SUMBER ENERGI ALTERNATIF : Minyak Jelantah Dikembangkan Jadi Biodiesel

David Kurniawan
David Kurniawan Kamis, 03 Desember 2015 19:55 WIB
SUMBER ENERGI ALTERNATIF : Minyak Jelantah Dikembangkan Jadi Biodiesel

Peneliti Senior BPPT Agus Salim Dasuki menerangkan cara kerja mesin pengolah minyak nabati yang ada di Baron Teknopark. Mesin-mesin itu digunakan untuk mengolah jelantah menjadi biodiesel, Rabu (2/12/2015). (JIBI/Harian Jogja/David Kurniawan)

Sumber energi alternatif dikembangkan oleh BPPT, berbahan baku minyak jelantah

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Setelah gagal mengembangkan Energi Baru Terbarukan (EBT) berbahan biji jarak pagar, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) kembali melakukan inovasi dengan memanfaatkan minyak goreng bekas (jelantah) sebagai bahan baku pembuatan biodiesel di Baron Teknopark, Desa Kanigoro, Saptosari.

Selain ramah lingkungan, teknologi ini diklaim bisa berpartisipasi dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat.

Sekretaris Utama BPPT Sony Sulistiawan mengatakan, awalnya mesin pengelola minyak nabati yang ada Baron Teknopark difokuskan untuk pengembangan biodiesel dengan bahan baku biji jarak.

Namun, kegagalan dalam penanaman pohon tersebut membuat program tersebut terhenti, sehingga peralatan yang dimiliki digunakan untuk pengembangan energi terbarukan yang lain.

“Masalah ini tidak hanya terjadi di Gunungkidul, karena terjadi di seluruh proyek penanaman jarak di Indonesia. Jadi tidak masalah jika alatnya digunakan untuk pengembangan yang lain,” kata Sony kepada wartawan, usai kegiatan sosialisasi Keberadaan Kawasan Baron Teknopark bagi pelaku pariwisata Gunungkidul di ruang pertemuan Baron Teknopark, Rabu (2/12/2015).

Konsekuensi adanya kegagalan pengembangan EBT berbahan biji jarak, maka alat-alat yang ada digunakan untuk pengembangan teknologi yang lain. Untuk pengembangan biodiesel, kata Sony, bahan baku yang dipilih adalah dengan memanfaatkan jlantah.

“Kami pilih ini [jlantah] karena bahan bakunya banyak. Proses pembuatannya juga sudah dimulai, bahkan cara pengolahan sudah diajarkan ke beberapa siswa SMK di sini,” ungkpanya.

Meski proses pengolahan jlantah menjadi biodiesel berhasil, ia mengingatkan bahwa mesin pengolahan minyak nabati di Baron Teknopark hanya untuk pengembangan, dan tidak untuk produksi secara massal.

Hal ini tidak lepas dari kapasitas produk yang terbatas. Setiap harinya mesin-mesin ini bisa digunakan maksimal tiga kali dengan hasil 250 liter untuk sekali produksi.

“Pengembangan yang dilakukan BPPT, jadi peluang bagi Pemerintah Daerah untuk memroduksinya dengan kapasitas yang besar. Untuk itu, kami siap bekerjasama dalam pengembangan ini,” tutur Sony.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online