6% Penduduk Indonesia Mengidap Depresi

Laila Rochmatin
Laila Rochmatin Rabu, 04 Juli 2018 15:10 WIB
6% Penduduk Indonesia Mengidap Depresi

Logo UGM./JIBI

Harianjogja.com, JOGJA--Permasalahan kesehatan jiwa yang terjadi di masyarakat acap kali masih diabaikan. Di beberapa negara, permasalahan kesehatan jiwa ini masih terpinggirkan, tidak muncul dan tertutupi dengan penyakit-penyakit fisik.
Padahal, faktanya 6% dari penduduk Indonesia mengidap depresi. Para penderita depresi ini tidak terdeteksi, dan datang ke ruang dokter dengan keluhan bersifat fisik.

"Di masyarakat kita kurang familiar, mereka datang ke dokter dengan keluhan tidak bisa tidur, deg-degan, rasa capek dan lain-lain. Tidak seperti di Australia, pasien datang ke dokter berterus terang saya depresi," ujar Diana Setiyawati, Direktur Center for Public Mental Health, di Fakultas Psikologi UGM, Senin (2/7/2018).

Berbicara dalam acara International Summer Course II bertema Advocay Skills in Mental Health System Development: From Research to Policy, Diana menuturkan para penderita depresi di Indonesia tidak kelihatan.

Bahkan,  di kantor pun tidak kelihatan jika ia depresi karena bisa masuk kerja seperti biasa. Hanya, di kantor ia tidak produktif karena tidak bisa berkonsentrasi dan tidak bisa berpikir.

"Tanda-tandanya tidak lagi memiliki passion untuk pekerjaannya. Hal-hal seperti inilah yang menimbulkan kerugian negara. Sebagai psikolog saya amati seperti itu, mereka memperlihatkan keluhan capek, capek banget, malas mikir masa depan, urip sak tekane, tidak punya semangat, susah tidur seperti itu, kurang konsentrasi," katanya.

Oleh karena itu, upaya-upaya melawan depresi dengan membuat orang sadar dan membangun cara berobat yang tepat menjadi sangat penting. Seperti berobat dengan cara konseling atau jika parah dengan minum obat atau terapi-terapi yang dibuat bersama.
"Sebenarnya memprihatinkan kejadian depresi yang bersembunyi di balik keluhan sakit fisik ini. Karena kita menduga-duga, meski belum ada data angka bunuh diri juga tinggi," ucapnya.

Padahal, kata Diana, penyakit ini sebenarnya bisa ditolong andai saja masyarakat tahu ini depresi. Berbagai pihak pun sudah berusaha meningkatkan literasi terkait depresi ini untuk disampaikan pada masyarakat.

Upaya lain adalah dengan menempatkan satu psikolog di puskesmas. Upaya ini di DIY sudah berjalan, terutama di Kabupaten Sleman, Kota Jogja dan Kabupaten Bantul.
Bahkan, puskesmas di Kabupaten Sleman dalam setahun mampu melayani 69.000 pasien. Dengan rata-rata satu puskesmas dalam satu tahun mampu melayani 200 pasien.

"Untuk satu pasien memakan ongkos Rp13.000. Di Sleman sejak 2004, kesadaran untuk kesehatan jiwa ini cukup tinggi. Karenanya kami terus berusaha mendiseminasi dengan datang ke kepala daerah dan DPRD agar mendapat dukungan anggaran untuk upaya peningkatan kesehatan jiwa ini," katanya.
 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Laila Rochmatin
Laila Rochmatin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online