Bank BPD DIY Kembali Gelar Malioboro Run 2026, Angkat Konsep Culture on Track
Bank BPD DIY kembali menggelar Malioboro Run 2026 bertema Culture on Track dengan lebih dari 8.000 peserta dan rute yang melewati sejumlah ikon budaya Jogja
Lanang, seorang petani sedang memanen cabai yang masih bisa diselamatkan akibat genangan air laut di Dusun Soge, Srigading Sanden./Harian Jogja-Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, BANTUL-Lahan pertanian di kawasan pesisir selatan Bantul yang terendam akibat air laut pasang kian meluas. Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DP2KP) Bantul menyebut lahan pertanian yang terdampak sampai sekitar 25 hektare dari sebelumnya hanya 21 hektare.
Lahan pertanian yang terdampak ada di Dusun Baros dan Dusun Muneng, Desa Tirtoharjo, Kecamatan Kretek; dan Dusun Soge, Desa Srigading, Kecamatan Sanden. Air laut yang pasang dan menggenangi lahan pertanin terjadi sejak 31 Juli lalu hingga Jumat (3/8/2017) masih belum surut.
"Sampai saat ini air belum juga surut," kata Kepala DP2KP Bantul, Pulung Haryadi, melalui sambungan telepon, Jumat (3/8/2018).
Pulung mengatakan belum surutnya air laut yang menggenangi lahan pertanian dikarenakan laut masih pasang. Pihaknya masih terus berupaya untuk melakukan pengerukan di sekitar muara Kali Opak agar genangan air cepat mengalir ke laut.
Ada dua alat berat yang dikerahkan dari Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) untuk pengerukan. Untuk mempercepat pengeringan, pompa air juga dikunakan. Para petani juga sudah mengerahkan pompa air untuk pengeringan lahannya.
Pulung memastikan tanaman yang terendam air terutama tanaman bawang merah puso atau gagal panen, karena sudah terendam lebih dari dua hari, "Jika terendam lebih dari dua hari dipastikan akan mati," ujar dia.
Saat ini pihaknya tidak fokus menyelamatkan gagalnya panen tanaman yang terendam. Namun berupaya agar genangan air tidak meluas sampai lebih dari 25 hektare. Karena aliran air laut terus masuk ke lahan pertanian.
Kepala Desa Tirtoharjo, Supriyana mengungkapkan lahan pertanian yang terdampak justeru lebih luas. Sampai Jumat sore sudah lebih dari 60 hektare lahan pertanian yang tergenang, sebagian besar adalah lahan tanaman bawang. "Kalau tidak ada upaya pengerukan akan terus melebar, karena aliran air laut terus masuk sementara pembuangannya tidak ada," kata dia.
Menurut dia dua alat ekskavator yang diterjunkan DPUPKP Bantul terlalu kecil dan tidak akan mampu mengeruk pasir yang terus menutup saluran pembuangan. Pihaknya berharap ada alat berat yang lebih besar. Informasi yang dia peroleh Jumat malam, Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) akan mengerahkan alat berat yang lebih besar.
Supriyana mengatakan setiap tahun air laut pasang dan menggenangi lahan pertanian terjadi. Namun kali ini lebih parah, karena genangan air yang terjadi sejak Minggu lalu hingga Jumat belum juga surut. Dengan kondisi demikian semua tanaman dipastikan mati.
Ia sendiri memiliki lahan pelungguh seluas tiga hektare di kawasan Baros. Semuanya ditanami tanaman bawang oleh penggarap dan dipastikan gagal panen.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bank BPD DIY kembali menggelar Malioboro Run 2026 bertema Culture on Track dengan lebih dari 8.000 peserta dan rute yang melewati sejumlah ikon budaya Jogja
Kebakaran melanda TPS3R Nitikan, Umbulharjo, Jogja, Jumat (6/11/2026). Tumpukan kasur dan sampah kering terbakar, tanpa korban jiwa.
Perhapi menilai pemangkasan kuota bijih nikel 2027 berisiko menaikkan harga bahan baku, biaya operasional smelter, dan menekan produksi.
Kemendikdasmen merevitalisasi 1.277 SMK pada 2026, terdiri atas 553 sekolah negeri dan 724 swasta untuk memperkuat pembelajaran vokasi.
Sejumlah Pengurus Kapanewon Golkar Gunungkidul meminta musda digelar demokratis sesuai AD/ART dan menolak penunjukan Plt.
PSIM Jogja kalah 1-2 dari Dewa United pada pekan ke-9 Super League 2026/2027. Gol injury time tim tamu sempat diprotes pemain tuan rumah.