Jemaah Haji Gunungkidul Tiba di Makkah, Siap Jalani Puncak Ibadah
361 jemaah haji Gunungkidul dipastikan sehat dan siap menjalani puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina
Marti, pedagang cabai di Pasar Legi, Solo, Jawa Tengah menata cabai yang baru dikirim pemasok sayur mayur ke kiosnya, Rabu (5/11/2014). Saat ini, harga berbagai jenis cabai melonjak lebih dari 50% dari harga semula. (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/Solopos)
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Harga sayur mayur di Pasar Argosari merangkak naik. Kenaikannya pun bervariasai, namun paling tinggi terjadi pada cabai merah keriting.
Cabai merah keriting yang biasanya dibanderol Rp25.000 per kilogram, akhir-akhir ini dijual Rp50.000 per kilogram.
Kenaikan tersebut terjadi dalam dua pekan terakhir. Diduga, kenaikan harga sayur mayur karena kemarau yang sangat panjang. Akibatnya, pasokan sayur mayur di Gunungkidul
terganggu.
Berdasarkan pantauan Harian Jogja, Selasa (11/11/2014), kenaikan harga terlihat pada beberapa komoditas, misalnya buncis mencapai Rp8.000 dari sebelumnya Rp5.000 per kg. Harga mentimun pun naik dari Rp3.000 menjadi Rp6.000 per kg. Sedangkan jipang dari Rp4.000 jadi Rp6.000 per kilogram.
“Hampir semua kebutuhan sayur mayur naik harganya. Perubahan harga ini sudah terjadi hampir selama dua pekan,” kata Deni, 45, salah seorang pedagang di Pasar Argosari.
Menurut dia, kenaikan tertinggi terjadi pada komoditas cabai merah keriting. Sejak sepekan terakhir harga cabai harganya terus terkerek naik. Awalnya, hanya dipasarkan Rp20.000, kini naik menjadi Rp50.000 per kg.
“Hal yang sama juga terjadi dengan cabai rawit karena saat ini dipasarkan Rp45.000 dari sebelumnya Rp25.000 per kilogram. Hampir semua cabai harganya naik,” tutur Deni.
Menurut dia, kenaikan ini bukan disebabkan adanya isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), tapi lebih pada tersendatnya pasokan ke pasar. Selain itu, kemarau yang panjang juga berpegaruh terhadap hasil panen.
“Yang jelas stok di pasaran jauh berkurang,” papar dia.
Kenaikan harga membuat permintaan di pasar berkurang. Deni mencontohkan biasanya dalam sehari dia mampu menjual 20 kilogram cabai rawit merah.
“Bisa menjual lima kilogram cabai sudah bagus,” keluh warga asal Tawarsari, Wonosari itu.
Salah seorang pembeli yang ditemui kemarin, Juju mengatakan, meski harga sayur mayur terus terkerek naik dia tetap membeli. Hanya saja, jumlah pembelian dikurangi dari biasanya.
“Kalau sekarang saya hanya mampu membeli satu atau dua
ons saja. Mau bagaimana lagi, harga cabai mencapai Rp50.000 per kilogram,” ungkapnya.
Meski harga naik dia tetap membeli cabai. “Cabai sudah masuk dalam kebutuhan pokok. Berapa pun harganya, saya tetap membeli,” kata Juju.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
361 jemaah haji Gunungkidul dipastikan sehat dan siap menjalani puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina
Polresta Jogja melengkapi berkas kasus dugaan kekerasan anak di daycare Little Aresha dengan 147 saksi dan 13 tersangka.
Pemkab Gunungkidul meminta dispensasi penggunaan solar untuk bus sekolah akibat kenaikan BBM nonsubsidi yang membebani anggaran operasional.
Debarkasi haji di YIA mulai disiapkan menyambut kepulangan jemaah pada 2 Juni 2026 dengan sistem tanpa asrama pertama di Indonesia.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.
MR.D.I.Y. Art Competition 2026 hadir di Jogja lewat workshop seni. Seniman muda diajak berkarya dan tembus panggung internasional.