78 Titik Blankspot Internet Tersebar di Gunungkidul, Ini Lokasinya

David Kurniawan
David Kurniawan Rabu, 04 November 2026 19:17 WIB
78 Titik Blankspot Internet Tersebar di Gunungkidul, Ini Lokasinya

Foto ilustrasi kuota internet. - Freepik

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Sebanyak 78 titik blankspot atau wilayah tanpa jaringan internet masih ditemukan di Kabupaten Gunungkidul. Sebagian besar lokasi tersebut berada di kawasan selatan, terutama wilayah perbukitan di Kapanewon Girisubo, Rongkop, Tepus, Tanjungsari, Panggang, dan Purwosari.

Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Gunungkidul telah memetakan puluhan titik tersebut setelah melakukan sinkronisasi data dan peninjauan langsung ke lapangan. Pemetaan ini menjadi dasar penyusunan program penguatan sinyal jaringan telekomunikasi yang direncanakan mulai direalisasikan pada 2028.

Kepala Diskominfo Gunungkidul, Setyo Hartato, mengatakan persoalan keterbatasan jaringan internet di sejumlah wilayah terungkap dari laporan Komisi Pemilihan Umum (KPU) saat pelaksanaan Pemilu 2024. Ketika itu, KPU melaporkan terdapat ratusan lokasi tempat pemungutan suara (TPS) yang masuk zona blankspot.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Diskominfo melakukan pencocokan data disertai pemeriksaan lapangan. Hasilnya, ditemukan 78 titik yang hingga kini belum terjangkau jaringan internet.

“Rencananya tahun depan dilakukan survey ulang untuk memastikan. Tujuannya agar mendapatkan program penguatan sinyal jaringan telekomunikasi di 2028, yang saat ini sedang kami susun programnya,” kata Setyo, Rabu (4/10/2026).

Blankspot Dominasi Wilayah Perbukitan

Sebaran wilayah tanpa sinyal internet paling banyak ditemukan di kawasan selatan Gunungkidul. Selain Girisubo, Rongkop, Tepus, Tanjungsari, Panggang, dan Purwosari, titik blankspot juga berada di Kapanewon Nglipar serta Gedangsari.

Setyo menjelaskan kondisi geografis menjadi salah satu karakteristik lokasi yang mengalami kesulitan mendapatkan jaringan telekomunikasi. Sebagian besar titik tersebut berada di kawasan perbukitan.

“Biasanya yang berada di area perbukitan. Untuk lokasi, ada satu padukuhan yang titik blankspot lebih dari satu lokasi,” katanya.

Kondisi tersebut membuat pemetaan perlu dilakukan secara lebih terperinci. Sebab, dalam satu padukuhan saja dimungkinkan terdapat lebih dari satu lokasi yang tidak mendapatkan sinyal internet.

Perluasan Jaringan Internet Disiapkan pada 2028

Diskominfo Gunungkidul sebenarnya telah merintis upaya pemerataan akses internet sejak 2020. Pada tahap awal, perluasan jaringan dilakukan dengan memanfaatkan teknologi wireless.

Dalam perkembangannya, pembangunan jaringan mulai diarahkan menggunakan infrastruktur fiber optic. Namun, pada 2025 tidak terdapat program perluasan jaringan internet.

Setyo mengatakan pemerintah daerah kembali merencanakan pengembangan jaringan untuk menjangkau wilayah-wilayah yang masih mengalami blankspot pada 2028. Rencana tersebut saat ini sedang disusun dan akan didahului dengan survei ulang pada tahun depan.

“Tapi sejak beberapa tahun ini dikembangkan menggunakan jaringan fiber optic, meski di 2025 sudah tidak ada program perluasan. Sudah kami rencanakan untuk perluasan jaringan ke titik-titik blankspot di 2028,” katanya.

DPRD Dukung Pemerataan Akses Internet

Upaya mengatasi wilayah tanpa jaringan internet tersebut mendapat dukungan dari DPRD Gunungkidul. Ketua DPRD Gunungkidul, Endang Sri Sumiyartini, menilai pemerataan akses telekomunikasi penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Meski demikian, dia memahami perluasan jaringan tidak bisa dilakukan sekaligus. Pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.

“Kami dukung, meski pelaksanaan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan keuangan dimiliki,” katanya.

Endang menambahkan manfaat jaringan internet tidak terbatas pada kemudahan komunikasi. Ketersediaan akses internet juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperluas pemasaran produk melalui platform online.

Salah satu sektor yang dapat memanfaatkan perluasan jaringan tersebut adalah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan akses internet yang lebih merata, produk-produk lokal berpeluang dikenal oleh pasar yang lebih luas.

“Bisa dipergunakan untuk pemasaran produk UMKM secara lebih luas dengan harapan produk yang semakin dikenal hingga mampu menambah pendapatan dimiliki,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online