Nelayan Gunungkidul Mulai Panen Gurita, Sekali Melaut Dapat 15 Kg
Nelayan Gunungkidul mulai menangkap gurita. Sekali melaut, hasil tangkapan bisa mencapai 15 kilogram dengan harga hingga Rp100.000 per kilogram.
Warga membawa air bersih seusai diolah dari mesin pembersih air di wilayah Kapanewon Tepus, Gunungkidul, Senin (7/9/2026). Antara/HO-Bidhumas Polda DIY
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Masyarakat Gunungkidul diminta mewaspadai potensi hujan yang berhenti turun karena wilayah tersebut belum sepenuhnya memasuki musim hujan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul memperkirakan musim hujan baru dimulai pada Desember 2026, sehingga penyaluran bantuan air bersih masih disiapkan hingga akhir tahun.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memantau perkembangan cuaca.
Menurutnya, hujan mulai turun sejak akhir Oktober 2026. Namun, intensitasnya masih rendah, yakni sekitar 20 milimeter.
“Kategorinya masih hujan ringan. Tapi, dengan hujan turun, maka jadi penanda peralihan dari musim kemarau ke penghujan,” kata Purwono, Jumat (6/11/2026).
Purwono menjelaskan musim hujan di Gunungkidul diperkirakan mulai pada awal Desember 2026. Wilayah yang lebih dahulu memasuki musim hujan adalah zona utara.
Setelah itu, musim hujan diperkirakan bergerak ke zona tengah hingga selatan. Dengan demikian, seluruh wilayah Bumi Handayani diperkirakan benar-benar memasuki musim penghujan pada akhir Desember.
“Musim hujan ditandai dengan curahnya mencapai sekitar 100 milimeter. Intesitas ini baru terjadi mulai Desember,” katanya.
Sementara itu, pada November sudah terdapat peningkatan curah hujan. Namun, intensitasnya masih berkisar 20-50 milimeter.
Angka tersebut masih jauh di bawah rata-rata curah hujan November pada tahun-tahun sebelumnya yang sudah mencapai 100 milimeter.
“Makanya Bulan November di Gunungkidul belum masuki musim hujan karena yang turun masih dalam intensitas ringan. Jadi, potensi hujan berhenti turun masih ada karena memang belum masuk musim penghujan,” katanya.
Karena musim hujan belum sepenuhnya tiba, BPBD Gunungkidul merencanakan penyaluran bantuan air bersih hingga akhir Desember 2026.
Purwono memastikan ketersediaan anggaran untuk bantuan air bersih masih mencukupi. BPBD mendapatkan tambahan alokasi sebanyak 5.100 tangki yang bersumber dari pagu Belanja Tak Terduga (BTT) milik Pemkab Gunungkidul.
“Untuk bantuan masih aman, tapi untuk penyaluran disesuaikan dengan kondisi dengan melihat potensi hujan turun. Misalnya, suatu wilayah sudah sering hujan, maka intensitas bantuan dikurangi untuk disalurkan ke lokasi lain yang lebih membutuhkan,” katanya.
Dengan pola tersebut, distribusi bantuan akan menyesuaikan kebutuhan di setiap wilayah. Lokasi yang mulai sering diguyur hujan dapat menerima pengurangan bantuan, sementara pasokan dialihkan ke daerah yang masih mengalami kekurangan air.
Di sisi lain, Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Panggang, Sri Muryani, mengatakan wilayahnya pada tahun ini mendapatkan alokasi bantuan air bersih dari pemerintah kabupaten sebanyak 329 tangki.
Namun, seluruh alokasi tersebut telah habis disalurkan kepada masyarakat sejak pertengahan Oktober 2026.
“Anggaran kami sudah habis,” katanya.
Meski demikian, penyaluran bantuan air bersih kepada masyarakat masih berlangsung. Pasalnya, terdapat bantuan tambahan dari BPBD Gunungkidul yang bersumber dari anggaran BTT.
“Sekarang sepenuhnya penyaluran sepenuhnya ditangani oleh BPBD Gunungkidul. Tapi, juga ada bantuan yang bersumber dari program CSR pihak ketiga,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Nelayan Gunungkidul mulai menangkap gurita. Sekali melaut, hasil tangkapan bisa mencapai 15 kilogram dengan harga hingga Rp100.000 per kilogram.
Kejagung mengungkap enam perusahaan yang dikendalikan Arif Kurniawan dalam kasus dugaan korupsi tambang nikel di Sulawesi Tenggara periode 2013–2025.
Komisi I DPRD Kulonprogo menemukan alat cetak KTP elektronik bermasalah di Lendah, Galur, dan Panjatan. Warga mengeluhkan hasil cetak bergaris.
Dinkes Sleman mengimbau warga menerapkan PHBS dan mengenali gejala ISPA di tengah perubahan cuaca, terutama pada kelompok rentan.
Yusril mempersilakan Komnas HAM menyelidiki bentrokan di Pidie, Aceh, yang mengakibatkan satu warga meninggal dan 13 orang luka-luka.
MilkLife Kickers meraih dua kemenangan pada hari kedua Singa Cup 2026 setelah mengalahkan BMW 8-0 dan Fremantle City FC 5-1.