LONG-FORM: Dibandingkan 2010, Sekarang Penduduk Merapi Lebih Siap Hadapi Ancaman

Tim Lipsus Harian Jogja
Tim Lipsus Harian Jogja Senin, 28 Mei 2018 11:25 WIB
LONG-FORM: Dibandingkan 2010, Sekarang Penduduk Merapi Lebih Siap Hadapi Ancaman

Lansia yang mengungsi di Balai Desa Glagaharjo sedang mengunyah kinang pada (24/5/2018)./Harian Jogja-Fahmi Ahmad Burhan

Harianjogja.com, SLEMAN—Lereng Merapi cenderung lebih siap menghadapi erupsi salah satu gunung teraktif di dunia itu daripada sebelumnya. Sistem informasi lebih tertata, masyarakat makin tanggap, jalur evakuasi juga benar-benar dipersiapkan meski belum sempurna.

Pemerintah Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, mengakui sistem informasi dan evakuasi warga sekitar Merapi saat ini sudah lebih maju daripada saat erupsi eksplosif Gunung Merapi pada 2010. Sejak delapan tahun lalu, sudah dibentuk Komunitas Siaga Merapi di tiap dusun yang menerima arus informasi dari kepala dusun. Informasi itu rutin dikumpulkan semua kepala dusun di posko utama Badan PenanggBPBD Sleman dan menjadi satu-satunya rujukan warga.

“Aliran informasi dari pemerintah di tingkat atas ke kami sudah lancar. Warga juga enggak usah diubyek-ubyek [disuruh-suruh], sudah mengungsi mandiri. Mereka sudah merasa sendiri, kalau Merapi demikian, berarti mereka harus demikian,” kata Agralno, Sekretaris Desa Glagahharjo, Rabu (23/5).

Pemerintah Desa Glagaharjo menyediakan balai desa sebagai barak pengungsian. Penduduk yang bermukim di Kawasan Rawan Bencana (KRB) atau tidak, tetap berhak mendapat ruang.

Kepala Seksi Pemerintahan Desa Glagaharjo Heri Prasetyo mengatakan dalam evakuasi warga lereng Merapi, pemerintah desa hanya menerima informasi dari posko utama BPBD Sleman.

Meskipun begitu, keputusan mengungsi tak hanya berdasarkan informasi dari kepala dusun. Warga juga mengandalkan insting dan kedekatan batin mereka dengan Gunung Merapi.

“Ini berdasar pengalaman erupsi 2010. Dulu warga memaksa, ingin mengungsi ke balai desa tanpa instruksi apapun dari pemerintah, pemerintah ngotot mereka harus tetap di barak. Akhirnya ribut dan kami mengalah, mengarahkan mereka ngungsi ke balai desa. Ternyata insting mereka benar, besoknya erupsi besar-besaran. Kalau waktu itu kami tidak menuruti mereka, sudah habis semua,” tutur Heri.

Dia mengatakan sistem evakuasi dan aliran informasi sudah lebih sistematis. Bahkan pemerintah desa mendengarkan masukan-masukan warga berdasar pengalaman erupsi 2010. Saat erupsi 2010 banyak ternak yang dibiarkan di lereng Gunung Merapi saat warga mengungsi. Akibatnya ternak tersebut mati terkena lahar panas dan menimbulkan kerugian bagi warga. Sekarang, di Balai Desa Glagaharjo terdapat lahan untuk mengevakuasi ternak milik warga supaya warga di pengungsian tenang dan tidak berkali-kali naik ke atas demi ternak mereka

Sistem desa tanggap bencana (destana) juga sudah mapan. Heri mengatakan pada 2010 belum ada destana. Setelah erupsi, destana dibentuk, diurus oleh kepala dusun dan ibu-ibu PKK.

“Destana terlebih dulu yang paham soal penanggulangan bencana, agar nanti ketika terjadi bencana, warga tidak panik sehingga risikonya bisa diminimalkan,” kata Heri.

Penduduk Dusun Kalitengah Lor, Sarto, 75, mengatakan dia sepenuhnya mematuhi perintah kepala dusun untuk mengungsi atau tidak. Sebelumnya, dia hanya mendengarkan informasi dari mendiang Mbah Maridjan, juru kunci Merapi. Ucapan juru kunci dipakai sebagai informasi pokok dan dia beserta tetangganya mengesampingkan informasi pemerintah.

Putra Mbah Maridjan yang kini menjadi juru kunci Merapi, Mas Kliwon Surakso Hargo mengimbau warga untuk mendengarkan informasi dari pemerintah.

“Saya bekerja sama saja dengan pemerintah dalam hal mengimbau warga karena kalau semuanya mengeluarkan informasi kadang-kadang ada yang kurang pas,” kata Asih.

Asih juga mengingatkan warga agar jangan lengah meski aktivitas Gunung Merapi sekarang cenderung landai. “Jika merasa takut, turun saja tidak apa-apa,” kata Asih.

Kesiapan Infrastruktur

BPBD Sleman juga terus memastikan kesiapan infrastuktur mitigasi bencana. Sejauh ini, tak ada hambatan berarti dalam mengamankan penduduk kaki Merapi dari bahaya erupsi.

“Kami sudah siapkan barak pengungsian, ada 12 barak pengungsian,” ujar Kepala BPBD Sleman Joko Supriyanto.

Barak tersebut berada di lima kecamatan, yakni Cangkringan, Pakem, Turi, Tempel, dan Ngemplak. BPBD Sleman sudah berkordinasi dengan Dinas Sosial Sleman untuk menyediakan logistik bagi pengungsi.

Hingga Minggu (27/5), status Gunung Merapi masih waspada. BPBD Sleman meminta agar radius tiga kilometer dari puncak bebas dari aktivitas apa pun, sesuai rekomendasi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).

“Di radius tiga kilometer hanya jalur pendakian saja. Permukiman yang paling dekat dengan puncak adalah Dusun Kalitengah Lor, itu sekitar lima kilometer dari puncak, jadi sampai sekarang belum ada imbauan untuk mengungsi,” kata Joko.

BPBD juga memasang tanda jalur evakuasi serta tanda titik kumpul agar warga bisa langsung menuju titik kumpul dan gampang dibawa ke lokasi pengungsian. Sirene tanda peningkatan status dipasang di beberapa wilayah rawan bencana.

Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman sudah membangun jalan yang akan dilalui sebagai jalur evakuasi dari Dusun Singlar, Desa Glagaharjo, sampai Dusun Suruh, Desa Argomulyo sepanjang 2,1 kilometer. Jalur tersebut rusak karena sering dilewati truk pengangkut pasir.

Kepala Seksi Merapi BPPTKG Agus Budi Santoso percaya BPBD Sleman telah mendata jalur-jalur evakuasi. Jalan yang kurang baik segera diperbaiki.

“Saya pikir BPBD tahu apa yang harus dilakukan saat status waspada. Biasanya mereka menginventarisasi aset dan infrastruktur untuk menghadapi datangnya bencana,” kata Agus.

Ketua Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) UGM Jati Mardiatno mengatakan jalur evakuasi, selter, dan kandang ternak di pengungsian harus disiapkan dan dirawat secara baik agar siap digunakan kapan saja. Dia menekankan pentingnya kandang untuk mengevakuasi ternak. Berdasarkan pengalaman erupsi 2010, banyak warga bertahan di rumah mereka dan mempertaruhkan keselamatan demi menunggu ternak.

“Sebaiknya ketika terjadi peningkatan status lagi, ternak bisa diungsikan lebih dahulu karena pemiliknya secara otomatis akan mengikuti,” ujar dia.

Mitigasi juga harus menyesuaikan tipe erupsi Merapi. Penanganan terhadap risiko erupsi eksplosif tentu berbeda dengan penanganan risiko erupsi efusif yang diprediksi terjadi dalam letusan kali ini.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online