Asita DIY Khawatir Kawat Berduri di Titik Nol Ganggu Wisata Jogja

Anisatul Umah
Anisatul Umah Jum'at, 06 November 2026 08:57 WIB
Asita DIY Khawatir Kawat Berduri di Titik Nol Ganggu Wisata Jogja

Pemasangan kawat berduri / Tangkapan layar Media Sosial

Harianjogja.com, JOGJA—Pengamanan kawasan Titik Nol Kilometer Jogja menjadi perhatian pelaku pariwisata setelah pemasangan kawat berduri pada Senin (2/11/2026) ramai diperbincangkan di media sosial. Asita DIY meminta aparat keamanan, pemerintah daerah, dan pelaku industri pariwisata memperkuat koordinasi agar upaya menjaga keamanan tidak menimbulkan persepsi negatif terhadap Yogyakarta sebagai destinasi wisata.

Humas DPD Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIY, Iwan Sulistyanto, mengatakan keamanan dan ketertiban merupakan tanggung jawab aparat. Pihaknya memahami sekaligus menghormati langkah kepolisian dalam menjaga situasi wilayah tetap kondusif.

Namun, menurut Iwan, kebijakan pengamanan di kawasan wisata juga perlu memperhatikan komunikasi kepada masyarakat serta dampaknya terhadap citra pariwisata. Yogyakarta selama ini dikenal sebagai kota budaya dan pendidikan yang menawarkan suasana nyaman serta ramah bagi wisatawan.

"Kami berharap situasi pengamanan dapat tetap dikelola secara proporsional, sehingga keamanan terjaga tanpa menimbulkan kesan bahwa Yogyakarta sedang berada dalam kondisi yang tidak kondusif," ujarnya, Jumat (6/11/2026).

Iwan menyoroti posisi Kilometer Nol dan kawasan Sumbu Filosofi sebagai salah satu ikon sekaligus wajah pariwisata Jogja. Kawasan tersebut menjadi bagian dari pengalaman wisatawan ketika berkunjung dan menikmati suasana kota.

Menurut dia, wisatawan yang datang ke Jogja memiliki harapan untuk memperoleh pengalaman perjalanan yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa satu kejadian tidak bisa digunakan untuk menggambarkan kondisi Yogyakarta secara keseluruhan.

Iwan menilai Jogja tetap mempunyai daya tarik wisata serta masyarakat yang mampu menjaga suasana kota agar tetap aman dan kondusif. Karena itu, persoalan pengamanan di satu kawasan diharapkan tidak berkembang menjadi penilaian negatif terhadap destinasi wisata secara lebih luas.

Asita DIY Soroti Keamanan Menjelang Libur Akhir Tahun

Faktor keamanan menjadi salah satu pertimbangan wisatawan ketika menentukan tujuan perjalanan. Hal tersebut semakin penting menjelang libur akhir tahun, saat keluarga dan wisatawan dari berbagai daerah mulai menyusun rencana perjalanan.

"Secara prinsip, faktor keamanan merupakan salah satu pertimbangan penting wisatawan dalam menentukan destinasi. Terlebih menjelang libur akhir tahun, ketika keluarga dan wisatawan dari berbagai daerah mulai merencanakan perjalanan," paparnya.

Iwan berharap seluruh pihak dapat bekerja sama menjaga Yogyakarta tetap aman dan nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan. Ia mengingatkan agar persoalan yang bersifat insidental tidak berkembang menjadi persepsi negatif yang lebih luas terhadap destinasi wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Untuk memperkuat komunikasi, pelaku industri pariwisata juga perlu dilibatkan dalam pembahasan pengamanan. Pelibatan tersebut dapat dilakukan melalui asosiasi seperti ASITA, PHRI, dan organisasi pariwisata lainnya.

Menurut Iwan, pelaku usaha pariwisata dapat memberikan masukan berdasarkan aktivitas di lapangan. Masukan tersebut berkaitan dengan kemungkinan dampak kebijakan pengamanan terhadap kegiatan wisata, aksesibilitas, serta kenyamanan pengunjung.

"Dengan komunikasi yang terbuka, kita bisa menjaga dua kepentingan sekaligus, yaitu keamanan masyarakat dan keberlangsungan aktivitas pariwisata," jelasnya.

Pemda DIY Sebelumnya Soroti Koordinasi Pemasangan Kawat Berduri

Persoalan koordinasi pengamanan di kawasan Titik Nol sebelumnya juga menjadi perhatian Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY). Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menyampaikan pemerintah daerah menghargai dan memahami tugas kepolisian dalam menjaga keamanan wilayah.

Meski demikian, Ni Made menilai pemasangan kawat berduri perlu menjadi perhatian karena dilakukan di kawasan cagar budaya. Terlebih, Pemda DIY maupun Keraton Yogyakarta mengaku tidak menerima pemberitahuan atau koordinasi sebelum pemasangan dilakukan.

Ia berharap kepolisian memperkuat komunikasi dengan pihak-pihak terkait sebelum mengambil langkah pengamanan di kawasan tersebut. Menurut Ni Made, koordinasi diperlukan agar pemerintah daerah dan pihak terkait mengetahui tindakan yang akan dilakukan.

"Mungkin perlu penekanan dari sisi koordinasi, karena kami juga sudah kontak ke Keraton juga, apakah ini menjadi, ternyata tidak. Ini inisiatif dari kepolisian sebagai simulasi menjaga kawasan," ujar Ni Made.

Ni Made kembali menekankan perlunya penguatan koordinasi pada masa mendatang. Ia berharap langkah pengamanan dapat mengedepankan pendekatan persuasif sehingga tidak menimbulkan kesan penjagaan yang berlebihan di tengah masyarakat.

"Sehingga ketika ada langkah-langkah persuasif yang dilakukan, ini kami bisa mengantisipasi hal-hal yang mungkin dianggap sebagai persepsi terjadinya penjagaan yang berlebihan," jelasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online