Gelar Aksi di Malioboro, Mahasiswa Jogja Desak RUU Perampasan Aset Disahkan
Mahasiswa Forum BEM DIY menggelar aksi di Malioboro dan mendesak RUU Perampasan Aset disahkan serta drafnya dibuka ke publik.
Foto ilustrasi Apel dan Gelar Pasukan Badan SAR Nasional Yogyakarta./Humas Basarnas DIY
Harianjogja.com, JOGJA—Kesiapan penanggulangan bencana di DIY mendapat sorotan DPRD DIY, mulai dari pemanfaatan teknologi, koordinasi antarinstansi, hingga kapasitas personel dan relawan. Penguatan dinilai penting karena DIY memiliki karakter bencana yang beragam sehingga membutuhkan respons pencarian dan pertolongan yang cepat serta terkoordinasi.
Wakil Ketua Komisi A DPRD DIY, Hifni Muhammad Nasikh, mengatakan kesiapan menghadapi bencana tidak cukup hanya mengandalkan respons ketika kejadian berlangsung. Berbagai kebutuhan dalam operasi pencarian dan pertolongan perlu dipetakan untuk menjadi bagian dari penguatan kebijakan penanggulangan bencana di DIY.
“Kami ingin melihat apa saja yang telah dipersiapkan Basarnas ketika terjadi bencana. DIY memiliki potensi bencana yang cukup besar sehingga kesiapan dan pemanfaatan teknologi perlu diperkuat untuk mempercepat pencarian serta pertolongan korban,” kata Hifni, Senin (31/8/2026).
Koordinasi Basarnas dan Instansi Lain Perlu Diperjelas
Selain sarana, Komisi A DPRD DIY menilai pembagian peran setiap lembaga dalam operasi penyelamatan perlu diperjelas. Hal tersebut mencakup hubungan kerja Basarnas dengan BPBD, TNI, Polri, pemerintah daerah, maupun sukarelawan ketika kondisi darurat terjadi.
Anggota Komisi A DPRD DIY, Radjut Sukasworo, mengatakan mekanisme keterlibatan masing-masing unsur perlu diatur secara jelas agar operasi rescue tidak mengalami tumpang tindih.
Kejelasan mekanisme tersebut sekaligus dinilai penting untuk memperkuat substansi Raperda Penanggulangan Bencana DIY yang saat ini masih dibahas legislatif.
“Ini yang perlu diperjelas, kapan Basarnas hadir untuk melakukan rescue dan bagaimana koordinasinya. Ini penting untuk memperkuat Raperda kami yang saat ini masih dalam pembahasan,” ujar Radjut.
Basarnas Jogja Punya 117 Personel
Kepala Basarnas Jogja, Rio Banupanitis, mengungkapkan Kantor SAR Yogyakarta saat ini memiliki 117 personel. Namun, jumlah tersebut belum memenuhi kebutuhan ideal untuk seluruh pos atau unit siaga.
Menurut Rio, setiap pos atau unit siaga idealnya memiliki sedikitnya 20 personel. Selain personel, Basarnas DIY juga masih membutuhkan tambahan alat utama dan perlengkapan rescue untuk menunjang operasi di berbagai medan.
Keterbatasan peralatan juga terjadi dalam operasi SAR di laut. Basarnas DIY belum memiliki peralatan yang mampu digunakan untuk menjalankan operasi pencarian dan pertolongan di tengah laut, termasuk untuk menangani kejadian di kawasan pantai selatan.
“Kantor SAR Yogyakarta belum memiliki alut air yang bisa melaksanakan operasi SAR di Pantai Selatan. Alutnya ada, tetapi untuk melaksanakan operasi SAR di tengah laut belum bisa,” jelas Rio.
Basarnas Jadi Leading Sector Pencarian dan Pertolongan
Dalam kondisi tanggap darurat, Basarnas menjadi leading sector pada klaster pencarian dan pertolongan. Meski demikian, operasi di lapangan tetap melibatkan potensi SAR dari berbagai unsur karena Basarnas tidak dapat bekerja sendiri.
“Kami tidak bisa bekerja sendirian. Potensi SAR yang ada di Jogja selalu hadir di lokasi kedaruratan dan selalu berkoordinasi serta bekerja bersama,” ujar Rio.
Kondisi tersebut membuat koordinasi antarpihak menjadi bagian penting dalam pelaksanaan operasi SAR. DPRD DIY sebelumnya menilai pembagian peran setiap unsur perlu diperjelas agar operasi penyelamatan dapat berjalan tanpa tumpang tindih.
Kapasitas Sukarelawan dan Keselamatan Alat SAR
Komisi A DPRD DIY juga menyoroti kapasitas sukarelawan yang menjadi salah satu unsur pendukung penanganan keadaan darurat. Peningkatan kemampuan sukarelawan dinilai perlu disertai pemahaman mengenai prosedur dan standar keselamatan dalam penggunaan peralatan SAR.
Basarnas membuka kesempatan pembelajaran bersama bagi para sukarelawan untuk meningkatkan kemampuan mereka. Namun, penggunaan peralatan Basarnas tetap mensyaratkan proses familiarisasi agar pengoperasiannya sesuai dengan standar keselamatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Mahasiswa Forum BEM DIY menggelar aksi di Malioboro dan mendesak RUU Perampasan Aset disahkan serta drafnya dibuka ke publik.
Pasar tradisional Bantul menghadapi penurunan aktivitas. Pemkab menggerakkan ASN berbelanja setiap Jumat untuk menghidupkan ekonomi pasar.
Hutan lereng Merapi sisi selatan memiliki medan lebat dan terjal. Tim SAR mengimbau warga tidak masuk hutan seorang diri.
Budi Gunadi Sadikin mengungkap alasan maju sebagai calon Dirjen WHO atas amanah Presiden Prabowo Subianto. Ini tahapan pemilihannya.
Ondrej Rudzan membidik starting XI PSIM Jogja. Bek Republik Ceko itu siap bermain di posisi apa pun demi membantu tim meraih kemenangan.
DPRD DIY menyoroti kesiapan SAR menghadapi bencana. Basarnas Jogja memiliki 117 personel dan belum punya alut untuk operasi SAR di tengah laut.