Kampus Berkelanjutan, UMY Kembangkan Energi Surya hingga Daur Ulang Air
UMY memperkuat kampus berkelanjutan dengan 48 panel surya, rencana SPKLU, penambahan sepeda, perbaikan jalur pejalan kaki, dan daur ulang air.
Dewan Pendidikan DIY menilai penyajian soal essay pada Ujian Nasional (UN) 2018 dapat mengembangkan kreativitas anak
Harianjogja.com, JOGJA - Dewan Pendidikan DIY menilai penyajian soal essay pada Ujian Nasional (UN) 2018 dapat mengembangkan kreativitas anak. Meski demikian, panitia UN harus konsekuen menyediakan petugas koreksi lebih dari satu orang setiap satu siswa agar objektif.
Ketua Dewan Pendidikan DIY Danisworo menilai sudah waktunya ada soale essay dalam Ujian Nasional. Mengingat, selama ini UN hanya menyajikan soal pilihan ganda yang membuat anak tidak terpacu kreativitasnya.
Justru dengan essay, siswa akan lebih tergugah kreativitasnya dalam memberikan jawaban. Apalagi dunia pendidikan saat ini menuntut siswa atau anak bisa mandiri dan berani mengemukakan pendapat baik secara lisan maupun tulisan.
"Kalau pilihan ganda kan, anak jadi seperti robot, dengan essay siswa bisa mengungkapkan pendapatnya lebih banyak. Jangan sampai hanya sekedar spekulasi [soal pilihan ganda]," terangnya, Selasa (14/11/2017).
Soal essay, kata dia, akan membentuk keseimbangan kreativitas anak antara lisan dan tertulis dalam berpendapat. Selain itu untuk menjawab essay seorang siswa harus memiliki pengetahuan yang cukup, baca membaca dan bergaul dengan siapapun.
Meski demikian, siswa harus dipersiapkan secara matang untuk menghadapai soal jenis essay. Karena hingga saat ini belum ada kepastian penggunaan soal tersebut, maka pemerintah pusat harus segera memutuskan. Agar jika perubahan ini benar-benar dilaksanakan maka siswa memiliki persiapan yang cukup.
"Jangan sampai mendadak, harus dipersiapkan, lebih awal akan lebih siap. Dampaknya kurang baik kalau sosialisasinya mendadak," tegas dia.
Hal lain yang harus diperhatikan, kata dia, adalah kesiapan panitia berkaitan dengan koreksi jawaban essay. Danisworo menyarankan, setiap jawaban satu siswa sebaiknya tidak cukup hanya dikoreksi oleh satu orang.
Jika hanya satu petugas koreksi maka tidak objektif dan bisa cenderung subjektif. Selain itu perlu ada rambu-rambu khusus setiap soal, seperti berkaitan dengan tata bahasa, dan kaitan antara tema soal dengan cerita jawaban siswa.
Selain itu harus ada penyamaan persepsi dari seluruh seluruh dan jangan sampai dilepas kemudian proses koreksi diserahkan setiap siswa, karena menjadi tidak fair.
"Nggak bisa kalau hanya satu orang petugas koreksi, paling tidak harus dua orang untuk penyeimbang, jika salah satu subjektif tidak mengikuti rambu-rambu sangat merugikan kalau dia menilai semaunya, maka ada satunya lagi yang memberikan penilaian berbeda," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
UMY memperkuat kampus berkelanjutan dengan 48 panel surya, rencana SPKLU, penambahan sepeda, perbaikan jalur pejalan kaki, dan daur ulang air.
Anggota DPRD, baik di tingkat daerah maupun pusat, pada prinsipnya merupakan representasi suara rakyat. Melalui mereka, masyarakat menitipkan harapan
Tim PPK Ormawa HIMATA UMBY meraih Video Paling Persuasif Terbaik 4 di Abdidaya Ormawa 2026 lewat program diversifikasi produk kelapa.
Polda Jateng menggeledah dua lokasi yang mengatasnamakan ponpes di Sukoharjo dan Karanganyar terkait kasus pembakaran warung.
MPI DIY mengajak mahasiswa mengawal kebijakan pemerintah melalui kritik konstruktif, dialog, dan komitmen menjaga demokrasi serta persatuan.
Puluhan anak muda berkumpul di UGM dalam Rembug Pangan Orang Muda untuk mendorong inovasi pangan lokal dan kedaulatan pangan nasional.