Medan Sulit Bikin Harga Air Bersih Gedangsari Rp350.000 per Tangki
Harga air bersih di Gedangsari Gunungkidul tembus Rp350.000 per tangki. Medan perbukitan dan jauhnya sumber air membuat biaya distribusi mahal.
Seorang warga membukukuan tanda tangan untuk meminta Kadus Mokol Eko Setyawan mundur. Proses tanda tangan ini dilakukan di teras mushola Polsek Wonosari. Senin (18/4/2016). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Perselingkuhan Gunungkidul terungkap.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Perwakilan warga yang datang ke polsek, Sugiyanto membenarkan adanya tuntutan mundur untuk Kepala Dusun Mokol, Desa Selang, Kecamatan Wonosari Eko Setyawan. Desakan ini muncul karena yang bersangkutan dinilai tidak bisa mengemban amanan sebagai pemimpin. Sedang dari sisi prilaku juga memiliki tabiat buruk karena diduga melakukan perselingkuhan.
Sebagai bentuk keseriusan dari tuntutan ini, enam Ketua RT dan sejumlah warga telah membukukan tandatangan pernyataan sikap.
“Kami sudah sepakat. Memang yang datang saat ini [kemarin] baru puluhan orang, tapi jika dibutuhkan kami siap mendatangkan seluruh warga Mokol,” katanya, Senin (18/4/2016)
Menurut dia, tuntutan mundur terhadap Eko dikarenakan beberapa faktor. Selain karena kinerja selama menjabat tidak ada perkembangan yang baik, yang bersangkutan juga tersangkut kasus dugaan perselingkuhan.
“Tidak elok jika seorang pemimpin melakukan selingkuh, apalagi dia [Eko] sudah memiliki keluarga sendiri,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan oleh Suhendra, warga Dusun Mokol yang lain. Menurut dia, perilaku kurang baik dari Eko bukan hanya dilakukan sekali, karena sudah kepergok beberapa kali. “Warga sudah sering melakukan pengintaian, dan puncaknya ditangkap dini hari tadi [kemarin],” katanya.
Terpisah, Kepala Desa Selang, Wonosari, Wardoyo mengakui sudah melakukan mediasi mengenai masalah yang menimpa Kepala Dusun Mokol Eko Setyawan. Dari pertemuan itu disepakati jika Eko siap mengundurkan diri sebagai kadus.
“Semua sudah diselesaikan dan ayng bersangkutan telah menyatakan mundur dengan membuat surat pernyataan,” kata Wardoyo.
Untuk tindak lanjut keputusan mundur ini, Wardoyo mengaku akan memrosesnya di kantor kepada desa. “Pernyataan mundur itu akan dijadikan dasar untuk memberhentikan Kadus Mokol,” ujarnya.
Kepala Dusun Mokol, Eko Setyawan saat ditemui di rumahnya, Senin sore, belum mau berkomentar panjang lebar mengenai surat pernyataan mundur dari jabatan dan juga kasus perselingkuhan yang dialaminya. Dia beralasan untuk saat sekarang ingin menenangkan diri terlebih dahulu.
"Saya belum berkomentar, karena saya ingin tenang dulu," katanya.
Di waktu yang hampir bersamaan, di tempat lain tepatnya di Desa Bunder, Patuk juga terjadi aksi yang sama. Hanya saja desakan dialamatkan kepada Kepala Desa Bunder, Kabul. Dia diminta mundur karena diduga melakukan penyelewengan dana pembangunan desa. Namun tuntutan ini tidak diindahkan, Kabul. Dihadapan warga dan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Bunder, dia menegaskan tidak akan mundur dari jabatan yang diduduki selama dua periode ini.
“Sebelum ada keputusan dari persidangan, maka saya tetap kades,” kata Kabul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Harga air bersih di Gedangsari Gunungkidul tembus Rp350.000 per tangki. Medan perbukitan dan jauhnya sumber air membuat biaya distribusi mahal.
YIA tetap beroperasi normal meski 30 penerbangan terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau dan penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta.
BMKG memprakirakan cuaca Senin didominasi cerah berawan hingga berawan tebal. Simak prakiraan cuaca dan suhu lima wilayah DIY.
Anggaran Banper MBG 2027 dipangkas Rp30 triliun menjadi Rp232,5 triliun. BGN tetap menargetkan 72,46 juta penerima manfaat.
Kemenkes menerbitkan SE terkait dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Simak imbauan untuk fasilitas kesehatan dan masyarakat.
Perguruan tinggi perlu memastikan lingkungan kampus terbebas dari kekerasan serta memiliki mekanisme yang jelas untuk menangani kasus ketika kekerasan terjadi.