Tren Pernikahan di Gunungkidul Menurun, Ini Penyebabnya

David Kurniawan
David Kurniawan Senin, 05 Oktober 2026 17:07 WIB
Tren Pernikahan di Gunungkidul Menurun, Ini Penyebabnya

Foto ilustrasi pernikahan. - Freepik

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Angka pernikahan di Kecamatan Wonosari, Gunungkidul, menunjukkan tren menurun dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari perubahan jumlah penduduk hingga meningkatnya pendidikan dan pertimbangan ekonomi generasi muda.

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Wonosari, Masduqi, mengatakan penurunan angka pernikahan mulai terlihat setelah pandemi Covid-19.

Berdasarkan catatan KUA Wonosari, terdapat 642 pasangan yang menikah pada 2019. Jumlah tersebut turun menjadi 519 pasangan pada 2020.

Angka pernikahan kemudian kembali naik menjadi 556 pasangan pada 2021 dan relatif bertahan pada 2022. Namun, jumlah pasangan yang menikah kembali turun menjadi 506 pada 2023.

Pada 2024, jumlah pernikahan tercatat 519 pasangan. Sementara pada 2025, angkanya kembali turun menjadi 456 pasangan.

“Kalau dilihat dari tren memang ada penurunan,” kata Masduqi, Senin (5/10/2026).

Pendidikan dan Karier Pengaruhi Keputusan Menikah

Masduqi mengatakan jumlah penduduk menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi angka pernikahan di Wonosari. Selain itu, meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat juga ikut mengubah pertimbangan generasi muda dalam menentukan waktu untuk menikah.

Ia menyebut mayoritas pasangan yang menikah berada pada rentang usia 21-30 tahun, yakni sekitar 60%. Adapun sekitar 30% lainnya menikah setelah berusia lebih dari 30 tahun.

Dari sisi pendidikan, pasangan yang menikah didominasi lulusan SMA dengan proporsi sekitar 65%. Sementara lulusan perguruan tinggi mencapai sekitar 15%.

Menurut Masduqi, semakin tinggi pendidikan dapat membuat seseorang memiliki wawasan dan pertimbangan yang lebih luas mengenai kehidupan rumah tangga.

Generasi muda, kata dia, kini cenderung mempertimbangkan berbagai kesiapan sebelum memutuskan menikah. Salah satunya kesiapan ekonomi.

“Pertimbangan ekonomi juga menjadi salah satu faktor, sehingga banyak yang mementingkan karier dulu ketimbang menikah,” katanya.

Dengan demikian, keputusan menikah tidak semata-mata ditentukan usia, tetapi juga kesiapan seseorang dalam membangun keluarga.

Pernikahan di Gunungkidul Juga Fluktuatif

Tren penurunan juga terlihat dalam data pernikahan di tingkat Kabupaten Gunungkidul dalam beberapa tahun terakhir.

Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kementerian Agama Gunungkidul, Harsono, mengatakan pada 2021 tercatat 5.178 pasangan yang menikah.

Jumlah tersebut turun menjadi 5.038 pasangan pada 2022 dan kembali turun menjadi 4.695 pasangan pada 2023.

Pada 2024, jumlah pasangan yang menikah tercatat 4.263 pasangan. Sementara pada 2025, jumlahnya sedikit meningkat menjadi 4.288 pasangan.

“Untuk tahun lalu ada 4.288 pasangan yang menikah dalam setahun,” kata Harsono.

Meski terdapat kenaikan tipis pada 2025, Harsono membenarkan bahwa secara umum angka pernikahan Gunungkidul dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kecenderungan menurun.

Menurut dia, kondisi ekonomi dan tingginya biaya hidup menjadi salah satu pertimbangan masyarakat untuk menunda pernikahan. Selain itu, sebagian generasi muda lebih memilih menyelesaikan pendidikan atau membangun karier terlebih dahulu.

“Fleksibilitas dalam hubungan digital juga ikut memberikan andil turunnya angka pernikahan di Gunungkidul,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online