Kemarau, Ratusan Telaga di Gunungkidul Mengering
DPUPRKP Gunungkidul mencatat hampir 90% telaga di Bumi Handayani kondisinya mengalami sedimentasi akut. Akibatnya fungsi jadi tidak optimal sehingga mengering.
Aktivitas warga di lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Wukirsari, Desa Baleharjo, Wonosari untuk melakukan pemisahan terhadap sampah-sampah yang bisa didaur ulang, Minggu (21/2/2016). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Pengelolaan sampah di TPAS Wukirsari Gunungkidul masih dikeluhkan oleh warga sekitar
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Sampah menjadi masalah bagi masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di sekitar lokasi pembuangan. Banyak warga di sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Wukirsari, Desa Baleharjo, Wonosari mengeluh akan adanya bau di tempat tersebut.
Terlebih lagi saat ini Pemerintah Kabupaten sedang mengkaji pengembangan instalasi pengolahan limbah tinja di kawasan itu.
Ketua RT06/RW03, Dusun Wukirsari, Desa Baleharjo Sunardi mengakui persolan sampah di sekitar TPAS merupakan masalah klasik yang belum ada solusinya hingga sekarang.
Setidaknya ada dua masalah yang seringkali muncul, yakni masalah bau dan janji pemberian kompensasi yang belum dipenuhi. “Kita sudah sering bermusyarawah, tapi masalah itu tetap saja muncul,” kata Sunardi, Minggu (21/2/2016).
Dia mencontohkan, untuk masalah bau, faktanya hingga sekarang masih tercium. Bau itu semakin terasa saat musim hujan tiba, seperti saat sekarang.
“Katanya sudah ditanggulangi tapi nyatanya masih tetap saja ada. Yang kami minta adalah tindakah nyata, sehingga warga tidak terganggu adanya polusi,” ujarnya.
Untuk kompensasi, kata Sunardi, warga juga masih menanti janji dari Pemkab Gunungkidul yang akan memberikan uang Rp250.000 ke kas RT setiap bulannya. Namun hingga sekarang, realisasi dari janji itu belum ada, karena pihaknya belum pernah menerima dana kompensasi sepeser pun.
“Janji ini diungkapkan sejak dua tahun lalu, tapi hingga sekarang belum ada buktinya,” ungkapnya.
Pernyataan senada juga diungkapkan Kepala Dusun Wukirsari Agustinus Sutrisno. Menurut dia, masalah sampah belum ada solusi yang pasti. Kondisi jadi semakin pelik dengan adanya wacana dari pemkab untuk mengembangkan Instalasi Pengolahan Limbah Tinja di kawasan.
“Dengan adanya program ini, masalah yang muncul di TPAS jadi bertumpuk. Kami berharap masalah yang ada diselesaikan satu persatu dulu,” katanya.
Dia menegaskan, warga di TPAS sebenarnya tidak menolak adanya fasilitas tersebut. Hanya saja, Sutrisno meminta agar janji-janji yang diberikan ke warga bisa dipenuhi, sedang dalam pengelolaan disesuaikan dengan standar yang ada.
“Kami minta SOP itu ditaati, misal untuk IPLT harus dibangun minimal 500 meter dari pemukiman warga,” tutur dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPUPRKP Gunungkidul mencatat hampir 90% telaga di Bumi Handayani kondisinya mengalami sedimentasi akut. Akibatnya fungsi jadi tidak optimal sehingga mengering.
Harga minyak mentah Indonesia (ICP) turun menjadi US$106,56 per barel pada Mei 2026 dipicu meredanya konflik geopolitik dan melemahnya permintaan global.
Tingkatkan Kebersamaan dan Kebugaran Pegawai, Pemkot Jogja Gelar Lomba Olahraga Tradisional Pada HUT ke-79 Kota Jogja
Investasi Gunungkidul hingga Mei 2026 mencapai Rp394 miliar atau 45,9 persen dari target tahunan. Sektor industri menjadi penyumbang investasi terbesar.
Rusa di Taman Sriwedari Solo viral karena makan sampah. Pemkot Solo menyiapkan penataan kawasan dan pengembangan penangkaran untuk 31 ekor rusa.
Jogja Umrah Travel Fair 2026 digelar di Ambarrukmo Plaza Sleman. Masyarakat diajak memilih travel umrah resmi dan memanfaatkan promo haji serta umrah.