Harga Terus Merosot, Petani di Ngemplak Malas Petik Cabai

Bernadheta Dian Saraswati
Bernadheta Dian Saraswati Selasa, 04 September 2018 20:15 WIB
Harga Terus Merosot, Petani di Ngemplak Malas Petik Cabai

Petani memanen cabai rawit di area penanaman cabai di Pondok Wonolelo II, Widodomartani, Ngemplak, Selasa (4/9/2018). Beberapa tanaman terlihat mengering karena dibiarkan oleh petani. Harian Jogja-Bernadheta Dian Saraswati

Harianjogja.com, SLEMAN—Memasuki masa panen, harga komoditas cabai merosot tajam. Petani menjadi malas memetik cabai lantaran harganya yang terus-menerus turun. Ditemui di area persawahan miliknya, Ngatinem, petani cabai di Dusun Pondok, Wonolelo II, Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak, mengatakan biasanya ia rutin memanen cabai setiap tiga hari sekali terutama saat harga jual cabai tinggi.

Ia menanam cabai jenis ori di lahan seluas 800 meter persegi dengan total 3.000 bibit. Ia ingat, sebelum 17 Agustus 2018 ia sempat menjual cabai dengan harga Rp47.000 per kilogram. Saat itu cabai yang sudah berwarna merah masih sedikit. Namun setelah banyak cabai memerah, harganya justru turun. "Turunnya banyak. Langsung Rp5.000 per kilogram," ujarnya, Selasa (4/9/2018).

Sampai saat ini, harga jual cabai hanya Rp10.000 per kg. Bahkan pada Sabtu (1/9/2018) harga cabai menyentuh Rp9.000. Paling rendah adalah Rp7.000 untuk cabai rawit jenis bargo. "Biasanya rutin tiga hari sekali metik cabai. Tapi sekarang seminggu baru metik lagi juga pernah. Jadi enggak semangat lagi," katanya.

Menurutnya harga jual cabai yang hanya Rp10.000 tersebut membuat keuntungan petani menipis. Lain halnya saat menembus Rp47.000, ia bisa meraup keuntungan lebih dari 50%. Keuntungan saat ini tidak sebanding dengan tenaga yang harus dikeluarkan petani, baik tenaga menyemprot pupuk setiap tiga hari sekali maupun tenaga memetik cabai. "Untung untuk memetiknya pakai tenaga sendiri," ujar dia.

Daerah Pondok Wonolelo II dikenal sebagai sentra penanaman cabai di Sleman. Tidak hanya cabai rawit, cabai keriting juga dikembangkan di daerah ini. Berdasarkan pantauan Harian Jogja, ada beberapa lahan yang dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya kendati cabai sudah berwarna merah dan hampir mengering. Kondisi serupa juga terjadi di lahan cabai di Desa Selomartani, Kecamatan Kalasan.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman mengakui saat ini komoditas cabai mengalami penurunan harga. Berdasarkan rata-rata harga cabai di Pasar Pakem, Tempel, Prambanan, Gamping, Sleman dan Godean per Selasa (4/9), cabai rawit dijual Rp21.333. Sementara sebulan sebelumnya menyentuh Rp34.167.

Kepala Disperindag Sleman, Endah Tri Yitnani, mengatakan pemerintah berupaya agar petani meningkatkan nilai jual cabai dan tidak hanya menjual komoditas tersebut hanya dalam bentuk mentah. Salah satunya dengan mengajak petani memproduksi bubuk cabai kering. "Rencana itu [membuat bubuk cabai kering] sudah terpikir tetapi belum dilakukan. Yang sudah dilakukan adalah pelatihan untuk pembuatan sambal agar awet dan dijual," katanya. Namun pelatihan itu belum menyentuh petani tetapi baru para pelaku usaha makanan. "Asumsinya bahan baku ambil dari petani bisa lebih banyak," kata dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online