Kemarau Panjang Mengancam, Petani Sleman Diminta Atur Pola Tanam

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Selasa, 13 Oktober 2026 23:27 WIB
Kemarau Panjang Mengancam, Petani Sleman Diminta Atur Pola Tanam

Foto ilustrasi kekeringan. - Magnific

Harianjogja.com, SLEMAN—Petani di Kabupaten Sleman diminta menyesuaikan pola tanam dengan ketersediaan air untuk mengantisipasi musim kemarau panjang hingga Oktober 2026. Langkah ini menjadi salah satu upaya menekan risiko kerusakan tanaman akibat kekeringan, di tengah laporan dampak pada sejumlah komoditas pertanian.

Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman telah menerbitkan surat edaran pada 31 Maret 2026 yang mengimbau petani merencanakan usaha tani sesuai kondisi ketersediaan air di wilayah masing-masing.

Kepala DP3 Kabupaten Sleman, Liem Astuti, mengatakan petani perlu mempertimbangkan jenis komoditas yang akan ditanam agar sesuai dengan kondisi pengairan di lahan mereka.

“Petani harus bisa melakukan perencanaan terkait usaha tani yang dilakukan berdasarkan kondisi yang ada. Mereka harus pintar-pintar memilih komoditas yang ditanam dengan kondisi ketersediaan airnya,” ujarnya, Selasa (13/10/2026).

Selain memilih komoditas, petani juga diminta mengoptimalkan sarana pengairan, seperti pompa dan sumur. Pemilihan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering turut menjadi bagian dari langkah antisipasi.

Menurut Liem, petani di Sleman telah berupaya menyesuaikan perencanaan usaha tani untuk menghadapi kemarau. Pemerintah daerah juga memberikan dukungan melalui optimalisasi sarana pengairan agar kebutuhan air tanaman tetap terpenuhi.

Ratusan hektare tanaman terdampak kekeringan

Berdasarkan laporan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) pada akhir September 2026, kekeringan telah berdampak pada sejumlah lahan pertanian di Sleman.

Laporan tersebut mencatat 15 hektare tanaman padi di Kapanewon Turi terdampak kekeringan. Selain itu, terdapat 90 hektare tanaman jagung yang tersebar di Mlati, Turi, dan Pakem, serta satu hektare tanaman kacang tanah di Ngemplak.

Meski demikian, Liem menyebut kondisi tanaman yang dilaporkan masih terkendali dan belum masuk kategori kekeringan berat. Sejumlah lahan juga telah mendapatkan penanganan melalui optimalisasi irigasi perpompaan.

Di Sumberadi, Mlati, misalnya, pengairan tanaman terbantu oleh irigasi perpompaan yang memanfaatkan sumber air dari embung. Sementara itu, tanaman jagung di Sendangadi dan Tlogoadi mendapatkan bantuan pengairan menggunakan pompa dari kelompok Sinar Madi.

Adapun tanaman padi di Turi telah memasuki masa panen sehingga tidak lagi menghadapi persoalan kekurangan air pada fase pertumbuhannya.

“Kondisinya masih bisa terkendali. Di Sumberadi, Mlati, misalnya, sudah terselesaikan dengan irigasi perpompaan yang bisa digunakan,” katanya.

Tingkat kekeringan dilihat dari kerusakan tanaman

Liem menjelaskan penilaian tingkat kekeringan tanaman dilakukan berdasarkan kondisi fisik tanaman dan persentase kerusakan yang terjadi.

Kekeringan ringan ditandai dengan kerusakan tanaman hingga 25%. Sementara itu, kekeringan sedang terjadi ketika tingkat kerusakan mencapai 25% hingga 50%.

Pada kategori kekeringan berat, kerusakan tanaman berada pada kisaran lebih dari 50% hingga 85%. Jika kerusakan melampaui 85%, tanaman dikategorikan mengalami puso.

Pengelompokan tersebut menjadi salah satu acuan untuk melihat kondisi tanaman yang terdampak kekurangan air. Dengan pemantauan kondisi lahan, penanganan dapat diarahkan sesuai tingkat kerusakan yang dialami tanaman.

DP3 Sleman optimalkan pompa dan jaringan irigasi

Selain mengimbau petani menyesuaikan pola tanam, DP3 Sleman juga mengupayakan pembangunan dan optimalisasi infrastruktur pengairan untuk menghadapi keterbatasan air.

Di kawasan Prambanan yang memiliki lahan sawah tadah hujan, pemerintah telah membangun Embung Culuek guna mendukung ketersediaan air bagi pertanian.

DP3 Sleman juga mengakses dukungan dari Kementerian Pertanian, selain memanfaatkan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Bantuan tersebut mencakup 14 unit irigasi perpompaan serta pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi tersier.

Liem menegaskan upaya menghadapi musim kemarau tidak hanya dilakukan melalui imbauan kepada petani. Pemerintah juga berupaya menyediakan dukungan sarana pengairan bagi lahan yang membutuhkan penanganan.

“Kami mencoba melakukan bantuan, mengakses dukungan dari kabupaten, dan juga dari kementerian,” tuturnya.

Melalui perencanaan pola tanam yang disesuaikan dengan ketersediaan air serta penguatan sarana irigasi, DP3 Sleman berharap petani dapat mempertahankan produktivitas pertanian dan meminimalkan dampak kemarau panjang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online