PERTANIAN GUNUNGKIDUL : Petani Dihantui Adanya Kelangkaan Pupuk

David Kurniawan
David Kurniawan Minggu, 09 Agustus 2015 01:20 WIB
PERTANIAN GUNUNGKIDUL : Petani Dihantui Adanya Kelangkaan Pupuk

Sugiman saat mencangkul di sawahnya untuk persiapan masa tanam ketiga. Harapannya di masa tanam kali ini, pasokan pupuk bisa lebih lancar sehingga panen yang dihasilkan bisa lebih maksimal. Rabu (5/8/2015). (JIBI/Harian Jogja/David Kurniawan)

Pertanian Gunungkidul dibayangi ketersediaan pupuk.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Memasuki masa tanam ketiga, sejumlah petani di kecamatan Ponjong dibayang-bayangi adanya kelangkaan pupuk. Jika hal tersebut sampai terjadi maka bisa berdampak terhadap panen yang dihasilkan.

Salah seorang petani di Desa Gejahan, Ponjong Sugiman berharap pasokan pupuk tetap lancar, sehingga upaya pemeliharaan di masa tanam ketiga dapat berjalan lancar. kejadian di musim tanam sebelumnya harus jadi pelajaran, karena saat pemeliharaan pupuk sempat menghilang dari pasaran.

“Dampaknya panen yang diperoleh tidak maksimal, karena adanya serangan hama. Kalau bisa berharap, kejadian itu jangan terulang kembali,” kata Sugiman kepada Harianjogja.com, Rabu (7/8/2015).

Menurut dia, operasional yang dikeluarkan di masa tanam ketiga ini akan lebih banyak dibandingkan dengan masa tanam sebelumnya. Kondisi tersebut terjadi, karena pasokan air makin sedikit, sehingga dibutuhkan ongkos tambahan untuk mengairi sawah.

Guna menjamin hasil panen tetap maksimal, salah satunya dengan cara menjamin ketersediaan pupuk di pasaran. Dengan begitu, para petani masih bisa mendapatkan untung di musim tanam kali ini. “Ketersediaan pupuk sangat berguna untuk penanggulangan serangan hama. Kalau pasokan tersendat akan berdampak terhadap panen yang dihasilkan,” tutur dia.

Hal senada juga diungkapkan Sukino, petani di Desa Gejahan yang lain. Menurut dia, jika panen yang dihasilkan tidak maksimal maka akan berpengaruh terhadap pendapatan petani.

“Kalau masih sama seperti di panen kedua, maka kami akan merugi. Sebab, antara hasil dengan biaya operasional yang dikeluarkan tidak sebanding,” kata Sukino.

Dia pun berharap pemkab bisa menjamin ketersediaan pupuk di pasaran. Jika hal tersebut bisa diupayakan, maka Sukino optimistis panennya akan maksimal, karena serangan hama bisa diantisipasi dengan pemupukan secara berkala.

“Untuk perawatan biasanya kami campur antara perpaduan pupuk kimia dengan organik,” ungkapnya.

Pernyataan tak jauh berbeda juga diungkapkan Ketua Gabungan Kelompol Tani Ponjong, Desa Ponjong, Ponjong, Sartono. Menurut dia, proses penyaluran pupuk saat ini relative lancar, namun demikian masih saja ada petani yang tidak kebagian pupuk tersebut.

“Jumlahnya tidak banyak, akan tetapi tetap memberikan pengaruh. Harapannya untuk ke depan penyaluran lebih lancar lagi,” kata Sartono saat dihubungi, kemarin.

Dia menjelaskan, untuk tanaman padi, wilayah Ponjong merupakan daerah pengecualian. Sebab, di wilayah Gunungkidul mayoritas hanya panen maksimal dua kali, sementara di kecamatan ini bisa panen tiga kali dalam setahun.

“Daerah kami lain daripada yang lain, berkat adanya sumber mata air disini sehingga kami bisa melakukan penanaman hingga tiga kali dala setahun,” tutur Sartono.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online