Malioboro Full Pedestrian Dinilai Perkuat Daya Saing Jogja

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Kamis, 17 September 2026 05:17 WIB
Malioboro Full Pedestrian Dinilai Perkuat Daya Saing Jogja

Wisatawan berkunjung ke kawasan Malioboro, Senin (31/8/2026). Anisatul Umah-Harian Jogja.

Harianjogja.com, JOGJA—Penerapan Malioboro sebagai kawasan full pedestrian dinilai bukan sekadar perubahan fungsi jalan, tetapi bagian dari penataan kawasan dalam jangka panjang. DPRD Kota Jogja menilai kebijakan tersebut dapat memperkuat identitas Malioboro sekaligus meningkatkan daya saing kawasan wisata itu.

Ketua DPRD Kota Jogja FX. Wisnu Sabdono Putro mengatakan penerapan full pedestrian di Malioboro telah melalui sejumlah kajian dan melibatkan berbagai unsur sebelum dijalankan.

Menurut Wisnu, penataan Malioboro tidak cukup dilihat hanya dari sisi ekonomi. Kawasan tersebut juga mempunyai nilai sejarah dan budaya sebagai bagian dari Sumbu Filosofis Jogja yang telah diakui UNESCO.

“Penerapan pedestrian dipilih sebenarnya untuk menjadikan Malioboro semakin berdaya saing. Malioboro memiliki identitas dan ciri khas yang unik serta tidak dimiliki oleh wilayah lain di manapun,” katanya, Rabu (16/9/2026).

Akses Pelaku Usaha Tetap Diperhatikan

Wisnu menilai penataan kawasan pedestrian harus tetap memberikan ruang akses bagi pelaku usaha dan masyarakat. Pemkot Jogja bersama Pemda DIY juga masih membuka ruang untuk menerima berbagai masukan selama proses menuju penerapan pedestrian secara penuh.

Dia mengatakan manfaat penerapan full pedestrian tidak dapat langsung diukur dalam waktu singkat. Berbagai tahapan telah dilakukan secara bertahap, mulai dari penyiapan infrastruktur, manajemen dan rekayasa lalu lintas hingga uji coba.

“Dari tahapan-tahapan itu pun muncul banyak masukan. Jadi, seperti apa manfaat full pedestrian itu nantinya, tidak bisa kita lihat secara instan,” ujarnya.

Dari perspektif tata kota, Wisnu melihat perubahan kondisi Malioboro sudah terasa dibandingkan ketika sisi timur Jalan Malioboro masih digunakan sebagai area parkir kendaraan bermotor.

Sebagai ruang publik, Malioboro kini dinilai lebih terbuka dan tertata. Kondisi tersebut menurutnya perlu dipertahankan sehingga Malioboro tidak hanya berfungsi sebagai pusat aktivitas wisata dan ekonomi, tetapi juga menjadi ruang publik yang nyaman bagi masyarakat.

Malioboro Diharapkan Ramah bagi Semua

Wisnu mengatakan perubahan kawasan Malioboro juga berkaitan dengan upaya menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan aman bagi masyarakat.

“Kemajuan suatu daerah itu sebenarnya dilihat dari bagaimana wilayah tersebut mampu memanusiakan manusia. Malioboro yang bebas dari asap kendaraan dan asap rokok tentu menjadi modal besar terhadap terwujudnya lingkungan yang nyaman dan aman bagi siapa pun,” katanya.

Dia berharap seluruh pihak ikut menjaga hasil penataan Malioboro. Kawasan tersebut diharapkan tetap menjadi ruang publik yang ramah bagi seluruh masyarakat sekaligus mempertahankan nilai budaya dan sejarah yang melekat di dalamnya.

“Malioboro harus ramah bagi semua orang, sebagai kawasan yang memiliki nilai budaya, beradab dan berdaya saing,” ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online