MBG di DIY Bukan Sekadar Makan Gratis, Edukasi Gizi Jadi Kunci

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jum'at, 28 Agustus 2026 23:17 WIB
MBG di DIY Bukan Sekadar Makan Gratis, Edukasi Gizi Jadi Kunci

Pelaksanaan edukasi gizi di sekolah pada 26-28 Agustus 2026.ist

Harianjogja.com, JOGJA—Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) didorong tidak berhenti pada pembagian makanan kepada penerima manfaat. Edukasi mengenai gizi seimbang, pola makan sehat, kebersihan, hingga keamanan pangan dinilai menjadi bagian penting agar manfaat program dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Dukungan terhadap penguatan edukasi tersebut disampaikan Budi Waljiman menyusul pelaksanaan edukasi gizi secara serentak oleh seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di DIY pada 26-28 Agustus 2026.

Menurut Budi, keberhasilan MBG tidak cukup hanya dilihat dari berapa banyak makanan yang diproduksi dan didistribusikan. Program tersebut juga perlu memberikan pengetahuan kepada penerima manfaat agar mereka memahami alasan di balik menu yang disajikan serta mampu menerapkan pola makan sehat dalam kehidupan sehari-hari.

“Program MBG harus dipahami sebagai investasi untuk membangun generasi yang sehat dan berkualitas. Makanan yang diberikan bukan hanya untuk dikonsumsi, tetapi juga menjadi sarana edukasi agar penerima manfaat memahami pentingnya gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Budi Waljiman, Jumat (28/8/2026)

Ia menilai pengetahuan tentang gizi menjadi bekal penting, khususnya bagi anak-anak dan peserta didik. Pemahaman tersebut diharapkan tidak berhenti di lingkungan sekolah, tetapi dapat dibawa ke rumah dan diterapkan bersama keluarga.

Dengan demikian, program MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan penerima manfaat pada saat kegiatan berlangsung, tetapi juga berpotensi membentuk kebiasaan makan yang lebih sehat.

Edukasi Jadi Bagian Penting MBG

Koordinator Regional Badan Gizi Nasional DIY Wirandita Gagat Widyatmoko sebelumnya mengatakan edukasi gizi merupakan bagian strategis dalam pelaksanaan MBG. Edukasi menyasar ekosistem penerima manfaat, mulai dari peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan hingga pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan program.

Menurut Budi, pendekatan tersebut penting karena makanan bergizi akan memberikan dampak lebih besar apabila penerima manfaat mengetahui kandungan serta manfaat makanan yang mereka konsumsi.

“Ketika penerima manfaat memahami kandungan dan manfaat makanan yang dikonsumsi, maka dampak Program MBG akan menjadi lebih besar. Pengetahuan itu dapat diterapkan secara mandiri, bahkan setelah mereka tidak lagi berada dalam kegiatan makan bersama,” jelasnya.

Ia berharap edukasi gizi dilakukan secara konsisten dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Dengan cara tersebut, materi mengenai gizi tidak sekadar menjadi informasi, tetapi dapat mendorong perubahan perilaku.

Materi edukasi dapat mencakup pengenalan makanan bergizi seimbang, pentingnya konsumsi makanan beragam, kebersihan diri, keamanan pangan, serta kebiasaan hidup bersih dan sehat.

SPPG Tak Hanya Distribusikan Makanan

Pelaksanaan edukasi gizi juga memperkuat posisi SPPG sebagai bagian penting dalam ekosistem MBG. SPPG tidak hanya menjalankan fungsi penyediaan dan distribusi makanan, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk edukasi mengenai pangan dan gizi kepada masyarakat.

Budi menilai penguatan peran tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan. Setiap menu yang diberikan dapat menjadi media untuk memperkenalkan kandungan gizi dan manfaat bahan pangan kepada penerima manfaat.

“Memberikan makanan bergizi harus berjalan bersama dengan memberikan pemahaman mengenai nilai gizi makanan tersebut. Dengan begitu, penerima manfaat tidak hanya mendapatkan makanan, tetapi juga mendapatkan pengetahuan yang bisa mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Edukasi tersebut juga dinilai dapat memperluas dampak MBG hingga lingkungan keluarga. Peserta didik yang mendapatkan pengetahuan di sekolah dapat membagikannya kepada orang tua maupun anggota keluarga lainnya.

Dorong Kolaborasi

Budi berharap pelaksanaan edukasi gizi di seluruh SPPG DIY dapat berjalan konsisten dan memberikan dampak nyata. Menurutnya, keberhasilan MBG membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pengelola SPPG, sekolah, tenaga pendidik, keluarga hingga masyarakat.

Pengawasan juga diperlukan agar penyelenggaraan program berjalan sesuai dengan tujuan, termasuk dalam aspek kualitas makanan, kebersihan, keamanan pangan dan edukasi kepada penerima manfaat.

“Dukungan terhadap MBG bukan hanya ditunjukkan dengan menerima makanan yang dibagikan, tetapi juga dengan menjaga kualitas pelaksanaan program dan menerapkan pengetahuan gizi dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Budi.

Ia berharap MBG di DIY pada akhirnya tidak hanya menjadi program pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pola makan sehat.

“Dengan cara itu, MBG dapat benar-benar mendukung terwujudnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif,” katanya.

Pelaksanaan edukasi gizi pada 26-28 Agustus 2026 pun menjadi momentum untuk memperkuat pesan bahwa makanan bergizi dan pengetahuan tentang gizi merupakan dua hal yang saling melengkapi. Ketika keduanya berjalan bersama, manfaat MBG diharapkan dapat dirasakan lebih luas dan berkelanjutan oleh masyarakat DIY.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online