Era Society 5.0, Kampus Dituntut Cetak SDM Adaptif
Perguruan tinggi didorong mencetak lulusan adaptif, inovatif, dan berjiwa wirausaha untuk menghadapi era Society 5.0.
Ilustrasi energi baru terbarukan. (Istimewa/Info Migas)
Harianjogja.com, BANTUL-Penggunaan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di Indonesia masih sangat rendah dengan persentase 2% dari total 100% penggunaan energi. Akademisi didorong untuk dapat melahirkan penggunaan EBT agar tidak selalu ketergantungan terhadap sumber energi dari tambang.
Mengingat potensi EBT di Indonesia sangat besar, tetapi belum dapat dimanfaatkan dengan baik. Isu energi itu didiskusikan dalam seminar yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Teknik Elektro (KMTE), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang diikuti ratusan pelajar dan mahasiswa se-DIY dan Jawa Tengah, Selasa (3/4/2018).
Direktur Aneka EBT Kementerian ESDM Harris mengatakan, penggunaan EBT di Indonesia masih dipandang sebelah mata, terbukti masih minim pemakaian EBT. Indonesia menjadi negara dengan tingkat penggunaan energi fosil sangat tinggi, sedang energi alternatif sangat rendah.
"Total penggunaan tenaga fosil yang berupa batubara, gas dan BBM mencapai 98 persen, sedangkan penggunaan EBT hanya sebesar dua persen," terangnya dalam rilis kepada Harianjogja.com, Selasa (3/4/2018).
Ia menilai persentase penggunaan EBT itu sangat kecil dan berbanding terbalik dengan potensi sumberdaya EBT yang sangat melimpah. Oleh karena itu, pihaknya mengajak para akademisi, perguruan tinggi untuk mendorong lahirnya penggunaan EBT. Selain pemerintah, pemahaman penggunaan EBT yang diberikan kepada siswa atau mahasiswa harus dilakukan oleh para pengajar di berbagai lembaga pendidikan.
"Termasuk melalui seminar ini diharapkan mampu melahirkan pemikiran segar mengenai EBT," imbuhnya.
Ia mengatakan, Indonesia harus berubah untuk menggunakan EBT. Harris menaruh harapan besar kepada generasi muda untuk memulai perubahan itu. Karena Indonesia sudah terlalu lama tergantung pada bahan bakar tambang, dampak negatif yang diberikan pun sangat besar. Seperti kerusakan alam yang terjadi pada pertambangan batubara, resiko kapal tanker tumpah dan merusak ekosistem laut, serta tingginya gas emisi yang dihasilkan dari hasil pembakaran kendaraan bermotor menyebabkan efek rumah kaca.
Harris menambahkan, Indonesia sedang berupaya untuk mengembangkan pembangkit listrik alternatif berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 626 unit, Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) 69 unit dan Pembangkit Listrik Minihidro (PLTM) 2 unit. "Pembangunan ini selaras dengan harapan Indonesia kedepannya agar dapat memanfaatkan secara maksimal EBT yang ada," tegasnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Perguruan tinggi didorong mencetak lulusan adaptif, inovatif, dan berjiwa wirausaha untuk menghadapi era Society 5.0.
Pelatih PSIM Yogyakarta Jean-Paul van Gastel menargetkan kemenangan saat menghadapi Madura United di Stadion Sultan Agung Bantul.
Toyota mencatat permintaan Veloz Hybrid menembus 10 ribu unit di tengah kenaikan harga BBM dan meningkatnya minat mobil hemat bahan bakar.
Dua wisatawan asal Karawang ditemukan meninggal tertimbun longsor di jalur menuju Curug Cileat, Subang, Jawa Barat.
Manchester City menjuarai Piala FA 2026 setelah mengalahkan Chelsea 1-0 lewat gol Antoine Semenyo di Stadion Wembley.
Kunjungan wisatawan di Malioboro Jogja meningkat selama long weekend Kenaikan Isa Almasih, terutama pada sore hingga malam hari.