Bimbel di Jogja Kebanjiran Peminat, Persaingan Sekolah Makin Ketat

Ariq Fajar Hidayat
Ariq Fajar Hidayat Jum'at, 04 September 2026 20:47 WIB
Bimbel di Jogja Kebanjiran Peminat, Persaingan Sekolah Makin Ketat

Ilustrasi bimbingan belajar/Magnific

Harianjogja.com, JOGJA—Persaingan masuk sekolah favorit membuat bimbingan belajar (bimbel) di Jogja kembali kebanjiran peminat. Kondisi ini semakin terasa sejak Tes Kemampuan Akademik (TKA) mulai diberlakukan pada 2025 dan menjadi salah satu penentu dalam proses masuk sekolah favorit.

Lonjakan peserta didik terutama terlihat pada jenjang SD dan SMP. Lembaga bimbel melihat orang tua semakin aktif mencari tambahan pembelajaran untuk mempersiapkan anak menghadapi mata pelajaran yang berkaitan dengan TKA dan TKAD.

Peserta Bimbel SD dan SMP Naik Dua Kali Lipat

Geliat tersebut salah satunya terlihat di Ganesha Operation (GO), lembaga bimbel yang tersebar di berbagai daerah, termasuk DIY. Kepala Cabang GO Jogja, Dwi Fahruddin, mengatakan peningkatan paling terasa pada peserta didik jenjang SD dan SMP.

"Sejak adanya TKA geliat bimbel untuk SD dan SMP itu naik lagi. Orang tua benar-benar mencari tambahan untuk putra-putrinya, terutama untuk mata pelajaran yang masuk TKA dan TKAD," kata Dwi saat ditemui di Ganesha Operation Kotabaru, Jogja, Jumat (4/9/2026).

Menurut Dwi, jumlah peserta didik di GO bahkan meningkat hingga sekitar dua kali lipat pada sejumlah jenjang. Peserta SD yang sebelumnya berada di kisaran 500 siswa kini dapat mencapai 1.000 siswa, sedangkan peserta SMP yang sebelumnya sekitar 800 siswa juga meningkat hingga dua kali lipat.

Persaingan tersebut terutama terlihat ketika siswa membidik sekolah yang dianggap menjadi tujuan favorit. Untuk jenjang SMP, misalnya, sekolah yang dikejar antara lain SMP Negeri 5 atau SMP Negeri 8, sedangkan pada jenjang SMA terdapat SMA Negeri 3, SMA Negeri 8, dan SMA Negeri 1.

"Antusiasme orang tua dalam mengejar agar anak-anaknya bisa masuk sekolah yang diinginkan memang luar biasa. Untuk SD ke SMP, yang dikejar misalnya SMP Negeri 5 atau SMP Negeri 8, sedangkan untuk SMA ada SMA Negeri 3, SMA Negeri 8, dan SMA Negeri 1," ujarnya.

Meningkatnya permintaan juga mendorong GO menambah kapasitas pembelajaran. Gedung GO di Jalan Tamansiswa yang sebelumnya hanya memiliki empat ruang kelas kini diperluas menjadi delapan ruang dan masih memungkinkan dikembangkan hingga 10 kelas.

"Penambahan kelas pasti, bahkan penambahan gedung. Yang di Jalan Tamansiswa tadinya hanya empat kelas, sekarang sudah menjadi dua kali lipat, delapan kelas, bahkan bisa sampai 10 kelas," katanya.

Zonasi Membuat Persaingan Jalur Prestasi Makin Ketat

Fenomena serupa dirasakan Primagama. Branch Manager New Primagama Cokroaminoto, Rini Permatasari, mengatakan animo masyarakat terhadap bimbel meningkat, terutama karena persaingan mendapatkan sekolah melalui jalur nilai semakin terasa setelah adanya TKA.

Menurut Rini, sistem zonasi membuat siswa tidak bisa begitu saja memilih sekolah negeri yang diinginkan berdasarkan lokasi tempat tinggal. Jalur prestasi kemudian menjadi salah satu alternatif, tetapi persaingannya menjadi semakin ketat karena peserta tidak hanya berasal dari wilayah sekitar sekolah.

"Kalau dulu nilainya bagus, masuk SMA mana saja bisa. Sekarang ada zonasi, sehingga anak yang rumahnya di sini belum tentu bisa masuk SMA 3 kecuali melalui jalur prestasi, dan saingannya juga bisa dari luar daerah," ujar Rini saat ditemui di New Primagama Cokroaminoto, Kamis (3/9/2026).

Perhatian orang tua terhadap pendidikan ikut memperkuat tingginya permintaan bimbel. Sebagian orang tua juga memilih memberikan tambahan pembelajaran karena keterbatasan waktu untuk mendampingi anak belajar di rumah setelah menjalani aktivitas kerja.

Respons peserta terhadap program Primagama turut menunjukkan tingginya kebutuhan tersebut. Rini mencontohkan agenda try out yang digelar cabangnya hampir penuh hanya dalam waktu dua hari sejak pendaftaran dibuka, meski kegiatan tersebut baru berupa try out dan bukan program bimbingan belajar reguler.

"Orang tua merasa anak masih membutuhkan tambahan belajar. Banyak juga yang tidak punya waktu untuk mendampingi anak di rumah karena sudah pulang kerja dan materi pembelajaran sekarang mungkin tidak semuanya bisa mereka ikuti," tuturnya.

Siswa SMA Mulai Punya Target Belajar Sendiri

Jika peserta SD dan SMP masih banyak dipengaruhi dorongan orang tua, kondisi berbeda terlihat pada jenjang SMA. Rini mengatakan peserta SMA menjadi salah satu kelompok dengan jumlah peserta paling banyak di Primagama karena mereka mulai mempersiapkan diri untuk masuk perguruan tinggi.

Primagama juga mengarahkan peserta untuk memiliki target personal, bukan hanya mengikuti persaingan dengan siswa lain. Pendekatan itu dilakukan melalui asesmen awal, pemetaan kemampuan, hingga penyusunan target belajar.

Dengan pendekatan tersebut, siswa diharapkan memahami alasan di balik proses belajar yang mereka jalani, bukan sekadar mengejar nilai atau mengalahkan peserta lain.

"Yang kami bangun bukan hanya anak belajar, kemudian pulang dan selesai. Kami ingin anak sadar dengan targetnya masing-masing dan memahami proses yang harus dijalani untuk mencapai target tersebut," kata Rini.

Disdikpora DIY Ingatkan Jangan Bebani Anak

Kepala Disdikpora DIY, Raden Suci Rohmadi, menilai meningkatnya perhatian orang tua terhadap pendidikan merupakan hal positif. Fenomena itu menunjukkan pendidikan masih dipandang masyarakat Jogja sebagai investasi penting bagi masa depan anak.

Meski demikian, Suci mengingatkan agar persiapan menghadapi seleksi sekolah maupun perguruan tinggi tidak berubah menjadi tekanan berlebihan bagi peserta didik. Pendidikan, menurutnya, tidak semata-mata ditentukan oleh nilai akademik maupun keberhasilan masuk sekolah tertentu.

"Yang tidak kalah penting adalah karakter, kemandirian, kreativitas, kemampuan beradaptasi, dan bagaimana anak merasa nyaman serta berkembang dalam proses belajarnya. Kami berharap orang tua memilih sekolah dengan melihat potensi, minat, bakat, dan kebutuhan anak," kata Suci.

Dengan demikian, meningkatnya peminat bimbel di Jogja tidak hanya mencerminkan ketatnya persaingan masuk sekolah favorit. Di balik tren tersebut, terdapat pula kebutuhan untuk memastikan persiapan akademik tetap berjalan seimbang dengan perkembangan karakter, minat, bakat, kemandirian, kreativitas, serta kenyamanan anak dalam belajar.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online