Gerakan Ekstrem Seperti Penyakit
Gerakan ekstrem radikal seperti halnya penyakit, yang jika didiamkan atau tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah, akan mengancam dan mengudeta NKRI dalam level konstitusional.
Kongres Asosiasi Science Center Indonesia keempat yang berlangsung selama dua hari, 13-14 September 2017, menghasilkan rekomendasi yang meminta beberapa kementerian untuk terlibat aktif
Harianjogja.com, JOGJA --Kongres Asosiasi Science Center Indonesia keempat yang berlangsung selama dua hari, 13-14 September 2017, menghasilkan rekomendasi yang meminta beberapa kementerian untuk terlibat aktif dalam pengembangan Science Center di Indonesia.
Menurut Ketua Umum Asosiasi Science Center Indonesia (ASCI), Syachrial Annas, rekomendasi yang dihasilkan pada kongres tersebut menyasar tiga kementerian, yakni Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
“Kemenristekdikti kedepan agar lebih mendorong perguruan tinggi untuk terlibat aktif dalam mendampingi Science Center sehingga program-programnya bisa lebih berkembang,” jelas Annas saat ditemui di Taman Pintar, Kamis (14/9/2017).
Sedangkan rekomendasi untuk Kemendagri, kata Annas adalah mewajibkan setiap provinsi untuk memiliki Science Center. Ia mengungkapkan, di Indonesia baru ada 22 Science Center dan itu tidak semuanya berposisi di provinsi. Ada yang dimiliki oleh kabupaten seperti misalnya, Science Center yang ada di Gianyar, Bali.
Annas menyebut, jika semua provinsi diwajibkan memiliki wahana tersebut, maka jumlah Science Center di Indonesia akan semakin banyak. “Sementara untuk Kemendikbud rekomendasinya adalah mewajibkan semua siswa ke Science Center,” ujar Annas.
Hal-hal tersebut, ketika terrealisasi maka akan membuat Science Center menjadi semakin berkembang dan bisa membuat masyarakat semakin mencintai sains. Namun, meski demikian, Annas menyebut, pengelola Science Center juga harus ikut berbenah.
Ia mengatakan ada tiga hal utama yang harus dilakukan untuk memajukan Science Center, yakni pengelolaan harus dilaksanakan secara professional, dalam artian tidak bergantung pada uang pemerintah; peningkatan kualitas pemandu dan menggencarkan promosi.
“Jangan sampai anak-anak datang pemandunya membelakanginya mereka. Pemandu harus selalu semangat dalam memberikan berbagai penjelasaan dan peragaan. Pemandu yang baik itu yang susah, tapi itu adalah tantangannnya,” tambahnya.
Kongres ASCI keempat sendiri dilangsungkan selama dua hari di tempat yang berbeda-beda. Pada hari pertama, kongres dilangsungkan di Hotel Grand Inna Malioboro sementara hari kedua dilaksanakan di Taman Pintar.
Wakil Ketua Umum ASCI, Afia Rosdiana berharap kongres tahun 2017 bisa membuat Science Center semakin maju dan bisa semakin menarik minat masyarakat, khususnya pelajar untuk semakin mencintai sains.
“Ketika paham sains, maka manusia akan berperilaku dengan lebih bijak. Contoh kecilnya adalah ibu yang paham sains tidak akan menyemprotkan cairan pembunuh kecoa di dekat kompor yang menyala,” tutup Afia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gerakan ekstrem radikal seperti halnya penyakit, yang jika didiamkan atau tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah, akan mengancam dan mengudeta NKRI dalam level konstitusional.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa optimistis IHSG akan rebound pekan depan didukung fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai tetap kuat.
Dinkes Sleman perketat pemisahan jeroan kurban untuk cegah kontaminasi dan risiko penyakit saat Iduladha 2026.
Disdukcapil Bantul mencatat 985.142 penduduk pada 2025. Banguntapan menjadi wilayah terpadat dengan 118.712 jiwa.
Polda Metro Jaya menangkap 173 tersangka dari 127 kasus kejahatan jalanan di Jakarta selama 1–22 Mei 2026 melalui operasi terpadu.
UPNV Jogja menonaktifkan lima dosen terkait dugaan kekerasan seksual. Seluruh aktivitas Tridharma dihentikan selama proses investigasi.