Kunjungan Wisata Moncer, DPRD Gunungkidul Bidik PAD Rp60 Miliar
PAD wisata Gunungkidul sudah lebih dari Rp50 miliar. DPRD mendorong target retribusi wisata 2026 dinaikkan menjadi Rp60 miliar.
Selain menyetor ke toko oleh-oleh, Heriyanto juga masih menjajakan belalang goreng di tepi jalan Semanu-Wonosari, Kamis (26/3/2015). (JIBI/Harian Jogja/Khusnul Isti Qomah)
Kuliner Gunungkidul berupa belalalng goreng masih jadi primadona
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Belalang goreng masih menjadi penganan khas asli Gunungkidul. Untuk persiapan liburan para pengusaha pun memperbanyak stok makanan yang dulu dikenal sebagai hama tanaman itu. Bahkan untuk mendapatkan bahan baku belalang terpaksa harus mendatangkan belalang dari luar daerah seperti di Kulonprogo hingga Purworejo, Jawa Tengah.
Salah seorang pengusaha belalang goreng asal Desa Selang, Wonosari, Subagyo mengaku sudah kebanjiran orderan untuk belalang goreng. Saking banyaknya pesanan, ia pun terpaksa mendatangkan stok dari luar daerah.
Menurut dia, makanan ini terdiri dari beberapa variasi rasa seperti bacem goreng, manis dan pedas. Sedang untuk pembelian, pengunjung tinggal memilih mau yang dikemas dalam toples atau pun dibungkus dalam plasti. “Untuk yang toples kami jual dengan harga Rp30.000-35.000,” kata Subagyo.
Menurut dia, stok sekitar 1,8 ton untuk lebaran tidak hanya dijual sendiri. Sebab makanan ini juga dikirimkan ke sejumlah pedagang yang ada di Wonosari dan wilayah sekitarnya. Untuk pasokan, ia mengaku sudah lama kesulitan mendapatkan stok dari Gunungkidul. selama ini pasokan belalang banyak dipenuhi dari luar daerah seperti Kulonprogo dan Purworejo.
“Di sini sudah sulit mencarinya,” katanya.
Sulitnya mencari belalang diakui oleh Edi, pemburu belalang asal Kepek, Saptosari. Menurut dia, untuk mencari belalang tidak hanya mengandalkan wilayah di Gunungkidul, karena pencari sering melakukan perburuan di kawasan pesisir mulai dari Bantul, Kulonprogo hingga Purworejo.
“Yang cari banyak. jadi untuk mendapatkan tangkapan yagn lebih jadi harus sampai merambah ke daerah lain,” ujarnya.
Menurut Edi, perburuan belalang sudah mulai ada perubahan, dimana pemburu tidak lagi mengandalkan cundit (alat penangkap belalang), karena ada yang mulai menggunakan lem sebagai alat menangkap. “Namun saya lebih memilih menggunakan cundit, karena hasil tangkapan lebih alami. Beda dengan menggunakan lem, kalau tidak dicuci dengan bersih rasa belalang akan pahit,” ungkapnya.
Tiwul Masih Banyak Dicari
Selain belalang goreng, masih banyak makanan khas, semisal Tiwul dan Gatot. Pemilik Oleh-oleh Yu Tum, Slamet mengatakan, menyambut lebaran ini, sudah menyiapkan gaplek hingga dua ton sebagai bahan baku pembuatan tiwul.
“Memang ada yang mencari makanan lain, tapi kebanyakan pengunjung yang datang untuk membeli Tiwul,” katanya.
Bagi pengunjung yang ingin mendapatkan makanan khas asli Gunungkidul, tidak perlu khawatir. Sebab, untuk mendapatkan makanan ini juga tidak sulit karena di sekitar jalan Jogja-Wonosari, tepatnya di Desa Logandeng, deretan toko-toko itu dengan mudah akan ditemukan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PAD wisata Gunungkidul sudah lebih dari Rp50 miliar. DPRD mendorong target retribusi wisata 2026 dinaikkan menjadi Rp60 miliar.
Pertamina Patra Niaga meminta masyarakat mengawasi penyaluran Pertalite dan biosolar di tengah gangguan distribusi BBM akibat sungai surut.
Arya Saloka mengungkap pengalaman menjadi cowboy dan belajar berkuda di film Empat Musim Pertiwi yang tayang 8 Oktober 2026.
Kisah mendalam 2.000 pekerja PT Woneel Midas Leathers di Gunungkidul yang memproduksi sarung tangan olahraga kelas dunia hingga rencana ekspansi.
Dosen UGM Cahyaningrum Dewojati mengaku KTP-nya dipinjam untuk formalitas yayasan Little Aresha, tetapi namanya masuk struktur kepengurusan.
15 universitas terbaik di Jawa Tengah versi Webometrics September 2026. Undip menjadi kampus dengan peringkat tertinggi di Jawa Tengah.