El Nino Picu Harga Cabai Merah di DIY Naik, Ini Penyebabnya

Anisatul Umah
Anisatul Umah Selasa, 03 November 2026 13:27 WIB
El Nino Picu Harga Cabai Merah di DIY Naik, Ini Penyebabnya

Aktivitas lelang cabai di Kelompok Tani Bekti Pertiwi, Kalurahan Parangtritis, Kretek, Bantul, Kamis (1/10/2026). Lewat sistem ini selisih harga yang diperoleh petani jauh lebih tinggi dibandingkan lewat tengkulak./Istimewa

Harianjogja.com, JOGJA—Fenomena El Nino yang memperkuat musim kemarau berdampak pada kenaikan harga cabai merah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kekeringan yang berlangsung lebih panjang menyebabkan produktivitas tanaman cabai menurun, sementara permintaan masyarakat relatif stabil. Kondisi tersebut membuat pasokan berkurang dan harga cabai bergerak naik.

Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat inflasi pada Oktober 2026 mencapai 0,27% secara bulanan atau month-to-month (mtm). Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi 0,81% serta andil sebesar 0,23%.

Dari sejumlah komoditas yang memengaruhi inflasi, cabai merah menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,08%. Komoditas lainnya adalah tomat sebesar 0,04%, akademi/perguruan tinggi 0,03%, beras 0,03%, dan cabai rawit 0,03%.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, Aris Eko Nugroho, menjelaskan kenaikan harga cabai merah pada September hingga Oktober 2026 dipengaruhi kondisi kemarau yang lebih kering dan panjang. Situasi tersebut diperkuat fenomena El Nino.

Menurutnya, berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), El Nino 2026 telah masuk kategori kuat dan berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. Dampak fenomena iklim tersebut paling terasa pada periode Juli hingga Oktober.

Kekeringan di DIY Capai 161 Hari Tanpa Hujan

Dampak El Nino terhadap sektor pertanian DIY terlihat dari panjangnya periode tanpa hujan di sejumlah wilayah. Aris menyebut data BMKG hingga dasarian I Oktober 2026 menunjukkan pos pengamatan BPP Pajangan, Bantul, mengalami 161 hari tanpa hujan.

Durasi tersebut menjadi yang terpanjang di Indonesia selama musim kemarau ini.

Selain itu, pada September peringatan dini kekeringan meteorologis berstatus awas di seluruh wilayah DIY. BMKG juga memperkirakan awal musim hujan di DIY mengalami kemunduran sekitar satu bulan dibandingkan kondisi normal.

Kondisi kekurangan air tersebut berdampak langsung terhadap produksi cabai merah dan cabai rawit. Tanaman mengalami penurunan produktivitas sehingga hasil panen berkurang.

"Kekurangan air tersebut menurunkan produktivitas cabai merah dan cabai rawit sehingga hasil panen berkurang. Sementara itu, permintaan masyarakat relatif tetap. Ketika pasokan berkurang dan permintaan stabil, harga pun bergerak naik," ujarnya, Selasa (3/11/2026).

Panen Cabai di Kulonprogo Dimulai Awal November 2026

Meski harga cabai mengalami kenaikan akibat berkurangnya produksi, DPKP DIY memperkirakan kondisi pasokan mulai membaik pada November 2026.

Aris mengatakan sentra produksi cabai merah di kawasan pesisir Kulonprogo mulai memasuki masa panen pada awal November 2026. Wilayah tersebut memiliki potensi panen raya karena didukung luas tanam yang cukup besar.

Bertambahnya hasil panen diharapkan meningkatkan pasokan cabai merah di pasar. Dengan demikian, harga diperkirakan mulai stabil dan berangsur turun.

"Meski demikian, kami tetap mencermati faktor musiman, yakni meningkatnya permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru serta bulan Ramadan yang jatuh tidak lama setelahnya," paparnya.

Menurut Aris, pergerakan harga cabai di DIY juga dipengaruhi pasokan dari sentra produksi di luar daerah. Perkembangan cuaca, termasuk perkiraan mundurnya musim hujan, turut menjadi faktor yang diperhatikan pemerintah daerah.

Ia berharap pasokan dari petani di DIY tetap terjaga sehingga harga cabai di pasaran dapat terkendali dan tidak mengalami lonjakan tinggi.

"Dinas akan terus memantau perkembangan harga bersama instansi terkait," jelasnya.

Daftar Harga Cabai dan Bahan Pangan di DIY 3 November 2026

Di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas, DPKP DIY mencatat rata-rata harga pangan di tingkat konsumen pada Selasa (3/11/2026).

Berikut daftar harga beberapa komoditas tersebut:

Komoditas

Harga per Kg

Cabai keriting merah

Rp60.000

Cabai merah besar

Rp40.000

Cabai rawit merah

Rp55.000

Bawang merah

Rp27.000

Tomat

Rp20.000

Harga cabai keriting merah tercatat paling tinggi di antara komoditas dalam daftar tersebut, yakni Rp60.000 per kilogram. Sementara itu, cabai rawit merah dijual dengan rata-rata harga Rp55.000 per kilogram.

DPKP DIY Salurkan Bantuan Irigasi hingga 16 Lokasi

Untuk menjaga ketersediaan pasokan cabai dan bawang merah, DPKP DIY melakukan sejumlah intervensi dari sisi produksi. Salah satunya melalui bantuan irigasi pompa untuk pertanaman hortikultura, termasuk cabai dan bawang merah.

Bantuan irigasi pompa tersebut disalurkan ke 13 lokasi di Gunungkidul dan tiga lokasi di Kulonprogo. Langkah ini dilakukan untuk mendukung ketersediaan air bagi kegiatan pertanian hortikultura.

Selain itu, pemerintah daerah memberikan Bantuan Keuangan Khusus melalui Dana Keistimewaan kepada 17 kalurahan. Bantuan tersebut dimanfaatkan secara khusus untuk kegiatan penanaman cabai dan bawang merah.

Upaya pengendalian juga dilakukan dari sisi harga dan akses masyarakat terhadap bahan pangan. Salah satunya melalui gerakan Pasar Murah yang sepanjang 2026 telah dilaksanakan sebanyak 13 kali dengan melibatkan distributor sembako di seluruh DIY.

"Kemudian, kata Aris, dari sisi harga dan akses masyarakat terhadap pangan upaya yang dilakukan adalah gerakan Pasar Murah yang pada 2026 telah dilaksanakan sebanyak 13 kali dengan melibatkan distributor sembako di seluruh DIY. "Bazar Kios Pangan Rumah yang pada 2026 telah dilaksanakan sebanyak 59 kali," jelasnya."

Cabai Merah dan Tomat Jadi Penyumbang Inflasi DIY

Sebelumnya, Plt. Kepala BPS Provinsi DIY, Endang Tri Wahyuningsih, menjelaskan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan pada Oktober 2026.

Kelompok tersebut mengalami inflasi 0,81% dengan andil sebesar 0,23%. Kenaikan harga cabai merah dan tomat menjadi faktor utama yang mendorong inflasi pada kelompok ini.

Sementara itu, kelompok pendidikan mengalami inflasi 0,55% dengan andil 0,03%. Kenaikan biaya akademi atau perguruan tinggi menjadi penyebab sumbangan inflasi dari kelompok pendidikan.

"Lalu kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan sumbangan deflasi pada bulan Oktober 2026 utamanya disebabkan oleh turunnya harga emas," paparnya.

Dengan demikian, kenaikan harga cabai merah dan tomat menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi inflasi DIY pada Oktober 2026. Perkembangan panen di Kulonprogo serta ketersediaan pasokan dari daerah lain menjadi hal yang terus dicermati untuk menjaga stabilitas harga pangan di DIY.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online