Sekolah di Gunungkidul Diminta Menyisir Anak-anak Tak Sekolah

David Kurniawan
David Kurniawan Senin, 07 Juli 2014 23:20 WIB
Sekolah di Gunungkidul Diminta Menyisir Anak-anak Tak Sekolah

Petugas memverifikasi data siswa pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) di SMA Negeri 1 Solo, Senin (16/6/2014). Dalam PPDB Kota Solo Tahun Ajaran 2014/2015, kuota untuk siswa dari keluarga miskin (gakin) ditambah 25% dari semula menyusul dihapusnya sekolah plus. (Ardiansyah Indra Kumala/JIBI/Solopos)

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Menjelang masuk tahun ajaran baru 2014-2014, sekolah di wilayah Gunungkidul diminta menyisir anak-anak yang tidak bersekolah untuk dibujuk masuk sekolah.

Bedasarkan data dari Disdikpora Gunungkidul tahun lalu, terdapat sekitar 1.000 anak lulusan SMP tak melanjutkan sekolah. Sehingga, tingkat ketertarikan siswa untuk melanjutkan juga menjadi salah satu faktor sekolah kekurangan siswa didik.

Untuk itu, sesuai dengan pedoman PPDB Disdikpora Gunungkidul 2014, sekolah-sekolah yang masih kekurangan murid diperbolehkan untuk menerima siswa baru.

“Pengalaman tahun lalu selain kuota yang berlebih, minat anak juga ikut berperan kenapa sekolah masih ada yang kekurangan murid. Untuk itu, bagi sekolah-sekolah yang kurang diberikan dispensasi waktu,” kata Sekretaris Disdikpora Gunungkidul Bahron Rosyid, Minggu (6/7/2014).

Bahron menambahkan, meski dalam pedoman tidak dijelaskan batas waktu pendaftaran, namun harapannya sekolah-sekolah sudah selesai menerima peserta didik baru  sebelum tahun ajaran baru dimulai. Rencananya, kegiatan belajar mengajar akan dimulai pada 14 Juli mendatang.

“Memang saat KMB sudah dimulai sekolah tetap diberi kesempatan untuk menyisir anak-anak agar mau tetap bersekolah. Tapi, harapannya sebelum 14 Juli sudah selesai semua,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Playen Tiya mengakui bila di sekolahnya, dari kuota yang disediakan, belum terpenuhi. Hingga pendaftaran ditutup pada 3 Juli lalu, masih ada 28 kursi kosong.

“Kami masih memberikan kesempatan kepada calon siswa untuk mendaftar di sekolah kami,” ungkapnya.

Meski demikian, Tiya mengaku tidak akan bernafsu untuk mencoba memenuhi kuota yang tersedia. Dia beralasan, selain kuota yang lebih besar, pengalaman tahun lalu membuktikan bila ada sekitar 10% siswa SMP yang tidak melanjutkan sekolah.

“Dalam satu minggu ini kita masih akan menunggu. Kalau ada kami akan menerimanya, tapi kalau tidak yan kita jalan dengan yang sudah ada,” tandasnya

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online