BMKG: MJO Picu Pertumbuhan Awan Hujan di DIY, Wilayah Utara Harus Waspada

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Senin, 26 Oktober 2026 19:57 WIB
BMKG: MJO Picu Pertumbuhan Awan Hujan di DIY, Wilayah Utara Harus Waspada

Hujan. - Foto ilustrasi dibuat oleh AI/Freepik

Harianjogja.com, SLEMAN—Gelombang atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO) yang melintasi Pulau Jawa, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan selama tiga hari ke depan. BMKG Stasiun Meteorologi YIA mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai kemungkinan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, terutama di wilayah utara Jogja.

Prakirawan Stasiun Meteorologi YIA, Sitty Winesari, menjelaskan MJO merupakan fenomena gelombang atmosfer yang bergerak dari Samudra Hindia menuju Samudra Pasifik. Pergerakan tersebut berlangsung dari arah barat ke timur.

"Fenomena Osilasi Madden-Julian (MJO) merupakan gelombang atmosfer yang bergerak dari Samudra Hindia ke Samudra Pasifik, bergerak dari arah barat ke timur," tandas Sitty saat dihubungi pada Senin (26/10/2026).

Menurut Sitty, posisi MJO saat ini secara spasial melewati Pulau Jawa, termasuk DIY. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah ini dalam beberapa hari mendatang.

"MJO saat ini secara spasial melewati Pulau Jawa termasuk DIY yang meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah DIY untuk tiga hari ke depan, terutama wilayah utara Jogja," terangnya.

MJO dan Faktor Pemicu Hujan di DIY

Meski berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan, Sitty menjelaskan pengaruh MJO terhadap kondisi cuaca bersifat fluktuatif. Fenomena tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan maupun menurunkan potensi terbentuknya awan hujan.

"Fenomena MJO ini sifatnya fluktuatif Pak, bisa menjadi salah satu faktor cuaca yang meningkatkan atau menurunkan potensi pertumbuhan awan hujan," lanjutnya.

Selain MJO, terdapat faktor atmosfer lain yang turut memengaruhi kondisi cuaca di DIY, yakni konvergensi atau pumpunan angin serta perlambatan massa udara. Kedua kondisi tersebut dapat mendukung peningkatan pertumbuhan awan hujan.

BMKG menyebut potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat perlu diwaspadai, terutama di wilayah utara DIY pada siang hingga sore hari. Masyarakat diimbau memperhatikan perkembangan cuaca untuk mengantisipasi perubahan kondisi atmosfer.

"Diharapkan masyarakat tetap tenang dan waspada terhadap potensi hujan sedang-lebat, serta selalu update kondisi cuaca terkini dari kanal resmi BMKG " tandasnya.

Awal Musim Hujan 2026 Diprakirakan November

Di tengah potensi peningkatan hujan akibat dinamika atmosfer tersebut, BMKG Stasiun Meteorologi YIA juga menyampaikan prakiraan awal musim hujan 2026. Sitty mengatakan musim hujan di DIY diprakirakan mulai pada dasarian III November.

"Berkaitan awal musim hujan 2026 diprakirakan terjadi pada dasarian III November," tandasnya.

Dasarian merupakan periode waktu selama 10 hari dalam satu bulan. Dengan prakiraan tersebut, awal musim hujan yang dimaksud berada pada periode 21–30 November 2026.

Masyarakat di DIY diimbau tetap tenang, tetapi waspada terhadap potensi hujan sedang hingga lebat, khususnya di wilayah utara pada siang hingga sore hari. Pemantauan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG menjadi langkah penting untuk mengetahui perkembangan kondisi atmosfer terkini.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online