Dua Atlet Menembak Gunungkidul Bidik Tiket Olimpiade 2028
Dua atlet menembak Gunungkidul, Kanuruan Al Ghozi dan Anang Febrian, mengikuti Pelatnas untuk kejuaraan dunia Qatar sebagai kualifikasi Olimpiade 2028.
Ilustrasi ISPA - FReepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Gunungkidul mengalami peningkatan selama musim kemarau. Dinas Kesehatan Gunungkidul mencatat jumlah kasus bahkan menembus lebih dari 2.000 kasus dalam satu pekan.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, mengatakan hingga saat ini terdapat 16.467 warga yang menderita ISPA sejak awal tahun.
“Kasus ISPA cenderung meningkatkan untuk saat ini, maka harus diwaspadai,” kata Ismono, Selasa (6/10/2026).
Peningkatan kasus terlihat cukup signifikan pada minggu ke-36 dengan 2.199 kasus. Jumlah tersebut kembali naik pada minggu ke-37 menjadi 2.296 kasus.
Ismono mengatakan tren kenaikan kasus ISPA sebenarnya telah terlihat sejak minggu ke-29. Namun, jumlah kasus belum mencapai 2.000 kasus dalam satu pekan hingga memasuki minggu ke-36 dan ke-37.
“Tren kenaikan kasus mulai terlihat di minggu ke-29 hingga sekarang. Tapi, jumlahnya belum sampai menembus 2.000 kasus per minggunya seperti yang terlihat di minggu ke 36 dan 37,” ungkap Ismono.
Penderita ISPA berasal dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak, orang dewasa hingga lansia. Meski demikian, anak-anak dan lansia memiliki tingkat risiko lebih tinggi karena berkaitan dengan daya tahan tubuh.
“Tapi, kami tetap meminta kepada seluruh warga untuk mewaspadai potensi penyebaran penyakit ini,” katanya.
Menurut Ismono, peningkatan kasus ISPA terjadi karena dipengaruhi cuaca panas yang ekstrem. Kondisi tersebut diperparah debu yang berterbangan akibat embusan angin sehingga menambah risiko paparan.
“Cuaca saat sekarang sedang ekstrem sehingga membuat daya tahan tubuh menurun dan mudah terserang penyakit. Makanya, tubuh harus dijaga biar tetap vit,” katanya.
Dinas Kesehatan Gunungkidul terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya penyebaran penyakit seperti ISPA yang merebak saat musim kemarau.
Masyarakat diimbau tetap tenang dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Warga juga diminta rajin berolahraga serta mengonsumsi makanan bergizi.
Ismono menambahkan, istirahat yang cukup juga penting untuk menjaga daya tahan tubuh. Menurut dia, kondisi tubuh yang tetap vit dapat membantu mengurangi potensi terserang penyakit.
“Istirahat yang cukup juga sangat penting untuk menjaga daya tahan tubuh. Pada saat vit, maka potensi terserang penyakit bisa dikurangi,” katanya.
Sementara bagi warga yang terserang ISPA, Ismono mengingatkan pentingnya menjaga etika untuk mengurangi risiko penularan. Salah satunya dengan tidak batuk secara sembarangan dan menggunakan masker.
“Yang tak kalah penting untuk pencegahan adalah rutin cek kesehatan serta langsung memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat saat ada gejala sakit sehingga dapat tertangani dengan baik,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dua atlet menembak Gunungkidul, Kanuruan Al Ghozi dan Anang Febrian, mengikuti Pelatnas untuk kejuaraan dunia Qatar sebagai kualifikasi Olimpiade 2028.
IABI menyebut gempa Lombok Barat M5 merupakan gempa intraslab di dalam Lempeng Australia, bukan akibat sesar aktif dangkal di Lombok.
Kasus ISPA di Gunungkidul mencapai 2.296 kasus dalam sepekan saat kemarau. Dinkes mengimbau warga menjaga kesehatan dan memakai masker.
Spanyol bangkit dari ketertinggalan dan mengalahkan Kroasia 2-1. Dua gol Mikel Merino menjaga La Furia Roja tetap sempurna di Grup A3.
MK menyatakan permohonan sengketa syarat pendidikan Gibran tak dapat diterima. Mahkamah juga tak menemukan bukti ijazah setara SMA.
Kemlu RI mengungkap diplomasi tertutup membebaskan empat ABK WNI yang disandera perompak Somalia selama lima bulan sebelum dipulangkan ke Indonesia.