2.000 Warga Magelang Tebus Sembako Murah dari PSMTI
Sebanyak 2.000 warga Magelang menebus sembako murah dari PSMTI. Program sosial ini membantu meringankan beban masyarakat di tengah tekanan ekonomi.
Ribuan orang menyaksikan Festival Garis Imajiner 2017 yang digelar Dinas Kebudayaan (Disbud) Sleman, Kamis (21/9/2017) sore.
Harianjogja.com, SLEMAN- Ribuan orang menyaksikan Festival Garis Imajiner 2017 yang digelar Dinas Kebudayaan (Disbud) Sleman, Kamis (21/9/2017) sore. Festival yang digelar di bantaran Kali Code tersebut akan berlangsung hingga Sabtu (23/9/2017) di kali Code, Blunyah Gede, Sinduadi, Mlati.
Festival tersebut diawali dengan kegiatan Kirab Budaya dari tiga titik keberangkatan. Mulai Monumen Jogja Kembali (Monjali) Pasar Kutu dan Hotel Tentrem. Iringan kirab bersama-sama menuju Jembatan Baru UGM. Di lokasi tersebut disediakan panggung pergelaran seni budaya yang melibatkan 21 grup seni budaya.
Pertunjukan budaya digelar malam hari di panggung bawah jembatan baru UGM. Salah satunya, pagelaran sendratari akbar dengan melibatkan lima penata tari muda seperti Hajar Wisnu Satoto, Gaung Rakayan Kinanta, Dewi Lustyaningrum, Icuk Ismunandar dan Ari Kusumaningrum.
Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Sleman HY Aji Wulantara menjelaskan, arak-arakan tersebut merupakan Kirab Megangampak Hangrangin (Arak-arak yang dipenuji semilir angin). Melibatkan banyak kelompok seni dan budaya.
"Kami ajak mereka untuk aktif melestarikan seni dan budaya," kata Aji di sela-sela kegiatan.
Dia menjelaskan, garis imajiner merupakan salah satu penanda istimewa DIY. Garis bayangan tersebut merupakan garis penghubung antara Gunung Merapi, Keraton dan Pantai Selatan. Wilayah Sleman, katanya, masuk di garis imajiner Jogja. "Kalau sumbu imajiner itu menghubungkan antara Panggung Krapyak, Kraton, Tugu,"katanya.
Ajang festival tersebut digagas untuk membangkitkan dan melestarikan budaya yang selama ini berada di masyarakat. Festival tersebut digelar sebagai wujud apresiasi kekayaan budaya yang adiluhung. "Kami ingin membangun Sleman yang berbudaya," harapnya.
Beragam pagelaran seni juga disiapkan selama festival. Seperti pegelaran seni kerakyatan Sleman Hanengsemi (Sleman yang mempesona), dan pergelaran seni kerakyatan dan pertunjukan budaya Mataram Mangarsi (kehadiran Mataram).
Selain itu juga dipentaskan juga kelompok kethoprak dan wayang kulit yang menampilkan tiga dalang senior Ki Edy Suwondo, Ki Bayu Sugati dan Ki Sutikno serta lima dalang cilik mulai Zaku Kaditama, Aditya Sandhi Sadewa, Bernadeta Astri Putri, Geang Bayu Tetuko dan Davin Mahatma.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 2.000 warga Magelang menebus sembako murah dari PSMTI. Program sosial ini membantu meringankan beban masyarakat di tengah tekanan ekonomi.
Dinsos Kulonprogo mengingatkan penerima bansos wajib mendaftar Perlinsos karena aplikasi ini akan menjadi basis data penyaluran bantuan mulai 2027.
Muhammad Qodari membantah sejumlah tudingan terhadap Bakom, termasuk isu Timothy Ivan, rekrutmen PAN, dan anggaran media Rp60 miliar.
Menyusuri kawasan dalam benteng sambil mengayuh sepeda menjadi cara yang dipilih dalam Amazing Race bertajuk “Ngepit Jeron Benteng” pada Jogja World Heritage
Sebanyak 92.055 warga Gunungkidul terdampak kekeringan. Kapanewon Tepus menjadi wilayah terparah dengan 24.875 jiwa mengalami krisis air.
Disdag Jogja menggelar Gemati di 22 pasar selama Oktober 2026. Belanja minimal Rp20.000 berpeluang mendapat smartphone hingga sepeda.