34 PPPK Paruh Waktu Gunungkidul Tak Dapat Kontrak Baru, Ini Penyebabnya
Sebanyak 34 PPPK Paruh Waktu Gunungkidul tidak mendapat kontrak baru. Pemkab menyebut sejumlah alasan, mulai dari pelanggaran disiplin hingga pensiun.
Petugas menyuntik vaksin antraks terhadap hewan ternak. – Antara/ist/Dokumen Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kasus antraks di Kabupaten Gunungkidul ditemukan di dua wilayah, yakni Padukuhan Watugilang B, Kalurahan Mulusan, Paliyan, serta Padukuhan Pelem, Kalurahan Dadapayu, Semanu. Di Paliyan, seorang warga dinyatakan positif antraks setelah menjalani pemeriksaan dan uji laboratorium.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi, mengatakan temuan di Mulusan terjadi hampir bersamaan dengan kasus di Dadapayu pada September 2026. Kedua kejadian tersebut diduga bermula dari praktik brandu, yakni penyembelihan kambing yang mati mendadak untuk kemudian dagingnya dibagikan kepada warga.
“Semua berawal dari tradisi brandu hingga akhirnya ditemukan kasus antraks,” kata Rismiyadi kepada wartawan, Rabu (14/10/2026).
Berdasarkan penelusuran tim surveilans, terdapat empat ekor kambing yang mati di wilayah Mulusan. Hasil pengujian sampel menunjukkan hewan tersebut positif mengandung bakteri Bacillus anthracis, penyebab penyakit antraks.
“Untuk penularan dari hewan ke manusia, ranahnya ada di dinas kesehatan yang melakukan penanganan. Detailnya ada di sana,” katanya.
Lokasi Kasus Disemprot Disinfektan dan Ternak Divaksin
Rismiyadi mengatakan sejumlah langkah telah dilakukan untuk mengendalikan penyebaran antraks di wilayah terdampak. Upaya tersebut meliputi sterilisasi lokasi penemuan kasus menggunakan cairan disinfektan serta vaksinasi ternak.
“Berbagai upaya terus kami lakukan agar kasus bisa dikendalikan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, membenarkan adanya kasus antraks pada manusia di Padukuhan Watugilang B, Mulusan, Paliyan. Kasus tersebut diketahui setelah seorang warga mendatangi puskesmas dengan gejala yang menyerupai penyakit antraks.
“Ada luka di bagian jari kulit dan setelah diperiksa serta dilakukan uji laboratorium dinyatakan positif antraks,” katanya.
Ismono menyampaikan kondisi pasien berangsur membaik. Luka yang dialami warga tersebut telah mengering setelah mendapatkan penanganan.
Meski demikian, pemantauan tidak hanya dilakukan terhadap pasien positif. Dinas Kesehatan juga memantau kondisi lima orang yang diketahui melakukan kontak erat selama 60 hari, sesuai masa inkubasi bakteri yang menjadi acuan pemantauan.
“Ada lima orang yang kontak erat, hasil pemantauan kondisinya baik dan sehat,” ungkapnya.
Pemkab Berupaya Memutus Praktik Brandu
Ismono menjelaskan penularan diduga berkaitan dengan kontak langsung terhadap ternak yang mati mendadak, termasuk aktivitas menyembelih atau mengonsumsi dagingnya. Karena itu, pencegahan difokuskan pada upaya memutus rantai penularan, terutama melalui praktik brandu yang masih berlangsung di masyarakat.
Menurut dia, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul telah memiliki peraturan bupati yang mengatur pemberian kompensasi bagi pemilik ternak yang mati mendadak. Kompensasi tersebut dimaksudkan agar bangkai ternak dikubur dan tidak disembelih untuk dikonsumsi atau dibagikan kepada warga.
“Sebenarnya kita sudah punya perbup untuk memberikan kompensasi terhadap ternak mati secara mendadak. Uang tali asih ini diberikan dengan tujuan langsung dikubur, bukan disembelih agar penyebaran penyakit pada hewan menular bisa berkurang,” katanya.
Empat Warga di Semanu Positif Antraks
Sebelumnya, Dinas Kesehatan Gunungkidul juga menangani kasus antraks di Padukuhan Pelem, Dadapayu, Semanu. Ismono menyebut terdapat tujuh warga yang berstatus suspek setelah praktik brandu terhadap kambing yang mati di wilayah tersebut.
Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan empat dari tujuh warga tersebut positif antraks.
“Sudah ditangani dan terus dipantau kesehatannya,” katanya.
Ismono mengatakan kasus di Dadapayu bermula pada awal September 2026, ketika tujuh kambing milik warga mati secara mendadak. Pemantauan kesehatan dilakukan tidak hanya terhadap warga yang dinyatakan positif, tetapi juga mereka yang memiliki kontak erat.
Penanganan di kedua wilayah tersebut dilakukan untuk mengendalikan penyebaran penyakit, termasuk melalui pengawasan kesehatan warga dan upaya pencegahan penularan dari ternak kepada manusia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 34 PPPK Paruh Waktu Gunungkidul tidak mendapat kontrak baru. Pemkab menyebut sejumlah alasan, mulai dari pelanggaran disiplin hingga pensiun.
Ketua DPRD Bantul Hanung Raharjo menilai pertanian berbasis teknologi dan greenhouse berpeluang meningkatkan produktivitas serta membuka usaha baru.
Mahasiswi berinisial AN diduga mencuri Honda Vario 125 di area parkir UIN Sunan Kalijaga dengan modus menduplikat kunci melalui pesanan ojol.
Psikolog Putri Langka mengingatkan orang tua mengenali tanda manipulasi digital dan menggunakan pendekatan dialogis untuk melindungi anak dari ekstremisme darin
BGN menyiapkan marketplace pengadaan pangan untuk dapur MBG pada November atau Desember 2026 demi transparansi harga dan akses produsen.
Kasus antraks ditemukan di Paliyan dan Semanu, Gunungkidul. Satu warga Paliyan positif, sedangkan lima kontak erat dipantau selama 60 hari.