Gerakan Ekstrem Seperti Penyakit
Gerakan ekstrem radikal seperti halnya penyakit, yang jika didiamkan atau tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah, akan mengancam dan mengudeta NKRI dalam level konstitusional.
Gunung Merapi berstatus waspada, Selasa (22/5/2018)./Harian Jogja-Desi Suryanto
Harianjogja.com, JOGJA-Dua hari terakhir, Gunung Merapi tidak mengalami erupsi. Dari puncak, teramati adanya embusan-embusan kecil. Salah satu yang jelas terlihat adalah embusan kecil pukul 09.50 WIB, Minggu (3/6/2018), yang bersumber dari rekahan kubah lava sisa erupsi 2010. Selain embusan kecil, juga terjadi gempa low frequency. Gempa ini biasanya mengindikasikan adanya aliran fluida magma.
Kepala Seksi Gunung Merapi, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Agus Budi Santoso mengatakan, embusan kecil adalah sesuatu yang biasa terjadi pada gunung api, yang aktivitasnya sedang meningkat.
"Memang betul teramati embusan [kecil] dari CCTV puncak. Ini biasa saja. Ini [embusan pukul 09.50 WIB] hanya salah satu dari empat embusan hari ini. Hanya saja yang lain kadang tidak tampak, karena tertutup kabut atau karena intensitasnya kecil," jelas Agus melalui pesan pendek, Minggu (3/6/2018).
Dari hasil laporan aktivitas Gunung Merapi yang dirilis BPPTKG, pada periode pengamatan Minggu (dari pukul 00.00-06.00 WIB), teramati adanya asap kawah bertekanan lemah berwarna putih dengan tinggi 10 sampai 50 di atas puncak. Sementara dari pengamatan pukul 06.00-12.00 WIB, terpantau asap kawah dengan tinggi 20 sampai 800 meter. Pada periode ini juga teramati adanya embusan kecil, yang keluar dari rekahan kubah lava 2010.
Agus menjelaskan, embusan kecil pada dasarnya hampir sama dengan letusan-letusan yang sering terjadi akhir-akhir ini. Hanya saja, embusan
kecil punya skala yang lebih kecil. "Suaranya kan enggak kayak meletus, tapi gemuruh. Gasnya keluar begitu saja. Tidak disertai ledakan."
Terhitung sejak tanggal 21 Mei sudah terjadi 11 kali letusan. Delapan diantaranya terjadi pada 21 hingga 24 Mei 2018. Setelah sempat terhenti, pada Jumat (1/6), kembali terjadi tiga erupsi beruntun dalam sehari. Letusan-letusan ini menyebabkan hujan abu di sekitar kawasan Merapi.
Kepala BPPTKG Hanik Humaida menjelaskan, dibandingkan dengan Jumat, dua hari terakhir aktivitas Gunung Merapi cenderung landai. Naik turunnya aktivitas gunung api ini adalah sesuatu yang biasa terjadi.
"Tapi tetap untuk parameter ada pada saat ada aktivitas," jelasnya.
Data Kegempaan
Dari data kegempaan Gunung Merapi yang dirilis BPPTKG, Minggu (3/6/2018), terjadi beberapa kali gempa. Pada periode pengamatan pukul 06.00-12.00 WIB, terjadi tiga kali gempa guguran, embusan sekali, dan hybrid satu kali. Untuk gempa embusan durasinya 118 detik. Agus menyatakan, gempa guguran dan embusan menandakan terjadinya pelepasan gas.
Sementara, pada periode pengamatan pukul 00.00-06.00 WIB, terjadi tiga kali gempa embusan, tektonik lokal dua kali dan low frequency (LF) satu kali. Gempa yang disebutkan terakhir merupakan indikasi adanya aliran fluida magma.
"Iya memang benar [LF] merupakan indikasi aliran fluida. Tapi, fluida tidak harus dalam bentuk magma yang cair, bisa saja gas saja. Adapun magmanya masih di kedalaman [di bawah tiga kilometer dari puncak]," terang Agus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gerakan ekstrem radikal seperti halnya penyakit, yang jika didiamkan atau tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah, akan mengancam dan mengudeta NKRI dalam level konstitusional.
Kali ini, Astra Motor Yogyakarta hadir dalam kompetisi basket, "Basket in the Mall", yang diselenggarakan di atrium Jogja City Mall (JCM) (14-17/5).
WhatsApp iPhone kini mendukung dua akun dalam satu aplikasi lewat update versi 26.17.76 serta menghadirkan fitur Meta AI dan passkey.
Persib Bandung semakin dekat dengan gelar juara Liga 1 2025/2026 usai menang dramatis atas PSM Makassar dan unggul dari Borneo FC.
Rangkaian hari kedua Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026 mencatat sejarah menjadi tuan rumah International Cycling History Conference (ICHC)
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.