Skrining TBC Gunungkidul Belum Optimal, Kesadaran Warga Jadi Kendala

David Kurniawan
David Kurniawan Kamis, 24 September 2026 14:17 WIB
Skrining TBC Gunungkidul Belum Optimal, Kesadaran Warga Jadi Kendala

Petugas kesehatan sedang melayani warga yang memeriksakan diri di UPT Puskesmas Ponjong I, Kabupaten Gunungkidul. Dokumen Harian Jogja

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Penelusuran kasus baru tuberkulosis atau TBC di Gunungkidul hingga akhir Agustus 2026 masih belum mencapai target. Dari sasaran 1.148 kasus baru yang ditetapkan tahun ini, baru 411 kasus yang berhasil ditemukan atau sekitar 35,8%.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono mengatakan penelusuran penderita TBC terus dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit tersebut. Langkah ini ditujukan agar penambahan kasus dapat ditekan sehingga penularan TBC bisa dikendalikan.

“Salah satu upaya yang dilakukan dengan menggelar Active Case Finding Tuberkolosis [ACF TB] di puskesmas-puskesmas di Kabupaten Gunungkidul,” kata Ismono, Kamis (24/9/2026).

Meski kegiatan penelusuran terus dilakukan, Ismono mengakui capaian pencarian kasus aktif TBC belum optimal. Hingga akhir Agustus, jumlah kasus yang terkonfirmasi baru mencapai 411 orang dari target 1.148 kasus.

“Capaiannya baru sekitar 35,8% dari target,” ungkapnya.

Kesadaran Warga Masih Jadi Kendala

Ismono menjelaskan terdapat sejumlah faktor yang membuat penelusuran kasus aktif TBC belum optimal. Salah satunya berkaitan dengan tingkat kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan ketika mengalami gejala yang mengarah pada TBC.

Salah satu indikasinya adalah batuk yang berlangsung selama dua minggu. Kondisi tersebut seharusnya mendorong warga untuk melakukan pemeriksaan, tetapi masih banyak yang menganggap batuk sebagai penyakit biasa sehingga tidak segera menjalani tes.

Selain persoalan kesadaran, kendala juga ditemukan ketika warga menjalani pemeriksaan. Ismono mengatakan ada warga yang tidak dapat mengeluarkan dahak ketika diperiksa sehingga berpengaruh terhadap hasil penemuan kasus.

“Masalah lain, saat diperiksa tidak keluar dahaknya sehingga berpengaruh terhadap hasil temuan kasus. Padahal, pemeriksaan harus melalui dahak untuk mengetahui positif TBC atau tidak,” ungkapnya.

Banyak Warga Gunungkidul Bekerja di Luar Daerah

Persoalan pendataan juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi jumlah temuan kasus TBC di Gunungkidul. Ismono menyebut banyak warga Gunungkidul bekerja di luar daerah dan kemudian dinyatakan positif TBC di wilayah tempat mereka bekerja.

Menurut dia, kasus yang ditemukan di luar Gunungkidul akan masuk dalam pendataan daerah tempat pemeriksaan dan penemuan kasus dilakukan.

“Total ada 100an warga Gunungkidul yang dinyatakan TBC baru, tapi temuan kasus di luar daerah. Jadi, pendataan tidak masuk ke kami karena saat ditemukan di Kota Jogja, maka masuk data kasus baru di sana,” katanya.

Artinya, warga yang berasal dari Gunungkidul tetapi menjalani pemeriksaan dan dinyatakan TBC di daerah lain tidak masuk dalam pencatatan kasus baru Gunungkidul.

ACF TB Menyasar Kontak Erat Penderita

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Gunungkidul, Wanda Abrar mengatakan upaya pencegahan dan penanggulangan TBC tetap dilakukan. Salah satunya melalui kegiatan Active Case Finding Tuberkolosis atau ACF TB yang rutin digelar setiap tahun.

Sasaran penelusuran antara lain warga yang memiliki kontak erat dengan penderita TBC. Mereka termasuk orang yang tinggal serumah dengan penderita penyakit pernapasan tersebut.

“Lewat skrining yang dilakukan menjadi salah satu cara efektif untuk mengetahui penderita TBC, sehingga upaya pencegahan dapat dioptimalka. Pada saat ditemukan kasus baru, bisa langsung diobati sehingga dapat mengurangi Risiko penularan,” katanya.

Wanda menegaskan TBC dapat diobati apabila penderita menjalani pengobatan secara rutin. Obat untuk penderita TBC juga tersedia di puskesmas dan diberikan secara gratis.

“Bisa diobati dan obat tersedia di puskesmas secara gratis,” katanya.

Dengan target 1.148 kasus baru dan temuan sebanyak 411 kasus hingga akhir Agustus, Dinas Kesehatan Gunungkidul masih terus melakukan skrining dan penelusuran. Upaya tersebut dilakukan untuk menemukan penderita lebih awal sehingga pengobatan dapat segera diberikan sekaligus membantu mengurangi risiko penularan TBC.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online