Salut, Mereka Ini yang Konsisten Menjaga Kelestarian Ekosistem Sungai di Gunungkidul

Herlambang Jati Kusumo
Herlambang Jati Kusumo Minggu, 27 Mei 2018 16:20 WIB
Salut, Mereka Ini yang Konsisten Menjaga Kelestarian Ekosistem Sungai di Gunungkidul

Kampanye menjaga lingkungan sungai oleh Wild Water Indonesia (WWI), Gunungkidul, dan Bolo Mancing Wonosari, di Alun-alun Wonosari, Sabtu (26/5/2018)./Harian Jogja-Herlambang Jati Kusumo

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kondisi lingkungan sungai di Gunungkidul yang dinilai masih belum begitu diperhatikan masyarakat, menjadi keresahan tersendiri bagi sejumlah masyarakat.

Sukarelawan Wild Water Indonesia (WWI) Gunungkidul, Bebi Agung Sungkowo mengatakan pihaknya terus berupaya menekan angka kerusakan lingkungan terutama di sungai.

“Kami terus kampanyekan agar masyarakat tidak menggunakan bom ikan, tidak menyetrum atau penggunaan obat yang membahayakan. Harapannya sungai di Gunungkidul, maupun ikannnya dapat terus terjaga,” ujar Agung, di sela-sela kampanye untuk menjaga kelestarian sungai di depan Alun-Alun Wonosari, Sabtu (27/5/2018).

Ia mengatakan tidak hanya kebiasaan buruk masyarakat yang diubah, namun juga Pemkab harus lebih serius dalam upaya penyelamatan lingkungan ini. “Komunikasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan, DIY, sudah terjalin sebenarnya, namun lebih intens lagi akan semakin baik,” ujarnya.

Dia mengatakan beberapa kerja sama juga dilakukan dengan pemerintah, seperti tebar benih ikan di sungai. Namun menurut Agung, terkadang tebar benih  tersebut kurang memperhatikan apakah habitat pas dengan ikan yang disebar atau tidak.

Ketua Bolo Mancing Wonosari, Antok Dwi Purnomo menilai saat ini kebersihan sungai dan pelestarian lingkungan sungai, lebih baik dari sebelumnya. Orang yang mencari ikan dengan obat atau setrum pun diakuinya semakin berkurang.

Dia mengatakan untuk permasalahan sungai harus didukung semua pihak. Baik dari masyarakat ataupun dari pihak pemerintah. “Masyarakat sendiri juga harus sadar, tidak membuang sampah sembarang, tidak melakukan tindakan yang merusak lingkungan,” ujarnya.

Antok menilai kesadaran masyarakat tersebut memang masih perlu ditingkatkan lagi, karena efek kebersihan sungai tidak hanya dirasakan makhluk hidup yang ada di sungai, tetapi juga kepentingan masyarakat sendiri.

“Masyarakat saat ini kan masih banyak yang mengambil air dari sungai baik untuk kepentingan ternak atau bahkan dia sendiri. Coba bayangkan kalau sungai itu kotor atau tercemar, kan mereka sendiri yang merasakan,” ucapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Arief Junianto
Arief Junianto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online