Wellness Tourism di Jogja, Rumah Sakit Mulai Kembangkan Layanan

Yosef Leon
Yosef Leon Kamis, 29 Oktober 2026 10:17 WIB
Wellness Tourism di Jogja, Rumah Sakit Mulai Kembangkan Layanan

Ilustrasi pemeriksaan kesehatan anak/magnific

Harianjogja.com, JOGJA—Pengembangan wellness tourism di Jogja mulai menghubungkan layanan kesehatan dengan sektor pariwisata. Melalui pendekatan ini, rumah sakit tidak hanya berperan mengobati pasien, tetapi juga dapat mendampingi masyarakat menjaga kesehatan fisik dan mental melalui upaya pencegahan.

Ketua Umum Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, menjelaskan wellness tourism memiliki orientasi berbeda dengan medical tourism. Medical tourism umumnya berkaitan dengan upaya mencari pengobatan ketika seseorang sakit, sedangkan wellness tourism lebih menekankan pencegahan penyakit dan keseimbangan hidup.

“Dunia medical dan dunia wellness itu tidak berseberangan. Keduanya bukan musuh yang saling menjatuhkan, melainkan mitra yang saling melengkapi,” ujarnya, Kamis (29/10/2026).

Menurut GKR Bendara, wellness tourism memiliki cakupan lebih luas daripada layanan spa, yoga, dan perawatan kecantikan. Pendekatan ini juga mencakup meditasi, pola makan sehat, serta pengalaman mengenal dan mendalami budaya lokal sebagai bagian dari upaya menjaga kebugaran dan kebahagiaan.

Di Jogja, sejumlah rumah sakit mulai menerapkan pendekatan tersebut melalui kegiatan yang memanfaatkan lingkungan alam. GKR Bendara menyebut Wanagama Forest Healing dari Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (UGM) dan forest therapy yang dilakukan dokter dari Rumah Sakit Panti Rapih sebagai contohnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak beraktivitas di kawasan hutan, berjalan tanpa alas kaki, serta berinteraksi langsung dengan alam. Pengalaman ini menjadi bagian dari pendekatan holistik untuk mendukung kesehatan fisik dan mental, sekaligus melengkapi pelayanan medis.

Rumah Sakit Perluas Peran Pencegahan

Pengembangan wellness juga berkaitan dengan upaya rumah sakit menjangkau masyarakat sebelum penyakit muncul. Direktur RSUD Prambanan, Ratih Susila, mengatakan pelayanan kesehatan perlu diperluas agar tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan gangguan kesehatan, termasuk persoalan mental di kalangan remaja.

Salah satu upaya yang dilakukan RSUD Prambanan adalah menyediakan layanan konsultasi psikologi secara daring. Melalui layanan ini, masyarakat yang mengalami stres atau menghadapi persoalan psikologis dapat berkonsultasi melalui telepon, panggilan video, maupun Zoom.

Layanan jarak jauh tersebut dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang membutuhkan pendampingan profesional, tetapi belum memungkinkan datang langsung ke fasilitas kesehatan.

“Bagaimana rumah sakit mampu hadir mendekati masyarakat, mencegah agar tidak menjadi sakit, baik sakit jiwa maupun raga,” kata Ratih.

Kolaborasi Kesehatan dan Pariwisata

Ratih menambahkan pengembangan wellness membutuhkan kerja sama antara sektor kesehatan, pariwisata, dan berbagai unsur masyarakat. Kolaborasi tersebut diperlukan agar kegiatan pariwisata tidak hanya menawarkan daya tarik tempat, tetapi juga memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.

Dengan pendekatan itu, wellness tourism dapat menjadi ruang pertemuan antara pelayanan kesehatan, upaya menjaga kebugaran, dan pengalaman wisata. Pengembangannya pun tidak terbatas pada fasilitas medis, tetapi dapat melibatkan alam dan budaya lokal sebagai bagian dari pengalaman yang ditawarkan kepada masyarakat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online