Kalurahan di Gunungkidul Wajib Sisihkan Dana Desa untuk Padat Karya
Kalurahan di Gunungkidul wajib mengalokasikan dana desa untuk program padat karya pada 2026. Program ini ditujukan untuk menyerap tenaga kerja lokal.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih./Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih meminta jajarannya segera menyelesaikan kajian tentang pemberian kompensasi bagi ternak warga yang mati karena penyakit. Langkah ini menjadi salah satu upaya untuk pencegahan penyebaran antraks maupun Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Bumi Handayani.
“Sudah mulai didata terkait dengan ternak yang mati karena penyakit. Data ini bisa menjadi salah satu acuan untuk mengalokasikan anggaran untuk diberikan ke para pemilik,” kata Mbak Endah, Jumat (18/4/2025).
Dia menjelaskan, untuk kematian ternak, PMK menjadi penyumbang terbanyak karena hingga sekarang sudah ada 120 ekor yang mati. Adapun kematian yang diakibatkan antraks yang tercatat di kisaran 20 ekor ternak.
“Makanya pencegahan harus jadi prioritas. Salah satunya merampungkan regulasi untuk memberikan kompensasi terhadap ternak warga yang mati karena penyakit,” katanya.
Diharapkan dengan adanya kompensasi, maka tidak ada lagi praktik brandu maupun penyembelihan bangkai hewan. Pasalnya, kegiatan yang awalnya ingin meringankan beban pemilik ternak, namun malah berpotensi menjadi penyebab terjadinya penyebaran penyakit.
“Warga harus diberikan edukasi. Harapannya dengan adanya kompensasi, maka praktik brandu atau penyembelihan bangkai ternak bisa dicegah,” katanya.
Sekretaris Daerah Gunungkidul, Sri Suhartanta menambahkan, regulasi tentang pemberian kompensasi bagi pemilik ternak yang mati masih dikaji. Oleh karena itu, pihaknya belum bisa memberikan gambaran berkaitan dengan besaran uang yang akan diberikan ke peternak.
“Ini masih dikaji dan kami berkomitmen untuk merampungkannya menjadi sebuah aturan sebagai payung hukum didalam pelaksanannya,” kata Sri Suhartanta.
Menurut dia, upaya pencegahan penyebaran penyakit antraks terus dilakukan. Selain memberikan edukasi ke Masyarakat, juga sudah direncanakan pelaksanaan vaksinasi terhadap hewan ternak di lokasi temuan kasus.
“Kami terus berupaya agar kasus bisa terkendali,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono mengatakan, kasus antraks ditemukan di Kapanewon Rongkop dan Girisubo tidak hanya menular antar hewan karena juga terjadi penularan ke manusia. Hingga sekarang ada tiga warga yang dinyatakan positif antraks dan dua orang suspek.
Selain itu, pihaknya juga terus melakukan pengawasan kesehatan kepada 25 warga karena kontak dengan hewan positif antraks. Kontak terjadi karena ada warga yang ikut menyembelih hingga membantu pengangkutan bangkai ternak.
“Kalau dilihat dari inkubasi virus, pengawasan dan pemantauan akan berlangsung hingga Mei mendatang,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kalurahan di Gunungkidul wajib mengalokasikan dana desa untuk program padat karya pada 2026. Program ini ditujukan untuk menyerap tenaga kerja lokal.
I.O.I akhirnya comeback setelah sembilan tahun berpisah. Simak perjalanan, tantangan reuni, dan kisah di balik lagu Suddenly.
Pemerintah mempercepat pengembangan jaringan kereta api nasional hingga 10.524 kilometer untuk memperkuat logistik dan konektivitas.
Layanan SIM keliling Kulonprogo kembali dibuka. Simak jadwal SIMMADE, Simenor, MPP, Satpas, dan syarat perpanjangan SIM A serta SIM C.
BMKG memprediksi hujan ringan di sebagian besar DIY pada Sabtu 13 Juni 2026. Sleman perlu waspada karena berpotensi terjadi hujan petir.
Ketahui makanan dan minuman terbaik saat perut kosong di pagi hari serta jenis konsumsi yang sebaiknya dihindari agar pencernaan tetap sehat.