Kelok 23 Selesai, Investor JJLS Gunungkidul Diminta Tak Langgar Aturan
Investor di kawasan JJLS Gunungkidul diminta mematuhi perizinan dan menjaga lingkungan setelah Kelok 23 selesai dibangun.
Kondisi turunan terakhir menuju lokasi wisata green village di Desa Mertelu, Gedangsari. Jumat (8/4/2016). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Infrastruktur Gunungkidul di Green Village perlu mendapat perhatian.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Sejumlah pengunjung mengeluhkan akses jalan menuju green village di Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari. Jika terus dibiarkan kondisi ini akan memengaruhi minat wisatawan untuk berkunjung ke lokasi wisata yang dibuat menggunakan danan MP3KI.
Pantauan yang dilakukan oleh Harianjogja.com, Jumat (8/4/2016), kondisi menuju ke green village banyak yang rusak. Bahkan sepanjang satu kilometer terakhir menuju obyek masih berupa tatanan batu alam. Kondisi ini belum ditambah beberapa tanjakan sehingga pengjung harus berhati-hati, terutama saat musim hujan seperti sekarang.
Lokasi wisata di Desa Mertelu ini sebenarnya bisa menjadi alternative destinasi wisata di Gunungkidul. selain menawarkan keindahan panorama perbukitan, lokasi ini juga mulai dikenal sebagai New Zealand-nya DIY.
“Pemandangannya sangat bagus, tapi jalannya masih lumayan ekstrem,” kata Andi Setyawan, salah seorang pengunjung asal Klaten, Jawa Tengah, kemarin.
Dia menjelaskan, jalan menuju ke lokasi masih belum bagus. Andi mencatat ada tiga kondisi jalan, mulai dari aspal yang mulai rusak, jalan cor blok hingga tatanan batu alam.
“Kondisi ini belum ditambah jalanan yang naik turun. Bahkan di 200 meter terakhir ada turunan curam, di mana pengunjung harus berhati-hati karena jalannya agak licin dikarenakan guyuran hujan,” ungkapnya.
Hal senada diungkapkan oleh Ernawati, pengunjung asal Kota Jogja. Menurut dia, green village memiliki keindahan alam yang sangat bagus, tapi sayangnya jalan menuju lokasi menjadi kendala tersendiri. Dia meyakini, jika akses jalan bisa diperbaiki maka tingkat kunjungan wisatawan bisa lebih ramai lagi. Oleh karenanya, Ernawati berharap agar jalan menuju ke lokasi bisa lebih diperhatikan lagi.
“Yang jadi masalah hanya akses jalan, sedang untuk fasilitas sudah baik. Apalagi di sana juga ada tempat bermain anak,” katanya.
Sementara itu, Camat Gedangsari Muhammad Setyawan Indriyanto mengakui proses pembangunan green village belum sepenuhnya selesai, terutama berkaintan dengan akses menuju lokasi. Dia tidak menampik bahwa keberadaan tatanan batu alam di sebagian jalan merupakan upaya pengerasan. Hal itu dilakukan karena lokasi tersebut merupakan pembentukan jalan baru.
“Tidak mungkin langsung diaspal atau dicor blok langsung, karena butuh pengerasan terlebih dahulu agar jalan kuat dan tahan lama saat diperbagus,” kata Setyawan.
Untuk perbaikan jalan, dia mengaku sudah berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gunungkidul. diharapkan adanya koordinasi ini makin mempermudah upaya perbaikan dalam program rencana strategis kawasan pariwisata.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Investor di kawasan JJLS Gunungkidul diminta mematuhi perizinan dan menjaga lingkungan setelah Kelok 23 selesai dibangun.
Perbandingan iPhone 18 Pro Max vs Galaxy S27 Ultra dari kamera, baterai, chipset, layar, harga hingga prediksi spesifikasinya.
Sebanyak 42 penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau hingga Minggu sore.
Pesawat aerosport Sky Ranger jatuh dan terbakar di persawahan Blora. Dua awak selamat dengan luka ringan setelah pendaratan darurat.
Garuda Indonesia membatalkan penerbangan dari dan menuju Jakarta, Bandung, dan Lampung hingga 7 September 2026 akibat abu vulkanik Anak Krakatau.
Perempuan 64 tahun di Nepal ditemukan selamat setelah 10 hari tertimbun reruntuhan akibat banjir bandang yang menerjang wilayah Rasuwa.