Kasus Bertambah, Cek Data Covid-19 di DIY 18 Maret
Kasus Covid-19 di DIY kembali melonjak. Pada Kamis (18/3/2021), gugus tugas setempat melaporkan penambahan kasus baru sebanyak 257.
Ilustrasi kera./JIBI
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Petani di Gunungkidul mengeluhkan spesies Macaca Fasciculari atau biasa disebut kera ekor panjang yang saban tahun menyerang lahan pertanian yang berada di Desa Tepus, Kecamatan Tepus. Akibatnya kerugian karena gagal panen serta kerusakan lahan tak bisa dihindarkan.
Salah satu petani, Wagino, 60, mengungkapkan serangan kera ekor panjang di lahan pertanian miliknya sudah berlangsung sejak tiga tahun terakhir. "Dulu satu lahan jagung saya ludes diserbu mereka [kera ekor Panjang]," ujarnya kepada Harianjogja.com, Senin (14/5/2018).
Berbagai upaya untuk menangkal serangan itu sudah dilakukan, meliputi pemasangan jaring serta penjagaan rutin oleh para petani di lahan pertaniannya masing-masing. "Bahkan sampai harus pake senapan, tapi hanya untuk menggertak, bukan kami tembak," kata Wagino.
Meski serangan kera ekor panjang sudah meresahkan, Wagino enggan menggunakan cara-cara tak manusiawi dalam upaya menangkal serangan hewan tersebut. "Ledakan senapan sudah cukup membuat mereka takut, kami tidak mau menyakiti, kami hanya butuh solusi konkrit dari pemerintah," ujarnya.
Hal senada diungkapkan Wasiyah, 70. Dari pengalamannya, setiap musim panen datang baik itu panen ketela, kacang, jagung dan lain sebagainya bisa dipastikan petani akan dipusingkan dengan serangan kera. "Biasanya mereka [kera] dalam jumlah ratusan turun dari hutan yang ada di bukit. Sasaran mereka lahan pertanian dekat bukit," jelasnya.
Wasiyah menjelaskan dulu keberadaan kera ekor panjang tidak sebanyak sekarang. Sebab habitat mereka yakni di beberapa bukit yang ada di Desa Tepus dulu masih difungsikan petani untuk keperluan ladang. "Kini petani sudah tak pakai bukit itu lagi, jadi bukit itu jadi tempat berkembangnya mereka," imbuhnya.
Wasiyah berharap, pemerintah mampu memberikan solusi dari masalah ini. Sebab, petani di wilayahnya kini hanya bisa pasrah. "Kalau sudah musim panen, kami hanya berdoa semoga serangan kera tidak parah," katanya.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono, mengakui adanya permasalahan tersebut. Namun pihaknya tak bisa berbuat banyak. Alasannya penanganan serangan kera merupakan wewenang dinas provinsi, sebab kera merupakan hewan yang dijaga dan dilindungi. "Jika hama tikus, wereng, belalang dan sejenisnya itu memang ranah kami, tapi kalau untuk kera tidak," ujarnya.
Kendati demikian lanjutnya, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul tidak tinggal diam. Berbagai sosialisasi dan imbauan kepada petani pernah dilakukan. "Misalnya sosialisasi antisipasi menggunakan teknik jaring. Dulu pernah kita lakukan juga tapi itu kerjasama dengan Dinas Kehutanan dan Universitas," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus Covid-19 di DIY kembali melonjak. Pada Kamis (18/3/2021), gugus tugas setempat melaporkan penambahan kasus baru sebanyak 257.
Menkeu Purbaya dan Menteri ESDM Bahlil bahas strategi peningkatan PNBP, swasembada energi, dan listrik desa. Ini target dan datanya.
Merokok meningkatkan risiko kanker mulut secara signifikan. Ketahui penyebab, dampak, dan cara menurunkannya menurut dokter.
BGN akan menangguhkan SPPG tanpa Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi. Kebijakan ini demi menjaga kualitas Program Makan Bergizi Gratis.
Serangan Israel ke Lebanon kembali meningkat. Puluhan wilayah dihantam, korban tewas bertambah. Simak perkembangan terbaru konflik Timur Tengah.
Kesbangpol DIY menyelenggarakan pendidikan politik perempuan di Wates, Kabupaten Kulonprogo, Rabu (13/5/2026). Pendidikan ini ditujukan untuk mendorong kaum Haw