Gunungkidul Perluas Pembayaran Tiket Masuk Nontunai ke 5 TPR Wisata
Cashless di TPR Baron Gunungkidul dinilai sukses. Sistem pembayaran non tunai akan diperluas ke lima TPR untuk mengoptimalkan PAD wisata.
Petani merontokkan padi dengan mesin perontok saat panen di Desa Keras Wetan, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Senin (29/6/2015). Para petani di wilayah tersebut telah memasuki musim panen, sementara itu harga gabah kering di bursa pertanian Jatim masih relatif stabil, yakni Rp4.100/kg. (JIBI/Solopos/Antara/Siswowidodo)
Pertanian Gunungkidul untuk komoditas padi mengalami serangan hama sehingga hasil panen turun 20%
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Sejumlah petani di Gunungkidul mengeluh hasil panen di masa tanam kedua mengalami penurunan. Jika dibandingkan dengan masa tanam pertama penurunannya sekitar 25%.
Diduga kuat penurunan tersebut dikarenakan adanya serangan hama mulai dari hama jamur daun, kresek, dan patah leher.
Salah seorang petani di Desa Gejahan, Sugiman mengaku panen yang dihasilkan di masa tanam kedua mengalami penurunan. Di masa tanam pertama, dari sepetak sawah digarapnya mampu menghasilkan 608 kilogram gabah kering, sedangkan di musim panen kali ini hanya mendapatkan 418 kilogram gabah kering.
“Hasilnya turun mas, dan tidak sebaik di masa tanam pertama,” kata Sugiman kepada Harian Jogja di sela-sela kegiatan persiapan masa tanam ketiga, Rabu (5/8/2015).
Penurunan panen padi ini disebabkan oleh dua faktor. Pertama, saat pemeliharaan, Sugiman mengaku sempat kesulitan untuk mendapatkan pupuk eceran. Sedangkan faktor kedua, penurunan disebabkan karena adanya serangan hama jamur yang menyerang daun padi.
“Mau bagaimana lagi, sebenarnya saya sudah tidak kurang-kurang dalam pemeliharaan. Mudah-mudahan di masa tanam ketiga ini hasilnya bisa lebih baik,” ujar dia.
Hal senada juga diungkapkan Suroso, petani di Desa Gejahan yang lain. Menurut dia, penurunan yang terjadi tidak begitu parah, namun sangat berpengaruh terhadap pendapatan petani.
“Saya belum bisa mengungkapkan dengan pasti, tapi penurunannya ada sekitar 25% dari panen sebelumnya,” kata Suroso.
Dia mengakui, saat pemeliharaan sudah melakukan berbagai upaya agar hama sejenis sundep ini bisa hilang. Namun demikian, antisipasi tersebut tidak maksimal karena faktanya hama itu tetap menyerang tanaman padi miliknya.
“Meski demikian saya tetap bersyukur karena hasilnya juga masih bagus,” tuturnya.
Serangan hama padi ternyata tidak hanya terjadi di Kecamatan Ponjong. Di Desa Katongan, Kecamatan Nglipar juga mengalami hal yang sama, sehingga panen padi milik petani di masa tanam kedua juga mengalami penurunan.
“Hasilnya kurang baik, dan masih kalah dengan panen sebelumnya,” kata Ketua Gabungan Kelompok Tani Sri Rejeki Dusun Ngrandu, Desa Katongan, Nglipar Sugeng Apriyanto.
Dia menjelaskan, di panen pertama per ubinnya bisa menghasilkan gabah hingga delapan kilogram. namun di masa panen kedua, mereka hanya bisa menghasilkan padi 5,5 kilogram per ubinnya.
Menurut Sugeng, penurunan itu terjadi karena adanya serangan berbagai hama di antaranya kresek, patah leher hingga sundep. Namun gangguan yang paling banyak disebabkan karena kresek dan patah leher.
“Jika sudah terserang, tanaman padi cepat menguning, tapi hasilnya berkurang karena banyak bulir padi yang tak berisi,” tutur dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Cashless di TPR Baron Gunungkidul dinilai sukses. Sistem pembayaran non tunai akan diperluas ke lima TPR untuk mengoptimalkan PAD wisata.
Pemerintah mulai menerapkan Strategic Trade Management atau STM di sektor nuklir sebagai tahap awal sistem pengawasan perdagangan strategis.
Anggaran alkes TB 2027 menjadi sorotan DPR. Menkes Budi Gunadi Sadikin menyebut penanganan TB diperkuat lewat dana hibah.
KPK mengungkap dugaan struktur bayangan di ATR/BPN dalam kasus suap HGB Summarecon yang menyeret delapan tersangka.
Koalisi buruh menyoroti draf RUU Pelindungan Ketenagakerjaan terkait upah, pekerja kontrak, outsourcing, dan pemagangan.
BEI kembali menerapkan short selling secara bertahap dan memperkirakan transaksi ini berpotensi menambah likuiditas pasar hingga 17 persen.