Bediding Makin Terasa, Warga Gunungkidul Diminta Waspada
Fenomena bediding membuat suhu Gunungkidul turun hingga 19,3 derajat Celsius. Warga diminta waspada terhadap batuk, pilek, dan penurunan daya tahan tubuh.
Sapi salah satu hewan pembawa virus antraks. - Ilustrasi freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kesehatan Gunungkidul memantau 25 warga yang melakukan kontak dengan hewan positif antraks di Kapanewon Rongkop dan Girisubo. Pemantauan dilakukan sebagai upaya antisipasi penularan penyakit yang disebabkan karena penyembelihan bangkai ternak ini.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono mengatakan, kasus antraks ditemukan di Kapanewon Rongkop dan Girisubo mulai awal Februari. Penularan tidak hanya terjadi pada hewan ternak, karena juga menular ke manusia.
Hasil pengambilan sampel terhadap warga yang mengalami luka mirip antarks, ada tiga warga dari Kalurahan Tileng, Girisubo dinyatakan positif antraks dan seorang warga suspek. Adapun di Kalurahan Bohol, Rongkop seorang warga dinyatakan suspek antraks.
“Jadi total ada tiga warga positif dan dua warga lainnya masuk kategori suspek,” kata Ismono, Selasa (15/4/2025).
Adanya penularan kasus antraks dari hewan ke manusia, tim dari dinas kesehatan langsung bergerak cepat. Upaya penyelidikan epidemiologi langsung dilakukan hingga akhirnya ditemukan 25 warga yang kontak dengan hewan terkonfirmasi antraks.
Kontak dilakukan karena ada yang berperan menyembelih hingga membantu pengangkutan bangkai ternak.
Disinggung mengenai kondisi warga yang dipantau, Ismono mengakui para warga ini tidak mengalami gejala. Namun dikarenakan masa inkubasi virus selama 60 hari, maka terus dipantau kesehatannya. “Kalau dilihat dari inkubasi virus, pengawasan dan pemantauan akan berlangsung hingga Mei mendatang,” katanya.
BACA JUGA: Tabrak Truk Parkir, Pengendara Sepeda Motor Tewas di Bantul
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Wibawanti Wulandari mengatakan, sejak kasus antraks muncul di Kalurahan Tileng, Girisubo di awal Februari hingga meluas ke Bohol di Kapanewon Rongkop, sudah ada laporan 26 ternak yang mati. Rinciannya, 23 ekor sapi dan tiga ekor kambing yang dinyatakan terjangkit antraks. “Sudah dilakukan pengambilan sampel dan hasilnya positif,” katanya.
Wibawanti meminta kepada masyarakat untuk tidak panik. Pasalnya, upaya pencegahan telah dilakukan mulai dari sosialisasi dan edukasi terkait bahaya bersebaran penyakit pada hewan ke manusia (Zoonosis).
Selain itu, juga ada upaya pencegahan agar kasus tidak semakin bertambah. Berbagai upaya dilakukan mulai dari penyeprotan disinfektan di lokasi temuan kasus dengan cairan formalin sebanyak tiga kali.
Cara berikutnya dengan memberikan suntikan anti biotik kepada hewan ternak di sekitar lokasi temuan kasus. “Pencegahan pada hewan ternak terus dilakukan karena setelah penyuntikan anti biotik akan dilanjutkan dengan program vaksinasi,” kata Wibawanti.
Menurut dia, program vaksinasi akan dilakukan dalam waktu dekat. Pasalnya, kebutuhan dosis vaksin untuk pencegahan antraks telah dipersiapkan sesuai dengan kebutuhan. “Sasaran vaksinasi antraks merupakan ternak yang berada di zona merah dan kuning di lokasi temuan kasus,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Fenomena bediding membuat suhu Gunungkidul turun hingga 19,3 derajat Celsius. Warga diminta waspada terhadap batuk, pilek, dan penurunan daya tahan tubuh.
Dishub Sleman rampungkan 2 ZoSS dengan anggaran hingga Rp60 juta untuk meningkatkan keselamatan pelajar di jalan.
Kecelakaan di jalur Magelang–Purworejo melibatkan dua mobil, empat orang terluka, satu korban dalam kondisi kritis.
Belgia kalahkan Amerika Serikat 4-1 di 16 besar Piala Dunia 2026 lewat dua gol De Ketelaere dan satu gol Lukaku.
Microsoft PHK 4.800 karyawan global akibat restrukturisasi bisnis dan perubahan industri teknologi, bukan karena AI.
Musim kemarau picu kematian ikan di Bantul. Pembudidaya sebut nila dan bawal masih aman, ini faktor yang perlu diwaspadai.