum getir bahwa dirinya telah menunggu bertahun-tahun, setiap malam dan setiap pagi.

Namun, Wintarsa tidak pernah datang. Penantian itu justru diisi kesepian, perkataan orang desa, tetesan air mata, dan luka.

Situasi berubah ketika Nurseta hadir. Ia menyindir Wintarsa sebagai pengikut Pangeran Sambernyawa yang selama ini dinanti kedatangannya oleh Sekar dari pagi hingga malam.

Wintarsa kemudian bertanya apakah Nurseta adalah orang yang telah merebut Sekar darinya. Nurseta membantah tudingan tersebut.

Wintarsa dan Nurseta Berhadapan di Medan Perang

Konflik antara keduanya akhirnya bermuara di medan perang. Takdir mempertemukan Wintarsa dan Nurseta ketika keduanya sudah berdiri di pihak berbeda.

Wintarsa mengikuti Pangeran Sambernyawa, sedangkan Nurseta mengikuti Pangeran Mangkubumi. Keduanya menyadari tidak ada jalan lain selain berhadapan sebagai orang-orang yang telah memilih kesetiaan berbeda.

Wintarsa mengatakan salah satu dari mereka akan tersungkur menghadap tanah pada hari itu. Pedang pun beradu.

Nurseta mengaku tidak menginginkan pertarungan tersebut terjadi. Namun, Wintarsa memintanya tidak menyesal. Baginya, seorang kesatria hanya dapat memilih cara kematiannya, tetapi tidak dapat memilih jalan hidupnya.

Perang Tidak Hanya Soal Menang dan Kalah

Sutradara Tatu, Giang Bayu Tetuko, mengatakan lakon tersebut ingin menunjukkan bahwa perang dan konflik politik tidak pernah berhenti pada persoalan menang atau kalah. Di balik konflik selalu ada manusia yang terluka, keluarga, cinta, persahabatan, serta pilihan hidup yang harus dikorbankan.

Karena itu, Tatu mengajak penonton melihat sejarah bukan hanya sebagai peristiwa masa lalu, melainkan sebagai luka kemanusiaan yang dapat terus membekas dan diwariskan.

"Karena bagi kami, luka adalah titik temu antara sejarah dan manusia. Perang mungkin terjadi karena kepentingan politik, tetapi dampaknya dirasakan oleh manusia biasa," ujarnya, Selasa (11/8).

Menurut Giang, cinta membuat konflik menjadi lebih personal. Sementara pilihan hidup menunjukkan setiap tokoh memiliki konsekuensi yang harus ditanggung.

Ia mengatakan tidak ingin menghadirkan perang sekadar sebagai adegan peperangan. Konflik justru ditampilkan sebagai sesuatu yang mengubah kehidupan manusia.

Tatu mengambil semangat dan dampak dari sejarah, bukan sekadar memindahkan peristiwa sejarah ke atas panggung. Perjanjian Giyanti menjadi pintu masuk untuk membicarakan perpecahan, kepentingan, loyalitas, serta bagaimana keputusan politik dapat meninggalkan luka pada manusia.

"Persoalan seperti itu masih sangat relevan sampai sekarang. Dengan pendekatan drama personal, penonton bisa melihat bahwa di balik keputusan besar selalu ada manusia yang harus menerima akibatnya," lanjutnya.

Empat Tokoh Dibangun dengan Luka dan Pilihan

Giang menjelaskan keempat tokoh dalam Tatu dibangun sebagai individu yang utuh, bukan sekadar bagian dari konflik sejarah. Masing-masing memiliki luka, keinginan, kepentingan, serta pilihan hidup sendiri.

Kekuatan personal setiap tokoh menjadi salah satu aspek yang dijaga dalam pertunjukan. Menurut Giang, ketika setiap individu memiliki alasan kuat atas pilihannya, konflik dapat tumbuh secara alami.

"Bagi kami, sejarah yang besar justru menjadi kuat ketika diturunkan menjadi persoalan manusia," katanya.

Riset Sejarah Jadi Fondasi Lakon

Penggarapan Tatu tidak hanya mengandalkan kreativitas di atas panggung. Proses penciptaannya diawali dengan riset sejumlah sumber sejarah mengenai Perjanjian Giyanti, Mangkubumi, Sambernyawa, serta situasi politik dan sosial pada masanya.

Giang menegaskan Tatu bukan kisah nyata dalam pengertian dokumenter atau biografi tokoh tertentu. Karya tersebut merupakan karya dramatik yang menggunakan konteks sejarah sebagai pijakan, kemudian mengembangkan tokoh dan konflik personal untuk kebutuhan panggung.

"Kami membedakan antara fakta sejarah sebagai fondasi dan fiksi dramatik sebagai cara menyampaikan pesan kepada penonton. Prosesnya berlangsung cukup intens. Setelah konsep dan naskah terbentuk, kami melakukan latihan secara bertahap, mulai dari pembacaan naskah, pendalaman karakter, blocking, musik, artistik, sampai latihan gabungan dan gladi bersih," ujarnya menceritakan pertunjukan yang berlangsung selama kurang lebih 45 menit ini.

Proses tersebut kemudian membawa Kontingen Kabupaten Sleman meraih Penyaji Terbaik I dalam Festival Kethoprak DIY 2026. Giang mengaku bersyukur atas capaian tersebut, meski menurutnya kemenangan bukan berarti proses penggarapan Tatu sudah sempurna.

Evaluasi tetap diperlukan, terutama untuk menjaga konsistensi energi pemain, ketepatan tempo, kedalaman emosi, serta komunikasi antara aktor dengan unsur artistik dan musik.

"Ada beberapa bagian yang masih bisa diperhalus, terutama transisi antaradegan dan menjaga agar emosi tidak turun di tengah pertunjukan. Ke depan, kami ingin mempertahankan kekuatan Tatu secara emosional, tetapi membuat pertunjukannya semakin matang, efektif, dan terukur."

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online