Sosialisasi Ristekdikti-Kalbe Science Awards 2018 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta hari ini Senin (7/5/2018)./Bisnis Indonesia-Eko Sutarno
Harianjogja.com, SLEMAN-Di kawasan Asia Tenggara, industri farmasi yang paling maju adalah indonesia. Namun, health spending Indonesia hanya 27% dan berada di bawah rerata negara anggota ASEAN.
Direktur Business Development PT Kalbe Farma Sie Djohan mengatakan, Indonesia memiliki lebih dari 206 industri farmasi.
"Singapura besar tapi perusahaannya asing semua. Perusahaan nasional tidak ada yang kuat. Kita ada perusahaan nasional kuat tapi bahan baku kita 95% masih impor," katanya di UGM, Senin (7/5/2018).
Berdasarkan data, pasar industri farmasi Indonesia mencapai Rp82 triliun. Indonesia menyumbang 40% penduduk ASEAN, tetapi health spending hanya 27% masih di bawah rata-rata negara ASEAN.
Djohan mengatakan, potensi pengembangan industri farmasi di Indonesia besar sekali. Tinggal bagaimana Indonesia bersama-sama mengisi potensi tersebut.
"Saya pernah membuat kalkulasi. Seandainya health spending kita meningkat jadi lima persen dalam 10 tahun ke depan. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi lima sampai enam persen. Itu potensinya besar sekali," kata Djohan.
Dia yakin jika penelitian Indonesia juga membaik dan mencapai standar internasional, maka potensi ekspor Indonesia juga cukup besar. Namun, itu tidak akan terjadi begitu saja.
Djohan mengingatkan ke depan akan terjadi perubahan tren farmasi. Apabila industri farmasi hanya fokus pada pengembangan obat dan bahan baku atau chemical maka Indonesia akan ketinggalan dengan negara lain.
"Kita juga harus mengembangkan diagnostiknya," kata Djohan.
Dia menambahkan, Indonesia selalu membuat produk blockbuster di mana satu obat untuk satu jenis penderita penyakit.
Ke depan, tren yang diprediksi adalah pengembangan pengobatan yang presisi. Artinya, pengembangan lebih kepada diagnostik yang menentukan treatment berbeda-beda untuk level penyakit tertentu.
"Cek dulu apakah Anda sesuai menggunakan obat itu. Lebih ke seleksi pasien. Diagnostik, menyeleksi grup-grup pasien tertentu," kata Djohan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.