Guardiola Siap Tempur di Final Piala FA, Chelsea Tak Gentar di Wembley
Manchester City vs Chelsea di final Piala FA Wembley. Guardiola dan McFarlane siap duel perebutan gelar.
Sopir dan pedagang tengah bongkar muat buah melon di Pasar Giwangan, Senin (2/4) malam. (JIBI/Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara)
Harianjogja.com, JOGJA--Pemkot Jogja terus berupaya meningkatkan branding seluruh pasar tradisional. Branding pasar tersebut disesuaikan dengan potensi atau karakter yang menjadi ciri khas pasar.
Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi mengatakan branding pasar tersebut dilakukan untuk membedakan dengan pasar tradisional lainnya. Hal itu diharapkan dia bisa mendongkrak perekonomian pedagang.
“Saat ini, masyarakat masih berpendapat bahwa semua pasar tradisional itu sama. Padahal, setiap pasar tradisional sebenarnya memiliki keunikan dan karakter masing-masing," kata Heroe pekan lalu.
Untuk menghapus image tersebut, Pemkot terus memberikan dan meningkatkan branding pasar sesuai dengan potensinya masing-masing. Dengan begitu pasar tradisional bisa tetap bisa berkembang.
Branding yang diberikan Pemkot terhadap pasar tradisional ini, kata Heroe, dilakukan berdasarkan produk unggulan yang dijual di pasar tersebut.
Dia mencontohkan beberapa pasar tradisional di Jogja sudah memiliki branding yang kuat karena produk yang dijual unik. Sebut saja Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (Pasthy). “Saat membutuhkan tanaman hias, masyarakat datangnya pasti ke Pasthy. Ini karena Pasthy sudah menjadi ikon untuk transaksi tanaman hias atau satwa,” katanya.
Begitu pula dengan Pasar Giwangan yang memiliki keunggulan sebagai pasar buah dan sayur, sedangkan Pasar Kranggan dikenal dengan ragam jajan pasar, serta Pasar Terban dikenal sebagai pusat penjualan ayam.
“Upaya untuk memberikan branding terhadap pasar tradisional akan dikembangkan ke pasar-pasar lain. Di Kota Jogja ada 30 pasar tradisional,” katanya.
Salah satu pasar tradisional yang baru saja mendapatkan branding itu adalah Pasar Ngasem. Pasar yang sudah direvitalisasi ini dikembangkan sebagai pusat kerajinan dan budaya.
Begitu pula Pasar Kotagede akan dikembangkan sebagai pusat makanan tempo dulu. “Selain menyediakan produk yang unik sesuai branding yang disandang, pasar juga tetap menyediakan kebutuhan dasar lain untuk masyarakat,” katanya.
Pemberian branding yang dilakukan Pemkot terhadap pasar tradisional diikuti dengan kesiapan pedagang dan manajemen pengelolaan pasar yang baik. "Kualitas produk harus benar-benar dijaga, begitu pula dengan tempatnya harus dijaga kuat. Kalau tidak kuat, maka pasar tidak akan mampu mempertahankan brand yang dimiliki," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Manchester City vs Chelsea di final Piala FA Wembley. Guardiola dan McFarlane siap duel perebutan gelar.
KPK mendalami dugaan aliran uang kepada Bupati Tulungagung nonaktif Gatut Sunu Wibowo lewat pemeriksaan sembilan saksi.
Anwar Ibrahim mendesak Israel segera membebaskan aktivis Global Sumud Flotilla yang ditahan saat membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Polresta Sleman kembali membuka peluang restorative justice dalam kasus Shinta Komala terkait dugaan penggelapan iPhone 14.
Kasus kekerasan seksual santri di Lombok Tengah mengungkap penggunaan aplikasi khusus gay oleh tersangka berinisial YMA.
Transformasi ekonomi DIY dinilai tak bisa dipisahkan dari budaya lokal yang menjadi fondasi pengembangan ekonomi kreatif Yogyakarta.