Dies Natalis UNSA ke-28, Astrid Soroti Makna Estafet Antargenerasi
Dies Natalis ke-28 UNSA di Stadion Sriwedari diisi senam sehat dan lomba estafet. Astrid Widayani menyoroti makna estafet antargenerasi.
Ilustrasi Malioboro./Harian Jogja-Gigih M Hanafi
Harianjogja.com, JOGJA-Pemkot Jogja masih menunggu selesainya pembangunan eks Bioskop Indra sebelum menentukan penataan para pedagang kali lima (PKL) Malioboro.
Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi mengatakan, penataan para pedagang akan dilakukan bila proses pembangunan eks Bioskop Indra selesai. Termasuk pembangunan sisi barat Jalan Malioboro sebagai pendestrian.
"Kalau semua pembangunan selesai kami baru lakukan sosialisasi," katanya di Balai Kota Jogja, Selasa (10/4/2018).
Heroe mengatakan, Pemkot juga masih belum memetakan PKL mana yang akan ditata kemudian menempati eks bioskop tersebut. Termasuk sosialisasi kepada pedagang.
"Kami akan sosialisasikan setelah semuanya dibangun. Ini tidak hanya Pemkot karena penataan ini butuh kesepatan bersama dengan Pemda DIY dan pedagang. Paling tidak mendekati akhir pembangunan, baru kami sampaikan ke seluruh PKL,” katanya.
Terkait rencana penataan tersebut, Heroe mengakui jika sebagian PKL Malioboro sudah mengetahuinya meskipun secara resmi belum disosialisasikan. Dia berharap agar masalah tersebut tidak menimbulkan polemik karena pemerintah masih akan menyamakan persepsi.
"Ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan. Bagaimana menyamakan persepsi dengan pedagang terkait penataan PKL Malioboro ke eks Bioskop Indra," katanya.
Menurut Heroe, ada beberapa kelompok pedagang yang berminat untuk menempati eks bioskop itu. Sayangnya dia tidak mau menyebut kelompok PKL yang dimaksud. Meski begitu, Heroe berjanji pemkot akan terus mengupayakan keberadaan eks bioskop tersebut akan ditata sedemikian rupa.
“Bangunan gedung itu nantinya akan dibuat sangat nyaman bagi pengunjung. Siapapun bisa mengakses ke sana. Ini yang harus dipikirkan," katanya.
Penataan wajah baru Malioboro tahap kedua (sisi Barat) ini diperuntukkan untuk pedestrian. Perubahan tersebut dinilai siginifikan kareba berdampak pada moda transportasi tradisional seperti becak dan andong. "Kalau menjadi pedestrian, becak dan andong sudah tidak bisa menggunakan jalur lambat itu," katanya.
Sebagai gantinya, kata Heroe, Pemkot menyiapkan lokasi yang cocok untuk "parkir" moda transportasi tradisional itu. Pemkot katanya sudah mengantongi izin untuk menggunakan lahan tersebut.
“Yang sudah disepakati baik andong maupun becak berada di Tugu KB di Jalan Abu Bakar Ali. Tugu itu bisa dirobohkan dan menjadi salah satu tempat untuk andong dan becak tradisional," katanya.
Dia menegaskan, andong dan becak adalah bagian penting dari Malioboro sehingga tidak akan dihilangkan. Begitu juga dengan keberadaan PKL dinilai melekat erat dengan kawasan wisata Malioboro.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dies Natalis ke-28 UNSA di Stadion Sriwedari diisi senam sehat dan lomba estafet. Astrid Widayani menyoroti makna estafet antargenerasi.
Penempatan manajer KopDes Merah Putih mempertimbangkan kesiapan titik, kuota, kapasitas wilayah, domisili, dan kebutuhan nasional.
Pengusaha Indonesia memiliki waktu sekitar 3 bulan menyiapkan standar Eropa sebelum IEU-CEPA ditargetkan berlaku awal 2027.
1.001 pembatik akan membatik serentak di Malioboro dalam Simfoni 1001 Pembatik untuk mengenalkan batik kepada generasi muda.
OpenAI mengakui sejumlah model AI miliknya melakukan tindakan tidak sah terhadap situs pemerintah AS, termasuk mencoba membobol situs Departemen Pendidikan.
Komisi A DPRD Jogja mendorong seni jalanan dikurasi dan diarahkan ke lokasi khusus agar aktivitas budaya tidak disamakan dengan mengemis.