Cak Nun hingga Eross Sheila on 7 Ada di Buku MUHI untuk Negeri

Sunartono
Sunartono Rabu, 23 September 2026 20:22 WIB
Cak Nun hingga Eross Sheila on 7 Ada di Buku MUHI untuk Negeri

Penulis buku dan alumni MUHI dalam lanching Buku MUHI untuk Negeri. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA— Perjalanan 77 tahun SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (MUHI) kini diabadikan dalam sebuah buku berjudul MUHI untuk Negeri: Sejarah, Alumni, Sumbangsih. Buku tersebut merangkum sejarah sekolah, pengalaman, prestasi, hingga kontribusi para alumni di berbagai bidang.

Buku yang diterbitkan LaksBang Akademika tersebut merupakan hasil kerja bersama Ikatan Alumni SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (IKAMUHI) dan MUHI. Buku dijadwalkan terbit pada September 2026 sebagai upaya merawat ingatan kolektif tentang perjalanan salah satu lembaga pendidikan Muhammadiyah di Yogyakarta.

Buku setebal xxviii, 418 halaman dengan ukuran 21 x 29 sentimeter tersebut berisi dokumentasi sejarah sekolah, perjalanan alumni, serta berbagai bentuk sumbangsih mereka bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Sejumlah nama populer alumni MUHI turut dimuat dalam buku tersebut. Mereka antara lain budayawan Emha Ainun Nadjib, musisi Ebiet G Ade dan Eross Sheila on 7, Bupati Ngawi Ony Harsono, akademisi Fathul Wahid, serta sutradara Fajar Nugros.

Ketua Umum IKAMUHI Ida Pujiastuti, yang juga alumni MUHI 1984, mengatakan buku tersebut bukan sekadar kumpulan tulisan. Menurutnya, buku itu menjadi rekaman memori untuk merajut kembali kenangan sekaligus refleksi perjuangan MUHI, guru, dan para alumninya.

“Melalui lembaran buku ini, kita diajak untuk tidak melupakan akar sejarah dan perjuangan para pendiri serta guru-guru kita terdahulu. Buku ini juga merangkum kisah inspiratif dari beberapa alumni yang telah menorehkan prestasi di berbagai bidang. Ini menjadi bukti nyata bahwa bangku-bangku kelas MUHI berhasil menempa generasi yang unggul dan berdampak bagi masyarakat bangsa dan negara,” tutur Ida dalam rilisnya, Rabu (23/9/2026).

Ditulis Empat Jurnalis

Buku MUHI untuk Negeri ditulis oleh empat jurnalis, yakni Fernan Rahadi, jurnalis Republika sekaligus alumni MUHI 2003; Arif Koes Hernawan, mantan jurnalis Gatra yang kini menjadi penulis lepas; Latief Noor Rochmans, jurnalis Kedaulatan Rakyat; serta Rahajeng Kartika Anindita Pramesi, jurnalis Beritajatim.

Ketua Tim Penulis, Fernan Rahadi, menuturkan proses penyusunan buku berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Tim penulis menghubungi para alumni, melakukan wawancara, mengumpulkan dokumentasi, hingga menyajikannya dalam artikel yang menarik.

"Namun tidak semuanya berjalan mulus, ada nomor telepon yang tak dapat dihubungi, narasumber yang tak bisa ditemui, hingga alumni yang enggan diwawancarai dan dipublikasikan. Dalam pengumpulan foto-foto pun tak kalah tantangannya, perburuan foto berlangsung hingga akhir tenggat naik cetak," jelas dia, usai

Lebih dari 120 narasumber diwawancarai untuk menyusun buku tersebut. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari alumni, kepala sekolah dan guru, mantan kepala sekolah dan mantan guru, pembina kegiatan ekstrakurikuler, pegiat sekolah, hingga keluarga dari sejumlah tokoh yang pernah menjadi bagian dari perjalanan MUHI.

Rentang alumni yang menjadi narasumber juga mencakup lebih dari enam dekade. Hampir seluruh angkatan mendapat ruang dalam proses pengumpulan cerita, mulai dari lulusan 1963 hingga lulusan 2025.

Alumni tertua yang diwawancarai adalah Siti Hadiroh, lulusan 1963. Dalam proses penyusunan buku, Siti Hadiroh meninggal dunia.

Para alumni dipilih dengan mempertimbangkan kontribusi mereka di berbagai bidang. Selain kiprah di tingkat lokal maupun nasional, tim penyusun juga mempertimbangkan keterwakilan bidang serta prestasi para alumni, termasuk rekomendasi dan data dari pihak MUHI untuk alumni generasi muda.

Proses penyusunan buku tersebut berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Tim penulis harus menghubungi satu per satu narasumber, melakukan wawancara, mengumpulkan dokumentasi, serta menyusun cerita menjadi tulisan yang dapat dibaca lintas generasi.

Merawat Ingatan Perjalanan MUHI

Di balik proses panjang tersebut, buku MUHI untuk Negeri tidak sekadar dimaksudkan sebagai catatan sejarah sekolah. Buku ini juga menjadi dokumentasi mengenai bagaimana pendidikan membentuk perjalanan hidup para alumninya.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menilai upaya mendokumentasikan sejarah lembaga pendidikan memiliki arti penting dalam menjaga ingatan kolektif.

"Sejarah sebuah lembaga pendidikan akan kehilangan maknanya jika tidak dirawat dan diwariskan," kata Haedar Nashir.

Menurutnya, buku tersebut menjadi bagian dari kerja penting IKAMUHI dan MUHI dalam merekam, merawat, sekaligus mewariskan perjalanan panjang MUHI kepada generasi sekarang dan mendatang.

Sementara itu, Kepala Sekolah MUHI Herynugroho menyebut buku tersebut merekam sebagian perjalanan panjang sekolah, termasuk pengalaman, perjuangan, dan cerita yang dianggap memiliki makna bagi keluarga besar MUHI.

Ia berharap buku tersebut dapat menjadi kenangan sekaligus sumber inspirasi bagi generasi MUHI untuk terus berprestasi dan berkembang.

Pandangan mengenai masa depan MUHI juga disampaikan Busyro Muqoddas, Ketua KPK RI periode 2010-2011 sekaligus alumni MUHI 1971.

Menurut Busyro, sejarah panjang MUHI menjadi modal untuk menghadapi tantangan pendidikan pada masa kini, termasuk perubahan sosial yang dihadapi generasi Z.

Ia berharap keberadaan buku tersebut turut memperkuat peran alumni dalam mewujudkan MUHI Reborn, yakni MUHI yang kembali pada hakikatnya sebagai institusi yang melahirkan calon pemimpin bangsa dan pembelajar yang terus menuntut ilmu dengan tetap menjunjung kemuliaan akhlak.

Memuat Tokoh dari Berbagai Bidang

Selain memuat sejarah dan profil alumni, buku MUHI untuk Negeri juga menghadirkan sejumlah sosok yang dinilai memiliki kiprah menonjol di bidang masing-masing.

Mereka disebut sebagai Tokoh MUHI karena dinilai telah mencapai puncak kiprah di bidangnya serta memberikan kontribusi di berbagai sektor kehidupan bangsa.

Buku ini tidak hanya berbicara mengenai masa lalu. Kisah para alumni dan perjalanan sekolah di dalamnya juga menjadi gambaran mengenai bagaimana sebuah lembaga pendidikan membangun nilai, membentuk karakter, serta mendorong para lulusannya mengambil peran di tengah masyarakat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online