Inflasi DIY Oktober 2026 Capai 0,27%, Cabai Merah Paling Berpengaruh

Anisatul Umah
Anisatul Umah Senin, 02 November 2026 14:07 WIB
Inflasi DIY Oktober 2026 Capai 0,27%, Cabai Merah Paling Berpengaruh

Plt. Kepala BPS Provinsi DIY, Endang Tri Wahyuningsih/Harian Jogja-Anisatul Umah

Harianjogja.com, JOGJA— Kenaikan harga cabai merah, tomat, beras, hingga biaya pendidikan perguruan tinggi menjadi sejumlah faktor yang mendorong inflasi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Oktober 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat inflasi bulanan mencapai 0,27%, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang sebesar 0,22%.

Secara tahunan atau year-on-year (yoy), inflasi DIY tercatat 3,02%. Sementara itu, inflasi berdasarkan tahun kalender atau year-to-date (ytd) mencapai 2,08%.

Plt. Kepala BPS Provinsi DIY, Endang Tri Wahyuningsih, menjelaskan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan. Kelompok tersebut mengalami inflasi 0,81% dengan andil sebesar 0,23%.

Kenaikan harga cabai merah dan tomat menjadi faktor utama yang mendorong inflasi pada kelompok pengeluaran tersebut. Selain kebutuhan pangan, kenaikan biaya akademi atau perguruan tinggi turut memberikan kontribusi terhadap inflasi DIY.

Kelompok pendidikan mengalami inflasi 0,55% dengan andil sebesar 0,03%.

"Lalu kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan sumbangan deflasi pada bulan Oktober 2026 utamanya disebabkan oleh turunnya harga emas," ujarnya dalam rilis bulanan secara daring, Senin (2/11/2026).

Cabai Merah Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar
Berdasarkan komoditasnya, cabai merah menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar di DIY pada Oktober 2026. Komoditas ini memberikan andil sebesar 0,08%.

Endang merinci lima komoditas dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi bulanan, yakni:
1. Cabai merah dengan andil 0,08%.
2. Tomat dengan andil 0,04%.
3. Akademi/perguruan tinggi dengan andil 0,03%.
4. Beras dengan andil 0,03%.
5. Cabai rawit dengan andil 0,03%.

Di sisi lain, sejumlah komoditas justru memberikan sumbangan deflasi. Daging ayam ras menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil -0,04%, disusul emas perhiasan sebesar -0,02%.

Sementara itu, semangka, apel, dan telur ayam ras masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,01% sebagaimana tercantum dalam rincian BPS DIY.

Inflasi Tahunan DIY Turun Menjadi 3,02%
Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, inflasi DIY pada Oktober 2026 mencapai 3,02%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi tahunan pada bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,18%.

Menurut Endang, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi tahunan sebesar 4,18%. Kelompok ini memberikan andil terbesar terhadap inflasi DIY, yakni 1,16%, terutama akibat kenaikan harga beras dan cabai rawit.

Penyumbang inflasi tahunan berikutnya adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kelompok ini mengalami inflasi 8,75% dengan andil sebesar 0,61%, terutama dipengaruhi komoditas emas perhiasan.

"Kelompok transportasi memberikan andil inflasi terbesar ketiga sebesar 0,55%, komoditas utamanya adalah bensin," jelasnya.

Endang juga memaparkan lima komoditas dengan andil inflasi tahunan terbesar di DIY. Emas perhiasan menempati posisi pertama dengan andil 0,56%, kemudian bensin sebesar 0,35%.

Selanjutnya, beras memberikan andil 0,17%, cabai rawit sebesar 0,16%, dan buncis sebesar 0,10%.

Sementara itu, komoditas penyumbang deflasi tahunan terbesar adalah kelapa dengan andil -0,15%. Komoditas lainnya yang turut memberikan andil deflasi meliputi telur ayam ras, bawang merah, daun melinjo, serta sabun deterjen bubuk.

"Andil deflasi, lima komoditas terbesar yang pertama adalah kelapa dengan andil deflasi sebesar -0,15%, disusul oleh telur ayam ras, bawang merah, daun melinjo, serta sabun deterjen bubuk," jelasnya.

Inflasi Nasional Oktober 2026 Tercatat 0,22%
Di tingkat nasional, BPS mencatat inflasi bulanan pada Oktober 2026 sebesar 0,22%. Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan kenaikan tersebut terlihat dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang meningkat dari 112,31 pada September 2026 menjadi 112,56 pada Oktober 2026.

Secara tahunan, inflasi nasional mencapai 3,23%. Adapun inflasi berdasarkan tahun kalender atau year-to-date tercatat sebesar 2,40%.

Ateng menjelaskan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama inflasi bulanan nasional. Kelompok tersebut mengalami inflasi 0,51% dengan andil sebesar 0,15%.

"Dan kelompok makanan, minuman, dan tembakau ini memberikan andil inflasi sebesar 0,15%," ujarnya.

Sejumlah komoditas hortikultura menjadi pendorong kenaikan harga pada kelompok tersebut. Cabai merah memberikan andil inflasi terbesar sebesar 0,13%, diikuti cabai rawit sebesar 0,05% dan tomat sebesar 0,04%.

"Kemudian sawi hijau, labu siam dan sawi putih dengan andil inflasi masing-masing 0,01%," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online