Medan Sulit Bikin Harga Air Bersih Gedangsari Rp350.000 per Tangki
Harga air bersih di Gedangsari Gunungkidul tembus Rp350.000 per tangki. Medan perbukitan dan jauhnya sumber air membuat biaya distribusi mahal.
Ilustrasi Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), dan Kartu Indonesia Sehat (KIS). (JIBI/Solopos/Antara/Dewi Fajriani)
BPJS Kesehatan untuk pendataan dikeluhkan.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Akurasi data kepesertaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang terintegrasi dalam (Kartu Indonesia Sehat) dipersoalkan warga. Keluhan itu salah satunya disuarakan oleh Nur Widiyanto,40, warga Desa Ngawu, Kecamatan Playen.
Dikarenakan kesalahan tersebut, ia tidak bisa menggunakan fasilitas kesehatan itu. Sebab, dalam data yang tercatat Widiyanto telah dinyatakan meninggal dunia.
Dia mengetahui masalah ini saat akan berobat ke Rumah Sakit Daerah Wonosari. Saat menunjukan kartu itu ditolak oleh petugas dengan alasan kartu sudah dibekukan. Untuk mengetahui penyebab pembekuan tersebut, dia minta untuk mengecek ke Kantor BPJS. Hasilnya pun mengagetkan karena pemegang KIS dinyatakan meninggal sehingga kartunya dibekukan.
“Saya ini masih hidup tapi kenapa sudah dinyatakan meninggal. Akibat kesalahan itu, ia pun harus merogoh kocek pribadi untuk berobat,” kata Widiyanto kepada wartawan, Jumat (13/5/2016).
Dia berharap permasalahan itu bisa segera dilakukan karena sebagai peserta dia merasa dirugikan, meski secara premi dirinya masuk dalam kategori kurang mampu sehingga dibiayai oleh negara. Widiyanto pun mengaku sudah ke Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Gunungkidul untuk perbaikan itu. hanya saja, oleh petugas di sana bahwa perbaikan tidak bisa dilakukan secara langsung karena harus menunggu selama 14 hari.
“Mudah-mudahan bisa diperbaiki sehingga saya bisa menggunakan kartu itu lagi untuk berobat,” tuturnya.
Dinsosnakertrans Janji Akan Bertanggungjawab
Sementara itu, Kepala Dinsosnakertrans Gunungkidul, Dwi Warna Widi Nugraha mengaku terkejut dengan adanya keluhan dari warga terkait dengan kartu BPJS. Dia pun berjanji siap bertanggungjawab dan melakukan perbaikan terhadap kesalahan dalam input data.
“Secepatnya akan kami urus karena ini menyangkut fasilitas kesehatan milik warga,” katanya.
Untuk mengetahui kelanjutan mengenai keluhan itu, Dwi Warna pun menyarankan untuk mengecek ke bidang sosial yang menangani masalah tersebut.
“Pasti akan kami tangani tapi untuk teknisnya ke bidang sosial saja,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Sosial Dinsosnakertrans Gunungkidul CH Suyatmiyatun membenarkan adanya keluhan dari warga terkait dengan kesalahan dalam input data. Laporan yang masuk terjadi merasa dirugikan karena masih hidup tapi dinyatakan sudah meninggal.
“Proses perbaikan masih berlangsung karena jangka waktunya ada 14 hari baru kartu yang dimiliki bisa aktif lagi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Harga air bersih di Gedangsari Gunungkidul tembus Rp350.000 per tangki. Medan perbukitan dan jauhnya sumber air membuat biaya distribusi mahal.
Goa Selarong Bantul akan direvitalisasi dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp425 juta. Dinas Pariwisata mencari dukungan CSR untuk memperbaiki fasilitas.
Franco Morbidelli resmi meninggalkan VR46 Racing Team setelah MotoGP 2026. Simak perjalanan kariernya dan peluang pindah ke WorldSBK 2027.
Thailand menegur Israel terkait perilaku sejumlah wisatawan di Koh Phangan, Koh Samui, dan Phuket. Thailand juga memperketat aturan bagi warga asing.
Laptop Windows mulai lambat atau penyimpanan penuh? Simak cara menghapus aplikasi dengan aman, mematikan startup, dan menggunakan Storage Sense.
Marco Bezzecchi menghadapi MotoGP San Marino 2026 di Misano, hanya beberapa kilometer dari rumahnya di Rimini. Ia masih memburu gelar juara dunia.