Kemarau, Ratusan Telaga di Gunungkidul Mengering

David Kurniawan
David Kurniawan Minggu, 24 Mei 2026 13:37 WIB
Kemarau, Ratusan Telaga di Gunungkidul Mengering

Ilustrasi Kekeringan - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Ratusan telaga di Kabupaten Gunungkidul kembali mengalami kekeringan seiring datangnya musim kemarau. Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul mencatat sekitar 90 persen telaga di Bumi Handayani tidak lagi berfungsi optimal akibat sedimentasi yang menumpuk selama bertahun-tahun.

Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Nomor 345/KPTS/2022 tentang penetapan daftar telaga, terdapat 359 telaga yang tersebar di 18 kapanewon di Gunungkidul. Namun, dari jumlah tersebut hanya sebagian kecil yang masih mampu menampung air, sementara sisanya mengering saat musim kemarau tiba.

Kondisi tersebut terlihat jelas di sejumlah lokasi, salah satunya di Telaga Budegan, Padukuhan Piyaman, Kapanewon Wonosari, yang berada di tepi Jalan Wonosari–Nglipar. Saat ini, area telaga tersebut tampak kering dan bahkan sebagian lahannya dimanfaatkan warga untuk menanam jagung dan tanaman lain.

Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPRKP Gunungkidul, Sigit Swastono, menyebutkan bahwa dari hasil pendataan terbaru terdapat sekitar 329 telaga yang tidak berfungsi, sementara hanya sekitar 20 telaga yang masih memiliki air meski debitnya menurun saat kemarau.

“Hampir 90 persen telaga di Gunungkidul tidak berfungsi saat kemarau karena airnya mengering,” ujar Sigit, Ahad (24/5/2026).

Ia menjelaskan, penyebab utama kondisi ini adalah pendangkalan akibat sedimentasi lumpur yang menumpuk, sehingga kapasitas tampung air semakin berkurang dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut membuat telaga lebih cepat kering ketika curah hujan menurun.

Selain faktor alam, perubahan fungsi lahan juga turut memperparah kondisi sejumlah telaga. Sebagian area yang sebelumnya berfungsi sebagai penampungan air kini telah berubah menjadi lahan pertanian, meskipun tidak disebutkan secara rinci jumlahnya.

Namun, upaya pemulihan masih terkendala keterbatasan anggaran. Tahun ini, DPUPRKP belum mengalokasikan dana khusus untuk pengerukan atau revitalisasi telaga karena anggaran difokuskan pada rehabilitasi jaringan irigasi guna mendukung program ketahanan pangan.

Meski demikian, pemerintah daerah tetap mendorong adanya program revitalisasi di masa mendatang serta mengajak masyarakat berpartisipasi melalui kegiatan penanaman di area sekitar telaga. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi laju sedimentasi yang masuk ke dalam telaga saat hujan deras.

Lurah Pacarejo, Kapanewon Semanu, Suhadi, juga mengungkapkan bahwa dari 13 telaga di wilayahnya, hanya beberapa yang masih berfungsi seperti Telaga Jonge, Ledok, Sri Lutut, dan Sruweng. Selebihnya sudah mengering setiap musim kemarau.

Ia berharap adanya program pemulihan agar telaga dapat kembali berfungsi sebagai penampung air alami yang penting bagi pertanian, peternakan, hingga potensi perikanan warga sekitar.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online