Pernikahan di Bantul Menurun, Pendidikan hingga Ekonomi Jadi Pertimbangan

Kiki Luqman
Kiki Luqman Senin, 05 Oktober 2026 07:17 WIB
Pernikahan di Bantul Menurun, Pendidikan hingga Ekonomi Jadi Pertimbangan

Foto ilustrasi buu nikah. /JIBI-Bisnis Indonesia.

Harianjogja.com, BANTUL—Jumlah pernikahan di Kabupaten Bantul menunjukkan tren penurunan sejak 2023 hingga 2026. Kondisi tersebut dinilai menggambarkan perubahan pertimbangan generasi muda dalam menentukan waktu untuk membangun rumah tangga.

Pendidikan, pekerjaan, karier, kondisi ekonomi hingga pandangan mengenai kehidupan pernikahan menjadi sejumlah hal yang ikut dipertimbangkan sebelum pasangan memutuskan menikah.

Penghulu KUA Pandak, Alfandi Ilham Syafarsah, mengatakan berdasarkan data statistik Bimas Islam yang dapat diakses melalui LURIK, tren pernikahan di Bantul memang bergerak turun dalam periode 2023-2026.

Meski demikian, Alfandi mengatakan penurunan tersebut belum berada pada tingkat yang drastis. Menurutnya, kondisi itu lebih menunjukkan adanya perubahan keputusan dan prioritas di kalangan anak muda.

Menikah, lanjut Alfandi, tidak lagi selalu dipandang sebagai keputusan yang harus segera diambil ketika seseorang sudah memasuki usia perkawinan.

“Sehingga banyak berita-berita mengenai mungkin semisal KDRT, kemudian perselingkuhan, ya, dan sebagainya, yang itu kemudian menyebabkan ketakutan berlebihan dari kaum muda untuk kemudian menghadapi pernikahan,” kata Alfandi, Minggu (4/10).

Media Sosial Pengaruhi Cara Pandang soal Pernikahan

Alfandi menjelaskan derasnya informasi mengenai kehidupan rumah tangga ikut membentuk cara pandang anak muda terhadap pernikahan. Melalui media sosial, berbagai persoalan pasangan, mulai dari konflik hingga perceraian, dapat diketahui dengan cepat.

Paparan informasi tersebut dapat membuat calon pengantin lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Namun, terlalu sering melihat cerita buruk mengenai hubungan pasangan juga berpotensi menimbulkan kekhawatiran ketika mereka membayangkan kehidupan setelah menikah.

Selain informasi mengenai persoalan rumah tangga, pendidikan dan karier turut menjadi pertimbangan sebagian anak muda. Mereka memilih menyelesaikan pendidikan atau membangun pekerjaan terlebih dahulu karena khawatir tanggung jawab rumah tangga mengganggu target yang sedang dikejar.

Kondisi finansial juga masih menjadi faktor penting. Kesiapan ekonomi menjadi bagian dari pertimbangan pasangan sebelum menentukan waktu untuk menikah.

Usia Pengantin Bantul Didominasi di Atas 21 Tahun

Alfandi mengatakan usia calon pengantin di wilayahnya masih didominasi mereka yang berusia di atas 21 tahun.

Secara aturan, batas minimal usia perkawinan bagi laki-laki maupun perempuan adalah 19 tahun. Namun, dalam praktiknya, pasangan berusia lebih dari 21 tahun masih menjadi kelompok yang paling banyak.

Gambaran penurunan pernikahan juga terlihat di KUA Banguntapan. Penghulu KUA Banguntapan, Abdurrahman Faqih, mengatakan sepanjang 2025 terdapat 752 pasangan yang tercatat melangsungkan pernikahan.

Sementara itu, hingga awal September 2026, jumlah pasangan yang menikah baru mencapai 461 pasangan. Angka tersebut masih akan bertambah sampai akhir tahun, tetapi capaian sementara menunjukkan pergerakan yang lebih rendah dibandingkan catatan tahun sebelumnya.

“Kalau di KUA Banguntapan itu bisa dibilang sementara turun karena menurut data tahun lalu sampai Desember, itu ada tujuh ratus lima puluh dua pasang yang menikah di KUA Banguntapan. Nah, sekarang udah sampai September, baru di angka empat ratus enam puluh satu sampai minggu ini, sampai besok Ahad. Sehingga bisa dibilang menurun dibandingkan di tahun-tahun sebelumnya,” kata Faqih.

Pernikahan Dzulhijah Juga Berkurang

Menurut Faqih, gambaran serupa terlihat pada periode Dzulhijah. Pada tahun sebelumnya, jumlah pernikahan di KUA Banguntapan selama bulan tersebut bisa mencapai lebih dari 100 pasangan.

Tahun ini, jumlahnya masih berada di bawah 100 pasangan. Kondisi tersebut memperkuat gambaran bahwa keputusan menikah semakin banyak melalui pertimbangan yang lebih panjang.

Faqih juga menilai media sosial ikut berperan dalam membentuk standar kehidupan rumah tangga di kalangan anak muda. TikTok, Instagram, Facebook dan YouTube membuat calon pengantin mudah menemukan berbagai gambaran mengenai kehidupan pasangan.

“Sehingga standar mereka standar TikTok apalagi kalau kita melihat standar media sosial, Instagram, TikTok, Facebook, YouTube dan lainnya,” ujarnya.

Beragam konten tersebut membuat anak muda memiliki gambaran yang berbeda-beda mengenai kehidupan rumah tangga. Mereka dapat melihat pasangan yang harmonis, tetapi pada saat yang sama juga disuguhi cerita mengenai perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, perceraian dan konflik keluarga.

Karena itu, tren penurunan pernikahan di Bantul sejak 2023 tidak dapat dilekatkan pada satu penyebab saja. Perubahan prioritas pendidikan dan karier, kondisi ekonomi, serta cara generasi muda memandang kehidupan rumah tangga saling berkelindan dalam menentukan waktu pernikahan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online