Nelayan Asal Riau Meninggal di Laut Gunungkidul, Ini Kronologinya
Nelayan asal Riau meninggal saat melaut di Pelabuhan Sadeng, Gunungkidul. Korban sempat mengeluh sakit dada sebelum ditemukan meninggal.
Suasana di Terminal Dhaksinarga Gunungkidul (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Lebaran 2016 untuk jumlah pemudik Gunungkidul diperkirakan naik tajam.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Jumlah pemudik tahun ini diprediksi meningkat sekitar 11% dibandingkan dengan tahun lalu. Hal ini disampaikan Bupati Gunungkidul Badingah usai menggelar rapat koordinasi persiapan Lebaran di Ruang Rapat I Pemkab.
Menurut dia, tahun lalu ada sekitar 150.000 orang yang merayakan Hari Raya Idulfitri di Gunungkidul. Adanya kenaikan sekitar 11%, maka diprediksi pemudik tahun ini mencapai 166.500 orang. Kenaikan ini tidak lepas adanya tradisi pemudik yang membawa sanak saudaranya bekerja di luar daerah. Selain itu ada juga warga yang ingin mencari pengalaman bekerja ke luar daerah setelah lebaran.
Badingah pun tidak memermasalahkan adanya tradisi ini. Namun yang paling penting para pencari kerja memiliki ketrampilan dan bisa bersikap profesional.
“Baiknya mereka bekerja di tanah kelahiran sendiri. Tapi kalau mau cari pengalaman di luar, tentunya tidak bisa dilarang,” kata Badingah kepada wartawan, Senin (27/6/2016).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Nelayan asal Riau meninggal saat melaut di Pelabuhan Sadeng, Gunungkidul. Korban sempat mengeluh sakit dada sebelum ditemukan meninggal.
BMKG memantau sebaran abu vulkanik Anak Krakatau hingga 50.000 kaki yang berdampak pada empat bandara dan keselamatan penerbangan.
Bandara YIA membatalkan 9 penerbangan dan menunda 1 penerbangan akibat dampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.
Abu vulkanik Anak Krakatau menyebar hingga Pekalongan, Pariaman, dan Padang Panjang. Tiga bandara menghentikan operasi sementara.
Marc Klok membidik kemenangan Persib Bandung atas PSM Makassar pada laga perdana BRI Super League 2026/2027 di GBLA.
Abu vulkanik Anak Krakatau terpantau hingga 50.000 kaki dan menyebar ke Jabodetabek, Banten, Lampung, Bengkulu hingga Sumatra Selatan.