Ratusan Hektare Sawah di DIY Rusak karena Kekeringan, Ini Rinciannya

I Ketut Sawitra Mustika
I Ketut Sawitra Mustika Sabtu, 28 Juli 2018 08:17 WIB
Ratusan Hektare Sawah di DIY Rusak karena Kekeringan, Ini Rinciannya

Ilustrasi kekeringan/REUTERS-Jose Cabezas

Harianjogja.com, JOGJA-Ratusan hektare sawah di DIY mengalami kerusakan akibat kekeringan yang melanda provinsi ini selama beberapa bulan terakhir. Puncak kekeringan diprediksi terjadi pada Agustus. Bahkan, di Kecamatan Srandakan hujan sudah tidak pernah turun sejak 92 hari lalu, dihitung per 20 Juli 2018.

Dari hasil pengamatan UPTD Balai Proteksi Tanaman Pertanian (BPTP) Dinas Pertanian DIY, sampai akhir Juni telah terjadi kerusakan sawah hingga 384 hektare. Adapun rinciannya 45,2 ha sawah puso alias gagal panen, 50 ha rusak berat, 88,5 ha rusak sedang, dan 200 ha rusak ringan. Pengamatan dilakukan sejak dimulainya musim tanam pada April.

Kepala Seksi Pelayanan Teknis UPTD BPTP Dinas Pertanian DIY Nur Widada mengatakan, sawah yang mengalami kerusakan berat kemungkinan tidak akan bisa dipanen, meski diguyur air sekalipun, sebab padi sudah tidak bisa "mengompensasi tubuhnya sendiri". Adapun sawah dengan kerusakan ringan masih dimungkinkan untuk panen.

Umur tanaman padi sangat berpengaruh terhadap prospek panen. Widada mengungkapkan, jika kekeringan melanda padi berumur muda (0-35 hari), besar kemungkinan sawah itu akan gagal panen. Tapi, jika kekeringan menghantam padi berumur tua, sawah masih bisa panen. Hanya saja, produktivitasnya menurun.

"Karena kebutuhan air tidak lagi tinggi pada masa degeneratif [padi berumur tua]. Jadi masih bisa panen," jelas Widada di ruang kerjanya, Jumat (27/7/2018).

Sawah-sawah yang rusak karena kekeringan, kata Widada terjadi di wilayah yang tidak ada upaya fasilitasi kebutuhan air bagi para petani. Ia menyebut usaha menyediakan air memang ada, tapi belum menyeluruh.

Sawah yang rusak karena kurang air, tambahnya, merupakan siklus tahunan. Solusi yang paling ampuh adalah dengan memfasilitasi kebutuhan air petani. "Harapan petani cuman minta difasilitasi, entah itu pipa atau mesin penyalur air. Terus nanti dibuatkan penampungan. Di Pengasih ada yang bikin sumur di tengah sawah terus dialirkan pakai selang."

Rusaknya sawah, sambung Widada sangat mempengaruhi pendapatan petani. Biasanya, di wilayah yang kesulitan air, petani sudah mulai enggan menanam padi, karena biaya produksi dan potensi gagal panen yang tinggi. Bahkan untuk menanam kedelai atau kacang tanah pun ogah-ogahan karena tetap butuh air yang cukup banyak. Akhirnya mereka hanya menanam jagung.

Meskipun terjadi kerusakan di 384 ha sawah, tapi kemungkinan besar tidak akan mempengaruhi produksi beras secara siginifikan. Sebab, hingga Juni realisasi tanam padi di DIY mencapai 20.895 ha.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Kusnul Isti Qomah
Kusnul Isti Qomah Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online