Alasan Siswa Sekolah Rakyat dari Gunungkidul Belajar di Sleman-Bantul
Siswa Sekolah Rakyat Gunungkidul masih belajar di luar daerah karena lahan belum tersedia, kuota terbatas
Sejumlah nelayan sedang mengambil ikan yang terperangkap jaring. Aktivitas ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh puluhan nelayan yang ada di Pantai Baron, Desa Kemadang, Tanjungsari. Foto diambil beberapa waktu lalu. (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Konversi Gas Dibayangi Kelangkaan Pasokan.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-- Nelayan di Gunungkidul antusias dengan program konversi gas untuk bahan bakar menangkap ikan. Namun demikian, mereka berharap agar pasokan diperhatikan sehingga tidak ada kelangkaan saat program benar-benar dijalankan.
Ketua Kelompok Nelayan Baron di Desa Kemadang, Tanjungsari Sumardi mengakui pernah mendapatkan sosialisasi tentang rencana konversi bahan bakar untuk melaut. Dalam sosialisasi dijelaskan, akan ada perubahan dari penggunaan bahan bakar minyak menjadi gas.
Secara prinsip, lanjut Mardi, nelayan tidak keberatan dengan program tersebut. Terlebih lagi, penggunaan gas dinilai lebih irit sehingga dapat menekan pengeluaran nelayan pada saat melaut. “Untuk sekarang, kami masih menunggu realisasi program tersebut,” katanya Kamis (12/10/2017).
Menurut dia, meski program konversi memiliki tujuan baik untuk meningkatkan kesejahteraan, namun nelayan tetap khawatir dengan pelaksanaan tersebut tidak akan berjalan mulus. Ketakutan muncul bukan lantaran karena adanya penolakan, tapi disebabkan kekhawatiran terhadap pasokan gas saat program benar-benar dijalankan.
Mardi mengungkapkan, kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Pasalnya, pasokan gas elpiji kemasan tiga kilogram sering mengalami keterlambatan sehingga berpengaruh terhadap stok di pasaran.
“Sekarang saja pasokan sering tersendat, apalagi kalau nanti konversi berjalan. Untuk itu, kami meminta sebelum dijalankan pasokan di pasaran harus benar-benar diperhatikan,” ungkapnya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Ketua Kelompok Nelayan Saden, Sarpan. Menurut dia, dari sisi perubahan tidak ada masalah. Namun yang paling penting, pemerintah dapat menjamin ketersediaan pasokan gas. “Jangan sampai saat kami menggunakan gas, ternyata barangnya tidak ada. Jadi hal tersebut harus benar-benar diperhatikan sehingga tidak menganggu aktivitas nelayan saat melaut,” katanya.
Sarpan menuturkan, kekhawatiran terkait dengan pasokan sudah disampaikan saat dilakukan sosialiasi konversi gas untuk melaut. Diharapkan, aspirasi dari nelayan dapat benar-benar diperhatikan sehingga upaya mewujudkan kesejahteraan dapat direalisasikan dengan nyata. “Itu jadi permintaan kami karena secara prinsip nelayan tidak keberatan jika harus menggunakan gas untuk melaut,” imbuh dia.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul Khairudin mengungkapkan pembagian converter kit dalam rangka konversi BBM ke gas bagi nelayan belum dilakukan. Ini lantaran, pemerintah masih melakukan sosialiasi program sehigga pelaksanaannya kemungkinan besar dilakukan pada tahun depan. “Untuk menyukseskan program ini, kami siap membantu dengan melakukan pendataan kepada nelayan yang akan mendapat bantuan converter kit,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Siswa Sekolah Rakyat Gunungkidul masih belajar di luar daerah karena lahan belum tersedia, kuota terbatas
Pencegahan stunting tidak hanya difokuskan pada anak, karena ibu juga harus mendapat perhatian.
PAD wisata Bantul baru Rp8,4 miliar hingga Mei 2026, turun dari tahun lalu. Faktor ekonomi dan kunjungan jadi penyebab.
DPAD DIY bersama DPRD DIY menggelar bedah buku bertajuk Menjadi Pemuda di Zaman yang Tak Mudah di Rompok Ndeso, Kuwaru RT 02, Kalurahan Poncosari, Bantul.
Wali Kota Jogja Hasto dorong kampung wisata jadi ruang belajar. Turis asing diusulkan ikut mengajar anak-anak.
Jadwal KRL Solo–Jogja Jumat 22 Mei 2026 kembali normal. Cek jam keberangkatan lengkap dari Palur hingga Tugu Jogja.